Mengukur viskositas slurry mineral merupakan tantangan yang sering dihadapi para engineer di industri pertambangan dan pengolahan mineral. Partikel abrasif, perilaku fluida non-Newtonian, serta kecenderungan sedimentasi yang tinggi membuat pemilihan metode pengukuran menjadi keputusan kritis yang berdampak langsung pada desain perpipaan, efisiensi flotasi, dan biaya operasional. Dua metode utama yang umum digunakan adalah rotational viscometer dan capillary viscometer, masing-masing dengan kelebihan dan keterbatasan yang signifikan.
Artikel ini menyajikan perbandingan komprehensif antara kedua metode tersebut, didukung data riset dari universitas dalam negeri (Universitas Diponegoro dan Universitas Nusa Cendana) serta tinjauan internasional dari jurnal bereputasi. Pembahasan mencakup prinsip kerja, faktor-faktor yang mempengaruhi akurasi, tantangan spesifik pada slurry abrasif, dan rekomendasi praktis untuk memilih viscometer yang tepat sesuai kebutuhan industri pertambangan Indonesia.
- Mengapa Pengukuran Viskositas Slurry Mineral Penting untuk Industri Pertambangan?
- Memahami Karakteristik Rheologi Slurry Mineral
- Prinsip Kerja dan Aplikasi Rotational Viscometer
- Prinsip Kerja dan Keterbatasan Capillary Viscometer
- Perbandingan Langsung: Rotational vs Capillary Viscometer untuk Slurry Mineral
- Tantangan Pengukuran pada Slurry Abrasif dan Sedimentasi: Solusi Praktis
- Rekomendasi untuk Industri Pertambangan Indonesia
- Kesimpulan
- Referensi
Mengapa Pengukuran Viskositas Slurry Mineral Penting untuk Industri Pertambangan?
Viskositas slurry mineral bukan sekadar parameter laboratorium—ia adalah data esensial yang mempengaruhi hampir seluruh aspek operasi pengolahan mineral. Tim peneliti dari Central South University dan BGRIMM Technology Group dalam ulasan mereka di jurnal MDPI Minerals menegaskan bahwa pemahaman rheologi slurry sangat krusial untuk meningkatkan efisiensi proses grinding dan flotasi [1]. Tanpa data viskositas yang akurat, desain sistem perpipaan, pemilihan pompa, dan pengelolaan kolam pengendapan akan menjadi tidak optimal.
Selain itu, penelitian dari Universitas Nusa Cendana (UNDANA) tentang sedimentasi slurry pencucian bijih mangan menunjukkan bahwa viskositas fluida secara langsung mempengaruhi laju pengendapan partikel. Data lapangan dari tambang PT. ANS mengungkapkan bahwa kecepatan pengendapan menurun dari 0,032 cm/s pada awal operasi menjadi 0,0035 cm/s setelah 7 jam produksi akibat peningkatan konsentrasi padatan yang mengubah viskositas slurry [2]. Informasi ini sangat penting untuk menentukan waktu pengerukan lumpur dan penambahan air pada kolam pengendapan.
Dampak Viskositas pada Desain Perpipaan dan Transportasi Slurry
Dalam industri pertambangan, slurry mineral umumnya bersifat non-Newtonian dengan perilaku shear-thinning (pseudoplastik). Artinya, viskositas semu (apparent viscosity) menurun seiring peningkatan shear rate. Fenomena ini harus diperhitungkan dalam desain perpipaan karena pressure drop dan kebutuhan daya pompa sangat bergantung pada viskositas aktual pada kondisi operasi. Studi yang dilakukan Cruz et al. (2019) memberikan tinjauan kritis tentang bagaimana data rheologi slurry, termasuk viskositas dan yield stress, digunakan untuk mengoptimalkan desain sistem transportasi slurry di pabrik pengolahan mineral 3]. Data dari [rotational viscometer yang mampu mengukur pada berbagai shear rate memberikan informasi yang jauh lebih akurat untuk perhitungan ini dibandingkan pengukuran tunggal pada capillary viscometer.
Peran Viskositas dalam Proses Flotasi dan Pengendapan
Viskositas slurry juga mempengaruhi kinerja proses flotasi. Semakin tinggi viskositas, semakin besar gaya drag yang bekerja pada gelembung udara, sehingga mengurangi efisiensi pengangkatan partikel mineral berharga. Data dari MDPI Minerals review menunjukkan bahwa rheologi slurry yang tepat dapat meningkatkan recovery mineral hingga signifikan [1]. Di sisi lain, proses pengendapan di thickener sangat dipengaruhi oleh viskositas. Penelitian UNDANA pada slurry mangan membuktikan bahwa semakin tinggi konsentrasi padatan (dan viskositas yang menyertainya), terjadi hindered settling yang memperlambat laju pengendapan [2]. Hal ini berdampak pada kebutuhan luas area kolam pengendapan dan waktu tinggal slurry.
Memahami Karakteristik Rheologi Slurry Mineral
Sebelum membandingkan metode pengukuran, penting untuk memahami karakteristik rheologi slurry mineral. Sebagian besar slurry mineral bersifat non-Newtonian dengan perilaku shear-thinning, di mana viskositas menurun dengan meningkatnya shear rate. Penelitian dari Universitas Diponegoro (UNDIP) dan LAPAN pada slurry propelan menggunakan rotational viscometer Brookfield DV3T HA menunjukkan bahwa indeks alir (n) berada pada rentang 0,1535 – 0,5128, yang mengonfirmasi perilaku pseudoplastik (n<1) [4]. Koefisien konsistensi (K) yang diperoleh melalui persamaan Power Law berkisar antara 2,1148 hingga 2,2877, dan meningkat saat suhu menurun.
Selain itu, ulasan dari MDPI Minerals mengklasifikasikan bentuk partikel dalam slurry mineral menjadi tiga tipe: globule (mineral silikat bulat), lamellar/platy (talc, grafit, mika), dan fibrous (chrysotile, serpentine) [1]. Masing-masing bentuk partikel ini mempengaruhi rheologi secara berbeda—partikel lamellar cenderung meningkatkan viskositas dan yield stress akibat gesekan antar permukaan datar.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Viskositas Slurry
Beberapa faktor utama yang mempengaruhi viskositas slurry mineral meliputi:
- Konsentrasi padatan: Semakin tinggi fraksi massa padatan, semakin besar viskositas. Pada konsentrasi tinggi, partikel saling berinteraksi dan membentuk struktur yang meningkatkan resistensi terhadap aliran.
- Ukuran dan distribusi partikel: Partikel yang lebih halus (misalnya clay mineral berukuran <10 μm) menghasilkan viskositas lebih tinggi karena luas permukaan spesifik yang besar. Distribusi ukuran yang lebar (polydisperse) juga mempengaruhi rheologi.
- Suhu: Seperti ditunjukkan dalam riset UNDIP, viskositas menurun dengan kenaikan suhu dan meningkat dengan bertambahnya waktu curing [4]. Kontrol suhu menjadi kritis untuk pengukuran yang akurat.
- pH dan komposisi kimia: Adanya koagulan atau flokulan dapat mengubah struktur partikel dan viskositas secara drastis.
Model Matematika untuk Slurry Non-Newtonian: Power Law, Herschel-Bulkley, Bingham Plastic
Untuk menggambarkan perilaku aliran slurry non-Newtonian, beberapa model matematika digunakan:
- Power Law (Ostwald–de Waele): $\tau = K \cdot \dot{\gamma}^n$, dengan $\tau$ = shear stress, $\dot{\gamma}$ = shear rate, $K$ = koefisien konsistensi, $n$ = indeks alir. Untuk slurry shear-thinning, $n<1$.
- Herschel-Bulkley: $\tau = \tau_0 + K \cdot \dot{\gamma}^n$, menambahkan yield stress $\tau_0$ yang harus dilampaui agar aliran terjadi. Cocok untuk slurry dengan struktur gel.
- Bingham Plastic: $\tau = \tau_0 + \eta_p \cdot \dot{\gamma}$, dengan viskositas plastis $\eta_p$ konstan setelah yield stress terlewati. Sering digunakan untuk lumpur pengeboran.
Pemilihan model yang tepat bergantung pada karakteristik spesifik slurry. Data eksperimen dari rotational viscometer pada berbagai shear rate memungkinkan fitting model yang akurat, sedangkan capillary viscometer yang hanya memberikan satu titik data (kinematic viscosity) tidak cukup untuk karakterisasi non-Newtonian.
Prinsip Kerja dan Aplikasi Rotational Viscometer
Rotational viscometer bekerja dengan prinsip memutar spindle (rotor) dalam fluida dan mengukur torsi yang dihasilkan dari resistensi fluida terhadap putaran spindle. Torsi ini sebanding dengan viskositas dinamis fluida. Keunggulan utama metode ini adalah kemampuannya mengukur pada berbagai shear rate (dengan mengubah kecepatan putaran spindle), sehingga sangat cocok untuk fluida non-Newtonian seperti slurry mineral.
Ulasan dari MDPI Minerals secara eksplisit menyatakan, “For industrial slurry, the rotational viscometer has been proven to better suit than the capillary viscometer for its measurement principle” [1]. Meskipun demikian, rotational viscometer juga memiliki keterbatasan, yaitu hanya dapat melakukan pengukuran pada beberapa nilai shear rate tetap (biasanya 4 hingga 6 nilai), bukan sweep kontinu seperti pada rheometer.
Rotational Viscometer NDJ-8S: Spesifikasi dan Keunggulan untuk Slurry
Salah satu model rotational viscometer yang populer di laboratorium Indonesia adalah NDJ-8S. Alat ini memiliki rentang ukur 1~2.000.000 cP (1~2×10⁶ mPa·s), dilengkapi 8 kecepatan (0,3; 0,6; 1,5; 3; 6; 12; 30; 60 RPM), 4 spindle standar (L1-L4), dan akurasi ±2% untuk fluida Newtonian pada full scale, dengan repeatability ±0,5% 5]. [NDJ-8S cocok untuk aplikasi kontrol kualitas di laboratorium pengolahan mineral, terutama untuk slurry dengan tingkat abrasivitas sedang. Untuk slurry yang lebih abrasif, spindle berbahan stainless steel 316L atau tungsten carbide dapat digunakan untuk memperpanjang umur pakai.
NDJ-8S tersedia di Indonesia melalui distributor seperti CV. Java Multi Mandiri dengan harga sekitar Rp23 juta, menjadikannya pilihan ekonomis untuk laboratorium skala kecil hingga menengah.
Prinsip Kerja dan Keterbatasan Capillary Viscometer
Capillary viscometer (seperti Ostwald dan Ubbelohde) mengukur viskositas kinematik dengan cara mengukur waktu alir volume fluida tertentu melalui pipa kapiler yang panjangnya telah diketahui. Prinsipnya didasarkan pada hukum Poiseuille: $\nu = k \cdot t$, di mana $\nu$ = viskositas kinematik, $k$ = konstanta kalibrasi, $t$ = waktu alir. Metode ini sederhana, murah, dan sangat akurat untuk fluida Newtonian.
Namun, untuk slurry mineral, capillary viscometer memiliki keterbatasan serius. Pertama, kapiler sempit mudah tersumbat oleh partikel padat, terutama jika ukuran partikel mendekati diameter kapiler. Kedua, metode ini tidak dapat mengontrol shear rate, sehingga hanya memberikan satu nilai viskositas pada kondisi aliran tertentu—tidak cukup untuk karakterisasi fluida non-Newtonian. Ketiga, partikel yang cenderung mengendap selama pengukuran akan mengubah konsentrasi slurry dan menghasilkan data yang tidak representatif.
Mengapa Capillary Viscometer Kurang Cocok untuk Slurry Non-Newtonian dan Abrasif?
Penelitian UNDANA pada slurry mangan menggunakan capillary viscometer dengan protokol yang sangat hati-hati untuk meminimalkan sedimentasi. Meskipun berhasil, studi tersebut mengakui bahwa pengukuran memerlukan kontrol ketat terhadap waktu dan homogenitas sampel [2]. Dalam konteks industri pertambangan yang membutuhkan pengukuran cepat dan berulang, pendekatan ini tidak praktis.
MDPI Minerals review menegaskan bahwa capillary viscometer hanya cocok untuk fluida Newtonian di bawah kondisi ideal [1]. Untuk slurry non-Newtonian dan abrasif, keausan kapiler akibat partikel keras seperti silika dan kuarsa menjadi masalah tambahan. Model keausan abrasi pada pipa slurry silika menunjukkan bahwa laju penipisan dinding pipa dapat signifikan, menyebabkan perubahan diameter kapiler dan kesalahan pengukuran yang progresif [6].
Perbandingan Langsung: Rotational vs Capillary Viscometer untuk Slurry Mineral
Berikut adalah perbandingan komprehensif antara kedua metode berdasarkan berbagai parameter kritis untuk aplikasi slurry mineral:
Tabel Perbandingan Rotational vs Capillary Viscometer
| Parameter | Rotational Viscometer (NDJ-8S) | Capillary Viscometer (Ostwald/Ubbelohde) |
|---|---|---|
| Akurasi | ±2% (Newtonian FS) | ±1% (Newtonian, kondisi ideal) |
| Repeatability | ±0,5% | ±0,2% |
| Rentang Viskositas | 1–2.000.000 cP (dinamis) | Maks ~100.000 mm²/s (kinematik) |
| Kontrol Shear Rate | Ya, multi kecepatan (8 RPM) | Tidak, shear rate tunggal |
| Cocok untuk Fluida Non-Newtonian | Ya | Tidak |
| Cocok untuk Slurry Abrasif | Sedang (dengan spindle tahan abrasi) | Tidak (risiko penyumbatan & keausan) |
| Kemudahan Pembersihan | Sedang (spindle dapat dilepas) | Sulit (kapiler rawan tersumbat) |
| Waktu Pengukuran | 1–5 menit per sampel | 5–30 menit (tergantung viskositas) |
| Volume Sampel | 300–500 ml (standar) | 10–50 ml |
| Biaya (perkiraan) | Rp20–25 juta (NDJ-8S) | Rp5–15 juta (set kapiler) |
| Ketahanan Abrasi | Spindle stainless steel 316L | Kaca borosilikat rapuh |
Data di atas mengonfirmasi bahwa rotational viscometer lebih unggul dalam fleksibilitas untuk slurry non-Newtonian dan abrasif, meskipun capillary viscometer memiliki keunggulan dalam biaya dan akurasi untuk fluida Newtonian sederhana.
Kapan Menggunakan Rotational Viscometer? Kapan Memilih Capillary?
Berdasarkan analisis komparatif, panduan pemilihannya adalah:
- Rotational viscometer direkomendasikan untuk:
- Slurry mineral dengan perilaku non-Newtonian (shear-thinning, yield stress).
- Slurry abrasif dengan kandungan partikel padat tinggi (misalnya nikel laterit, bauksit, pasir besi).
- Aplikasi kontrol kualitas yang memerlukan data pada berbagai shear rate.
- Pengukuran di lingkungan pabrik yang membutuhkan ketahanan dan kemudahan pembersihan.
- Capillary viscometer hanya cocok untuk:
- Fluida Newtonian murni (air, minyak ringan, pelarut).
- Slurry dengan kandungan padatan sangat rendah dan partikel sangat halus (<1 μm) tanpa risiko penyumbatan.
- Laboratorium penelitian yang membutuhkan akurasi tinggi untuk fluida ideal.
Sebagaimana dinyatakan dalam riset UNDIP, penggunaan rotational viscometer (Brookfield DV3T) berhasil mengkarakterisasi slurry propelan non-Newtonian dengan baik, menghasilkan data Power Law yang andal [4]. Hal yang sama berlaku untuk slurry mineral di Indonesia.
Tantangan Pengukuran pada Slurry Abrasif dan Sedimentasi: Solusi Praktis
Dua tantangan utama dalam pengukuran viskositas slurry mineral adalah abrasivitas partikel dan sedimentasi yang cepat. Kedua masalah ini dapat menyebabkan kerusakan alat, data tidak akurat, dan biaya perawatan tinggi.
Strategi Mitigasi Keausan Akibat Partikel Abrasif
Partikel keras seperti silika (SiO₂) dan kuarsa dapat mengikis permukaan spindle atau kapiler dalam waktu singkat. Riset pemodelan abrasi pada pipa slurry silika menunjukkan bahwa laju keausan bergantung pada konsentrasi padatan, kecepatan aliran, dan sudut impingement [6]. Untuk viscometer, solusi mitigasi meliputi:
- Pemilihan material: Gunakan spindle berbahan stainless steel 316L atau tungsten carbide untuk ketahanan abrasi lebih tinggi.
- Pelindung spindle (spindle guard): Mengurangi kontak langsung partikel dengan spindle.
- Sensor inline tanpa bagian bergerak: Teknologi seperti Rheonics SlurryTrack dengan sensor self-cleaning (CleanWave™) dirancang khusus untuk aplikasi slurry abrasif dan mampu beroperasi secara real-time tanpa moving parts [7].
- Perawatan terjadwal: Inspeksi visual spindle secara berkala untuk mendeteksi keausan, dan kalibrasi ulang jika diperlukan.
Mengatasi Sedimentasi untuk Pengukuran yang Akurat
Sedimentasi partikel berat selama pengukuran menyebabkan konsentrasi slurry berubah secara lokal, menghasilkan data viskositas yang tidak representatif. Penelitian UNDANA menunjukkan bahwa kecepatan pengendapan partikel mangan bervariasi dari 0,032 cm/s hingga 0,0035 cm/s tergantung konsentrasi padatan [2].
Solusi praktis untuk mengurangi efek sedimentasi:
- Gunakan small sample adapter: Volume sampel lebih kecil (misalnya 10–20 ml) mengurangi jarak vertikal yang ditempuh partikel, sehingga sedimentasi lebih lambat.
- Agitasi terkontrol: Pengadukan lembut selama pengukuran (jika viscometer memungkinkan) menjaga partikel tetap tersuspensi. Beberapa rotational viscometer dilengkapi aksesori pengaduk.
- Lakukan pengukuran segera setelah sampling: Semakin cepat pengukuran dilakukan, semakin sedikit waktu bagi partikel untuk mengendap.
- Optimalkan shear rate: Menggunakan shear rate yang lebih tinggi dapat membantu mempertahankan partikel dalam suspensi, tetapi harus disesuaikan dengan karakteristik non-Newtonian slurry.
Pendekatan loop test menggunakan pompa sirkulasi, seperti yang dibahas dalam studi evaluasi teknik pengukuran rheologi untuk transportasi paste backfill tambang, dapat memberikan data yang lebih representatif karena slurry tetap dalam kondisi mengalir selama pengukuran [8].
Rekomendasi untuk Industri Pertambangan Indonesia
Berdasarkan analisis di atas, berikut adalah rekomendasi spesifik untuk memilih viscometer bagi berbagai jenis mineral tambang di Indonesia:
Model Viscometer yang Direkomendasikan dan Analisis Biaya
| Model | Rentang Viskositas | Keunggulan | Biaya Perkiraan | Cocok untuk |
|---|---|---|---|---|
| NDJ-8S (Rotational) | 1–2.000.000 cP | Ekonomis, multi shear rate, mudah digunakan | ~Rp23 juta | Lab kontrol kualitas, slurry non-Newtonian dengan abrasi sedang |
| Viscolite d21 (Vibrational) | 0–10.000 cP | Portabel, tidak ada moving parts, tahan abrasi | ~$6.669 (Rp100+ juta) | Pengukuran on-site, slurry abrasif, real-time monitoring |
| Fann 35 (Rotational Couette) | 1–300.000 cP | Standar industri fluida pengeboran, kokoh | ~$5.000–$20.000 | Fluida pengeboran, slurry bubur bor |
Untuk industri pengolahan mineral di Indonesia—seperti pengolahan nikel laterit, bauksit, mangan, dan batubara—rotational viscometer tipe NDJ-8S merupakan pilihan paling cost-effective untuk laboratorium pabrik. Alat ini sudah banyak tersedia melalui distributor lokal dengan dukungan teknis yang memadai. Untuk aplikasi yang memerlukan pemantauan real-time atau berlokasi di lapangan tambang, Viscolite d21 atau sensor inline vibrational bisa menjadi investasi yang bernilai.
Studi kasus: Perusahaan tambang mangan seperti PT. ANS yang berlokasi di NTT dapat memanfaatkan rotational viscometer sebagai alternatif capillary viscometer untuk mengatasi masalah sedimentasi. Data dari penelitian UNDANA menunjukkan bahwa sedimentasi partikel mangan cukup signifikan, sehingga metode rotational yang memungkinkan pengukuran cepat dengan shear rate terkontrol akan menghasilkan data yang lebih andal [2].
Kesimpulan
Pemilihan antara rotational viscometer dan capillary viscometer untuk pengukuran viskositas slurry mineral harus didasarkan pada karakteristik spesifik slurry dan kebutuhan operasional. Rotational viscometer—seperti NDJ-8S—terbukti lebih unggul untuk menangani slurry non-Newtonian, abrasif, dan rentan sedimentasi yang umum ditemui di industri pertambangan Indonesia. Keunggulannya dalam kontrol shear rate, kemudahan pembersihan, dan ketahanan terhadap partikel padat menjadikannya pilihan utama untuk kontrol kualitas dan optimasi proses.
Capillary viscometer masih relevan untuk fluida Newtonian viskositas rendah-sedang dengan partikel minimal, namun penggunaannya pada slurry mineral memerlukan protokol khusus yang seringkali tidak praktis untuk lingkungan pabrik.
Dengan mempertimbangkan faktor biaya, ketersediaan lokal, dan kebutuhan data multi-shear rate untuk karakterisasi non-Newtonian, kami merekomendasikan rotational viscometer sebagai investasi strategis bagi laboratorium pertambangan dan pengolahan mineral di Indonesia.
Sebagai perusahaan supplier dan distributor alat ukur dan instrumentasi untuk kebutuhan industri, CV. Java Multi Mandiri berkomitmen mendukung optimalisasi operasi bisnis Anda melalui penyediaan alat ukur viskositas berkualitas. Kami menyediakan berbagai pilihan rotational viscometer digital, termasuk NDJ-8S, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pengukuran slurry mineral di lingkungan industri. Hubungi tim kami untuk konsultasi solusi bisnis dan diskusikan kebutuhan perusahaan Anda dalam memilih alat ukur yang tepat sesuai dengan karakteristik slurry dan anggaran operasional.
Rekomendasi Digital viscometer
-

Atago Digital Viscometer VISCO™ Package B
Lihat produk★★★★★ -

Atago Digital viscometer VISCO™ Package E
Lihat produk★★★★★ -

Atago Digital viscometer VISCO™-895 Package E
Lihat produk★★★★★ -

Atago Digital viscometer VISCO™ Package A
Lihat produk★★★★★ -

Atago Digital Viscometer VISCO™-895 Package B
Lihat produk★★★★★ -

Atago Digital viscometer VISCO™B (L)
Lihat produk★★★★★ -

Atago Digital viscometer VISCO™-895 VISCO Package A
Lihat produk★★★★★ -

Atago Digital Viscometer VISCO™
Lihat produk★★★★★
Disclaimer: This article provides technical guidance for educational purposes. Specific instrument selection should be validated with manufacturer specifications and site conditions.
Referensi
- Zeng, G., Zhu, Y., & Chen, W. (2023). A Brief Review of Micro-Particle Slurry Rheological Behavior in Grinding and Flotation for Enhancing Fine Mineral Processing Efficiency. Minerals, 13(6), 792. DOI: 10.3390/min13060792
- Rumbino, Y., & Abigael, K. (2020). Penentuan Laju Pengendapan Partikel di Kolam Penampungan Air Hasil Pencucian Bijih Mangan. Jurnal Ilmiah Teknologi FST Undana, 14(2), 1-8. Retrieved from ejurnal.undana.ac.id
- Cruz, N., Forster, J., & Bobicki, E. R. (2019). Slurry rheology in mineral processing unit operations: A critical review. The Canadian Journal of Chemical Engineering, 97(8), 2102–2120. DOI: 10.1002/cjce.23435
- Ardianingsih, R., & Kumoro, A. C. (2019). Analisis Viskositas Slurry Propelan Untuk Akurasi Karakterisasi Rheologi Berbasis Perekat Hydroxy Terminated Polybutadiene Dengan Plasticizer Dioctyl Adipate. TEKNIK, 40(2), 99-107. DOI: 10.14710/teknik.v40i2.27209
- Drawell Analytical. (2022). User Manual NDJ-5S/NDJ-8S Viscometer. Retrieved from drawellanalytical.com
- Prosiding BKSTM. (2007). Pemodelan Laju Keausan Abrasi pada Pipa Slurry Silika. Retrieved from prosiding.bkstm.org
- Rheonics. (n.d.). SlurryTrack – Inline Slurry Density and Viscosity Sensor. Retrieved from rheonics.com
- Zhao, J., et al. (2022). Evaluation of Rheology Measurements Techniques for Pressure Loss in Mine Paste Backfill Transportation. Minerals, 12(6), 678. DOI: 10.3390/min12060678






