Tanah Yang Cocok Untuk Pertanian

Tanah Yang Cocok Untuk Pertanian – Sebagai roda penggerak ekonomi negara, sektor pertanian di Indonesia masih terbilang menjadi aspek yang penting. Hal ini dikarenakan setelah industri pengolahan, pertanian dari segi produksi menjadi sektor kedua paling berpengaruh. Selain itu, dibanding sektor lainnya seperti sektor perdagangan dan sektor konstruksi, sektor pertanian masih berada di posisi teratas. Dengan demikian, sektor pertanian dapat membawa citra Indonesia di mata dunia sebagai negara agraris yang cukup produktif.

Beberapa Tanah Yang Cocok Dan Baik Untuk Pertanian

Pertanian di Indonesia didukung oleh kondisi iklim, sumber daya alam dan juga sumber daya manusianya. Dalam hal menentukan tanaman, cuaca, masa panen dan pasca panen, masih banyak petani masih memegang dan menggunakan cara-cara konvensional. Cara tersebut memang telah ada sejak dahulu dan dilakukan secara turun temurun hingga saat ini.

Menilik besarnya perkembangan pertanian di Indonesia, menjadi sebuah potensi yang harus dimaksimalkan oleh semua pihak, baik itu oleh pemerintah, petani, maupun pelaku dalam bidang pertanian lainnya. Dengan cara pembinaan kepada kelompok tani dan memberikan berbagai produk pertanian terbaik seperti pupuk, bibit unggul, dll merupakan dukungan yang dapat dilakukan dari pemerintah.

Tanah Yang Cocok Untuk Pertanian

Tanah adalah salah satu bagian dari kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah tercipta melalui proses pelapukan batuan maupun sisa tumbuhan dalam jangka waktu yang sangat lama, oleh sebab itu tanah tidak tercipta dengan sendirinya.

Dalam pembentukan tanah, banyak faktor yang mempengaruhinya seperti waktu, iklim, bahan induk hingga organisme yang berperan didalamnya. Faktor-faktor itulah yang nantinya akan membuat sifat masing-masing dari jenis tanah yang berbeda.

1. Tanah Regosol

Tanah regosol ini memiliki tekstur kasar dan berbahan organik rendah. Hal tersebut dikarenakan tanah jenis ini terbentuk dari material yang dikeluarkan letusan gunung berapi yang belum mengalami perkembangan sempurna.

Sifat itu juga yang membuat tanah tidak dapat menampung air dan mengandung mineral yang dibutuhkan tanaman dengan baik. Tanah regosol lebih cocok untuk tanaman yang tidak membutuhkan banyak air seperti palawija. Tanah ini dapat Anda jumpai di Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara. 

2. Tanah Litosol

Karena sama-sama terbentuk dari aktivitas gunung Merapi, tanah jenis litosol ini hampir mirip dengan tanah regosol. Tanah ini rentan terhadap erosi dan memiliki kedalaman yang dangkal.

Tanah ini juga memiliki kandungan bahan organik yang masih rendah. Tanah litosol cocok untuk tanaman keras seperti palawija juga. Tanah ini dapat ditemui di Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, Maluku Selatan dan Papua.

3. Tanah Latosol

Jenis tanah latosol ini terbentuk dari pelapukan batuan metamorf dan sedimen. Tanah ini sebagian besar berkembang dan terbentuk di daerah yang lembab. Tanah ini juga memiliki kandungan bahan organik yang bisa berubah-ubah dari sedang hingga tinggi. 

Sifat lain dari tanah latosol ini yaitu bisa menyerap air dengan baik sehingga dapat menahan erosi dan cocok untuk tanaman seperti karet, kakao, kopi dan tebu. Tanah ini bisa ditemui di Jawa, Sumatera, Bali dan Sulawesi.

4. Tanah Organosol

Tanah organosol umum dijumpai di daerah yang banyak tergenang air atau daerah rawa. Tanah ini terbentuk dari pelapukan bahan organik dan terbagi menjadi dua macam, yakni tanah gambut dan tanah humus.

Tanah gambut terbentuk dari hasil pembusukan bahan organik. Pada tanah gambut ini, proses pembusukan bahan organik berlangsung dalam keadaan tergenang sehingga tanah menjadi terlalu masam dan anaerob sehingga menjadikan gambut tidak sesubur humus. Tanah gambut ini cocok untuk tanaman kelapa sawit.

Sedangkan, tanah humus merupakan tanah hasil pelapukan bahan organik terutama dari tanaman yang sudah mati. Karena memiliki kandungan bahan organik tinggi, tanah humus ini sangat subur untuk pertanian dan cocok untuk tanaman padi, nanas, kelapa, dll. Warna tanah ini hitam.

5. Tanah Grumusol

Dari ketinggian yang tidak lebih dari 300 meter diatas permukaan laut dengan topografi yang berbukit, tanah jenis grumosol ini terbentuk. Tanah ini akan pecah-pecah ketika kering dan menjadi sangat lekat ketika basah.

Tanah ini dapat menyimpan hara yang dibutuhkan tanaman dan kemampuan tinggi dalam menyerap air. Rumput-rumputan dan jati menjadi tanaman yang cocok menggunakan tanah grumusol ini. Tanah ini tersebar di di Jawa, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

My Cart (0 items)

No products in the cart.