Panduan Lengkap Monitoring Suhu Tangki BBM dan Menjaga Kualitas Bahan Bakar

Arduino and temperature sensors monitoring a fuel storage tank on a technician's workbench with technical schematics.

Dalam operasional SPBU, depot, atau fasilitas industri, tangki penyimpanan BBM lebih dari sekadar wadah. Ia adalah garis pertahanan pertama dalam menjaga integritas produk yang bernilai tinggi. Fluktuasi suhu di dalam tangki—yang sering diabaikan—dapat menjadi sumber kerugian finansial yang signifikan dan gangguan operasional. Penguapan yang tidak terkontrol, perubahan viskositas bahan bakar, dan akumulasi kondensasi air adalah masalah nyata yang secara langsung mempengaruhi kualitas bahan bakar, efisiensi mesin pelanggan, dan kepatuhan terhadap standar keamanan.

Artikel ini hadir sebagai panduan komprehensif berbasis penelitian dan regulasi untuk mengatasi tantangan tersebut. Kami akan membedah mengapa monitoring suhu bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan operasional yang kritis. Lebih lanjut, kami akan memandu Anda melalui berbagai teknologi monitoring, dari alat manual hingga sistem otomatis berbasis Arduino yang terjangkau, serta menghubungkan data suhu dengan parameter kualitas bahan bakar yang terukur. Dengan menyajikan solusi praktis untuk masalah penguapan dan kondensasi, panduan ini dirancang untuk membantu teknisi, operator, dan manajer fasilitas penyimpanan BBM mengoptimalkan operasi, meminimalkan kerugian, dan menjamin kualitas produk akhir.

  1. Mengapa Monitoring Suhu Tangki BBM Sangat Penting?
    1. Pengaruh Suhu terhadap Penguapan Bahan Bakar dan Kerugian Volume
    2. Kaitan Suhu dengan Viskositas dan Performa Mesin
    3. Masalah Kondensasi Air: Penyebab, Dampak, dan Risiko Korosi
  2. Teknologi dan Metode Monitoring Suhu Tangki BBM
    1. Alat Ukur Manual: Hidrometer dan Termometer Konvensional
    2. Sistem Monitoring Otomatis Berbasis Arduino dan Sensor LM35
    3. Panduan Pemilihan Teknologi: Manual vs Otomatis
  3. Parameter Kualitas BBM dan Batas Aman Suhu Penyimpanan
    1. Parameter Kritis yang Dipantau: Viskositas, Flash Point, dan Kandungan Air
    2. Standar Nasional dan Internasional untuk Penyimpanan BBM yang Aman
  4. Solusi Praktis untuk Masalah Penguapan dan Kondensasi Air
    1. Strategi Minimalkan Penguapan: Insulasi, Cat Reflektif, dan Manajemen Inventori
    2. Cara Mencegah dan Menangani Kondensasi Air dalam Tangki
  5. Membangun Sistem Monitoring yang Efektif: Langkah Implementasi
  6. Kesimpulan
  7. Referensi

Mengapa Monitoring Suhu Tangki BBM Sangat Penting?

Ketidakstabilan suhu dalam tangki penyimpanan BBM bukanlah gangguan kecil; ia adalah akar dari tiga masalah operasional utama yang langsung berimbas pada efisiensi dan profitabilitas. Tanpa pemantauan yang memadai, fluktuasi suhu dapat memicu penguapan bahan bakar berlebih, mengubah karakteristik aliran bahan bakar (viskositas), dan menciptakan kondisi ideal untuk terbentuknya kondensasi air. Setiap masalah ini membawa konsekuensi langsung: kehilangan volume produk, penurunan performa mesin pengguna, potensi kerusakan peralatan, dan pelanggaran terhadap standar kualitas. Dalam konteks bisnis, hal ini diterjemahkan menjadi kerugian pendapatan, meningkatnya biaya perawatan, dan risiko terhadap reputasi.

Ahli konversi energi dari Institut Teknologi Bandung, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menegaskan bahwa penguapan bahan bakar adalah fenomena alamiah yang harus dikelola dengan standarisasi batasan yang jelas [1]. Standar internasional seperti ASTM D5191-19 pun telah ditetapkan khusus untuk mengukur tekanan uap (Reid Vapor Pressure/RVP) bahan bakar secara akurat [2], menunjukkan betapa seriusnya dunia industri memperhatikan isu ini. Untuk memahami dampak luasnya, mari kita bahas ketiga masalah inti tersebut secara mendetail.

Pengaruh Suhu terhadap Penguapan Bahan Bakar dan Kerugian Volume

Penguapan terjadi ketika molekul di permukaan cairan BBM mendapatkan energi kinetik yang cukup dari panas untuk lepas ke fase gas. Dalam tangki penyimpanan, faktor utama pemicunya adalah peningkatan suhu lingkungan dan karakteristik tekanan uap intrinsik bahan bakar itu sendiri. Semakin tinggi suhu tangki—akibat paparan sinar matahari atau suhu udara sekitar—semakin tinggi laju penguapan. Kerugian volume ini bukan hanya tentang bahan bakar yang “hilang”; uap yang terlepas ini juga dapat terbuang ke atmosfer melalui sistem ventilasi atau, dalam sistem tertutup, meningkatkan tekanan internal tangki yang berpotensi menimbulkan risiko.

Untuk operasi skala industri seperti SPBU atau depot, kehilangan 0.5% hingga 1% volume akibat penguapan dapat menghasilkan kerugian finansial yang besar dalam setahun. Selain itu, penguapan yang berlebihan dapat mengubah komposisi bahan bakar yang tersisa, berpotensi menurunkan nilai oktan atau cetane, yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas produk yang dijual kepada pelanggan. Sebuah artikel dari Kompas Otomotif juga menggarisbawahi bahwa penyimpanan BBM yang salah, termasuk pada suhu tinggi, dapat mempercepat penurunan kualitas bahan bakar [3].

Kaitan Suhu dengan Viskositas dan Performa Mesin

Viskositas, atau kekentalan fluida, adalah parameter kritis untuk kinerja mesin yang optimal, terutama untuk mesin diesel. Hubungan antara suhu dan viskositas bersifat terbalik: saat suhu naik, viskositas turun, dan sebaliknya. Data dari penelitian yang dilakukan di Universitas Negeri Semarang (UNNES) memberikan gambaran yang jelas: viskositas bahan bakar Dexlite turun drastis dari 2,495 mm²/s pada 30°C menjadi hanya 0,953 mm²/s pada 80°C [4].

Ini bukan hanya angka di atas kertas. Viskositas di luar rentang optimal dapat mengganggu kinerja sistem injeksi bahan bakar modern yang presisi. Solar yang terlalu encer (viskositas rendah) dapat menyebabkan kebocoran pada pompa dan injector, mengurangi pelumasan yang menyebabkan keausan, serta menghasilkan semprotan bahan bakar yang tidak optimal sehingga pembakaran tidak sempurna. Sebaliknya, solar yang terlalu kental akan sulit dipompa dan disemprotkan, mengakibatkan pembakaran kasar dan asap hitam. Standar nasional yang ditetapkan Dirjen Migas menetapkan rentang viskositas kinematik solar pada 40°C adalah 2,0 – 4,5 mm²/s [5]. Monitoring suhu membantu memastikan bahan bakar disimpan pada kondisi yang menjaga viskositasnya mendekati rentang ideal ini. Standar pengujian internasional seperti yang dikeluarkan oleh ASTM memberikan metodologi yang diakui secara global untuk mengukur parameter ini [6].

Masalah Kondensasi Air: Penyebab, Dampak, dan Risiko Korosi

Kondensasi air dalam tangki BBM adalah musuh tak terlihat yang lahir dari fluktuasi suhu harian. Prosesnya sederhana: udara yang mengandung uap air terperangkap dalam ruang kosong (ullage) tangki. Saat malam hari suhu turun, udara tersebut mencapai titik embun dan uap air mengembun menjadi titik-titik cair di dinding dalam tangki yang lebih dingin. Masalah ini memburuk jika tangki sering dalam keadaan setengah kosong, karena volume udara (dan potensi uap air) yang lebih besar.

Dampaknya sangat merusak. Air dapat menyebabkan korosi mikrobiologis (Microbiologically Influenced Corrosion/MIC), di mana mikroba seperti bakteri dan jamur tumbuh di antarmuka air-bahan bakar, menghasilkan asam yang mengikis logam tangki [7]. Air juga dapat menyumbat filter, merusak pompa bahan bakar berpresisi tinggi, dan dalam mesin diesel, menyebabkan fenomena “water hammer” yang merusak injektor. Penelitian dari jurnal terapan migas juga menunjukkan bahwa pada biodiesel, kelembaban dapat mempercepat degradasi kualitas bahan bakar [7]. Oleh karena itu, mengontrol kondisi yang memicu kondensasi—termasuk dengan memantau dan meminimalkan fluktuasi suhu dalam tangki—adalah langkah pencegahan yang esensial.

Teknologi dan Metode Monitoring Suhu Tangki BBM

Memilih metode monitoring suhu yang tepat bergantung pada skala operasi, anggaran, dan tingkat akurasi yang dibutuhkan. Regulasi dari Ditjen Migas, sebagaimana tercantum dalam Keputusan Dirjen Nomor 409.K/10/DJM/2021, menekankan bahwa setiap tangki harus dilengkapi dengan “peralatan ukur isi tangki yang akurat” [8], yang mencakup aspek pengukuran kondisi seperti suhu. Dari alat manual sederhana hingga sistem otomatis canggih, berikut adalah teknologi yang umum digunakan di industri.

Alat Ukur Manual: Hidrometer dan Termometer Konvensional

Hidrometer dengan termometer terintegrasi (sering disebut hydrotermo) adalah alat standar di banyak SPBU. Alat ini berfungsi ganda: mengukur densitas (berat jenis) dan suhu sampel bahan bakar. Prinsip kerjanya berdasarkan hukum Archimedes; hidrometer akan tenggelam hingga kedalaman tertentu yang berbanding terbalik dengan densitas cairan, sementara termometer terintegrasi memberikan pembacaan suhu. Skala untuk bensin biasanya berada pada rentang 0.700-0.750.

Kelebihan utamanya adalah biaya awal rendah (dapat ditemukan di pasaran dengan harga sekitar Rp760.000) [9], kemudahan penggunaan, dan tidak memerlukan sumber daya listrik. Namun, metode ini memiliki kelemahan signifikan: bersifat point-in-time (tidak real-time), memerlukan intervensi manual yang konsisten, rentan terhadap kesalahan manusia (human error), dan hanya memberikan data dari sampel yang diambil, bukan dari keseluruhan volume tangki. Alat ini cocok sebagai alat verifikasi cadangan atau untuk fasilitas dengan turnover sangat tinggi di mana tangki jarang dalam kondisi penyimpanan jangka panjang.

Sistem Monitoring Otomatis Berbasis Arduino dan Sensor LM35

Untuk pemantauan berkelanjutan, akurat, dan jarak jauh, sistem otomatis berbasis mikrokontroler seperti Arduino menawarkan solusi yang efektif dan relatif terjangkau. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal JETri merancang sistem telemetri yang menggunakan Arduino Uno sebagai otak, sensor ultrasonik HC-SR04 untuk mengukur level, dan sensor suhu LM35 yang andal [10]. Sistem ini mengirimkan data secara wireless ke komputer pusat yang menampilkan informasi pada dashboard web, serta dapat dikonfigurasi untuk mengirim notifikasi peringatan via SMS Gateway ketika suhu atau level melewati ambang batas.

Tingkat error rata-rata sistem sejenis dalam pengujian dilaporkan mencapai 3,02% [10], sebuah angka yang cukup akurat untuk aplikasi industri. Implementasi serupa dari Universitas Tanjungpura juga menunjukkan efektivitas sistem berbasis mikrokontroler dan SMS untuk memantau parameter seperti suhu [11]. Keunggulan sistem ini adalah kemampuan real-time monitoring, pencatatan data otomatis (data logging) untuk analisis tren, serta pengurangan ketergantungan pada tenaga kerja untuk pengukuran rutin. Dengan berkembangnya teknologi IoT, sistem seperti ini dapat ditingkatkan dengan sensor yang lebih mutakhir seperti SHT20 atau DS18B20, serta platform cloud untuk akses yang lebih fleksibel. Sebuah publikasi ilmiah membahas lebih lanjut perkembangan sistem monitoring tangki berbasis IoT [12].

Panduan Pemilihan Teknologi: Manual vs Otomatis

Keputusan memilih teknologi harus didasarkan pada analisis kebutuhan dan kesesuaian (fitness for purpose). Berikut adalah perbandingan kunci untuk membantu pengambilan keputusan:

  • Biaya Awal: Manual (Rendah), Otomatis (Sedang hingga Tinggi).
  • Biaya Operasional & Perawatan: Manual (Rendah, hanya kalibrasi berkala), Otomatis (Sedang, termasuk maintenance sensor dan jaringan).
  • Akurasi dan Konsistensi: Manual (Tergantung operator, rentan variasi), Otomatis (Tinggi dan konsisten).
  • Frekuensi & Kelengkapan Data: Manual (Sesaat, sampel terbatas), Otomatis (Kontinu, data dari seluruh titik sensor).
  • Tenaga Kerja: Manual (Intensif, memerlukan jadwal rutin), Otomatis (Minimal, fokus pada analisis data).
  • Kesesuaian Regulasi: Keduanya dapat memenuhi syarat, asalkan alat terkalibrasi dan akurat. Sistem otomatis memberikan bukti dokumentasi yang lebih baik untuk audit.

Untuk fasilitas dengan banyak tangki, penyimpanan jangka panjang, atau yang memprioritaskan efisiensi operasional dan pencegahan kerugian, investasi dalam sistem otomatis biasanya memberikan Return on Investment (ROI) yang lebih cepat dan komprehensif.

Parameter Kualitas BBM dan Batas Aman Suhu Penyimpanan

Monitoring suhu hanya memberikan makna jika dikaitkan dengan parameter kualitas bahan bakar yang menjadi standar industri. Suhu penyimpanan secara langsung mempengaruhi parameter-parameter kritis ini, sehingga pemahaman mendalam tentang hubungan ini adalah kunci untuk menjaga kualitas produk.

Parameter Kritis yang Dipantau: Viskositas, Flash Point, dan Kandungan Air

  1. Viskositas Kinematik: Seperti telah dijelaskan, ini adalah ukuran kekentalan. Metode pengujian standar internasional adalah ASTM D445. Suhu referensi pengujian untuk solar adalah 40°C, dan nilai harus berada dalam rentang yang ditetapkan (misal: 2.0-4.5 mm²/s untuk solar CN 51) [5].
  2. Titik Nyala (Flash Point): Suhu terendah di mana uap bahan bakar dapat menyala saat diberi sumber api. Ini adalah parameter keselamatan penting yang menunjukkan mudah terbakarnya bahan bakar. Titik nyala yang terlalu rendah meningkatkan risiko kebakaran. Pengujiannya mengikuti standar seperti ASTM D93. Suhu penyimpanan yang tinggi dapat memengaruhi tekanan uap, meskipun titik nyala itu sendiri adalah sifat intrinsik.
  3. Kandungan Air dan Sedimen: Jumlah air dan padatan yang terkandung dalam bahan bakar. Air dapat berasal dari kondensasi atau kontaminasi. Kadar air yang tinggi mempercepat korosi dan pertumbuhan mikroba. Pengujian dapat dilakukan dengan metode ASTM D2709 atau menggunakan water finding paste. Monitoring suhu untuk mencegah kondensasi adalah kontrol preventif utama untuk parameter ini.

Penelitian dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo juga menunjukkan bahwa jenis bahan bakar yang berbeda (seperti Pertamax vs Premium) dapat mempengaruhi tingkat degradasi oli mesin [13], yang secara tidak langsung menunjukkan kompleksitas interaksi antara bahan bakar, suhu, dan komponen sistem.

Standar Nasional dan Internasional untuk Penyimpanan BBM yang Aman

Di Indonesia, pedoman utama berasal dari Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi. Keputusan Dirjen Migas Nomor 409.K/10/DJM/2021 tentang Pedoman Teknis Keselamatan Operasi SPBU adalah dokumen wajib [8]. Di dalamnya, diatur antara lain kewajiban memiliki peralatan ukur yang akurat, pemeriksaan rutin kadar air di setiap tangki, dan persyaratan konstruksi tangki.

Selain itu, standar kualitas produk juga terus berkembang. Pemerintah, melalui Kementerian ESDM, telah mengimplementasikan standar bahan bakar yang lebih bersih seperti Solar 51 setara Euro IV [14], yang memiliki spesifikasi parameter yang lebih ketat. Untuk konteks global, standar dari organisasi seperti ASTM International menjadi acuan dalam pengujian dan penentuan spesifikasi bahan bakar [6].

Praktik terbaik internasional dari perusahaan penyimpanan bahan bakar seperti Crown Oil juga menekankan pentingnya desain tangki yang tepat, sistem ventilasi yang memadai, inspeksi berkala, dan tentu saja, pemantauan kondisi yang konstan. Dokumen lengkap pedoman teknis SPBU dari Ditjen Migas dapat diakses sebagai sumber primer yang sangat penting.

Solusi Praktis untuk Masalah Penguapan dan Kondensasi Air

Setelah memahami masalah dan memantau suhu, langkah selanjutnya adalah menerapkan solusi praktis untuk memitigasi risiko penguapan dan kondensasi. Tindakan ini dapat bersifat teknis (fisik) maupun operasional.

Strategi Minimalkan Penguapan: Insulasi, Cat Reflektif, dan Manajemen Inventori

  • Insulasi Termal: Memberikan lapisan isolasi pada dinding tangki, terutama untuk tangki di atas permukaan (aboveground storage tank), dapat mengurangi penyerapan panas dari lingkungan luar dan menstabilkan suhu internal.
  • Cat Berwarna Terang/Reflektif: Mengecat tangki dengan warna putih atau silver yang memiliki emissivity rendah dapat memantulkan lebih banyak radiasi matahari, mengurangi pemanasan permukaan tangki hingga beberapa derajat Celsius.
  • Manajemen Inventori yang Cermat: Menerapkan prinsip First-In-First-Out (FIFO) memastikan bahan bakar tidak disimpan terlalu lama. Selain itu, menjaga tingkat pengisian tangki (tank fill level) setinggi mungkin secara aman akan meminimalkan volume ruang udara (vapor space), yang secara langsung mengurangi area tempat penguapan dan kondensasi dapat terjadi.

Cara Mencegah dan Menangani Kondensasi Air dalam Tangki

  • Drainase Berkala (Water Draw-Off): Setiap tangki penyimpanan harus memiliki titik drainase (biasanya di bagian paling bawah) untuk membuang air yang terkondensasi. Prosedur penarikan dan pembuangan air ini harus dilakukan secara rutin sesuai jadwal, sebagaimana juga dianjurkan dalam pedoman teknis SPBU [8].
  • Penggunaan Desiccant Breather: Alat ini dipasang pada saluran ventilasi tangki. Ia berisi material penyerap kelembaban (desiccant) seperti silika gel yang akan mengeringkan udara yang masuk ke dalam tangki, sangat efektif mencegah uap air masuk sejak awal.
  • Aditif Penghilang Air (Fuel Water Remover): Produk aditif tertentu dapat mengikat molekul air yang terdispersi dalam bahan bakar dan memungkinkannya dibakar bersama di mesin atau disaring. Penggunaannya harus selektif dan mengikuti rekomendasi pabrikan, karena tidak semua aditif cocok untuk semua jenis bahan bakar atau sistem penyimpanan.
  • Inspeksi Visual dan Pengujian Rutin: Selalu gunakan water finding paste pada dipstick saat pengukuran manual untuk mendeteksi keberadaan lapisan air di dasar tangki.

Membangun Sistem Monitoring yang Efektif: Langkah Implementasi

  1. Asesmen Kebutuhan: Identifikasi jumlah dan tipe tangki, titik pengukuran kritis (atas, tengah, bawah), parameter yang ingin dipantau (suhu saja atau plus level), dan anggaran yang tersedia.
  2. Pemilihan Teknologi: Berdasarkan hasil asesmen, pilih antara solusi manual, sistem otomatis off-the-shelf, atau pengembangan sistem kustom (misal berbasis Arduino). Pertimbangkan skalabilitas untuk ekspansi masa depan.
  3. Perencanaan Instalasi: Tentukan titik pemasangan sensor yang representatif, jalur kabel atau jaringan komunikasi wireless, serta lokasi panel kontrol atau server pusat. Pastikan instalasi mematuhi semua peraturan keselamatan listrik dan area berbahaya (hazardous area).
  4. Kalibrasi dan Komisioning: Sebelum dioperasikan, semua sensor dan alat ukur harus dikalibrasi oleh penyedia jasa yang kompeten untuk memastikan akurasi awal. Lakukan pengujian sistem secara menyeluruh.
  5. Pelatihan Operator: Kunci keberhasilan sistem otomatis terletak pada manusia yang mengelolanya. Latih operator untuk membaca dashboard, memahami alarm, melakukan troubleshooting dasar, dan melakukan prosedur cadangan manual.
  6. Pemeliharaan dan Kalibrasi Berkala: Buat jadwal pemeliharaan preventif untuk membersihkan sensor dan memeriksa jaringan. Kalibrasi ulang semua alat ukur secara berkala (biasanya setiap 6 atau 12 bulan) sesuai standar untuk menjaga keandalan data.

Kesimpulan

Monitoring suhu tangki penyimpanan BBM merupakan investasi strategis dalam menjaga aset, kualitas produk, dan keberlanjutan operasi. Seperti yang telah dijabarkan, fluktuasi suhu adalah penyebab langsung dari masalah-masalah operasional yang merugikan seperti penguapan berlebih, perubahan viskositas di luar spesifikasi, dan akumulasi kondensasi air. Teknologi untuk memantau kondisi ini telah sangat terjangkau, mulai dari alat manual hingga sistem otomatis berbasis mikrokontroler yang memberikan data real-time dan historis.

Dengan menghubungkan data suhu dengan parameter kualitas bahan bakar yang diatur dalam standar nasional (Dirjen Migas) dan internasional (ASTM), operator dan manajer fasilitas dapat membuat keputusan yang lebih informatif untuk mengoptimalkan penyimpanan. Implementasi solusi praktis seperti manajemen inventori yang baik, drainase air rutin, dan penggunaan teknologi bantu seperti desiccant breather akan semakin memperkuat pencegahan kerugian.

Lakukan audit rutin terhadap sistem monitoring suhu di fasilitas Anda. Konsultasikan dengan penyedia alat terpercaya dan pastikan selalu mengikuti perkembangan standar terbaru dari Ditjen Migas untuk operasi yang aman dan efisien.

Sebagai mitra terpercaya dalam penyediaan solusi pengukuran dan instrumentasi untuk industri, CV. Java Multi Mandiri siap mendukung operasional bisnis Anda. Kami menyediakan berbagai peralatan ukur yang relevan, dari hidrometer presisi hingga komponen untuk sistem monitoring, dengan fokus pada keandalan dan kesesuaian standar industri. Untuk mendiskusikan kebutuhan spesifik perusahaan Anda dalam mengoptimalkan sistem monitoring tangki penyimpanan, jangan ragu untuk menghubungi tim ahli kami melalui halaman konsultasi solusi bisnis.

Disclaimer: Informasi ini ditujukan untuk tujuan edukasi dan panduan teknis. Untuk implementasi sistem keselamatan dan kepatuhan regulasi yang spesifik, disarankan untuk berkonsultasi dengan ahli terkait dan merujuk dokumen resmi dari Ditjen Migas Kementerian ESDM.

Rekomendasi Viscometer

Referensi

  1. Ahli Konversi Energi ITB. (Dikutip dalam GridOto). Pernyataan mengenai penguapan bahan bakar. Retrieved from https://www.gridoto.com/read/223520773/seberapa-besar-penguapan-bahan-bakar-diukur-dengan-cara-ini.
  2. ASTM International. Standard Test Method for Vapor Pressure of Petroleum Products (Mini Method) (ASTM D5191-19).
  3. Kompas Otomotif. (2026, 27 Maret). Cara Penyimpanan BBM yang Salah Bisa Menurunkan Kualitas. Kompas.com. Retrieved from https://otomotif.kompas.com/read/2026/03/27/181200815/cara-penyimpanan-bbm-yang-salah-bisa-menurunkan-kualitas.
  4. Sonika Maulana, Dheny Nur Syahid, Dwi Widjnarko, Andri Setiyawan. PENGARUH PEMANASAN AWAL (PRE-HEATER) BAHAN BAKAR TERHADAP PERFORMA MESIN DIESEL DENGAN PEMANAS KONTROL OTOMATIS DI LABORATORIUM PENGUJIAN PERFORMA MESIN JURUSAN TEKNIK MESIN FT UNNES. Journal of Mechanical Engineering Learning (JMEL). Retrieved from https://journal.unnes.ac.id/sju/jmel/article/download/68739/24394/.
  5. Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 146.K/10/DJM/2020 tentang Standar dan Mutu Bahan Bakar Minyak Jenis Solar.
  6. ASTM International. ASTM Tests Ensure Fuel Quality. Retrieved from https://www.astm.org/news/astm-tests-ensure-fuel-quality-nd16.
  7. Jurnal Terapan Logistik Migas (JTlm). Studi Operasi Penimbunan Terhadap Kualitas Produk Biosolar Pada Tangki Timbun. Politeknik Energi dan Mineral AKAMIGAS. Retrieved from https://jtlm.akamigas.ac.id/index.php/jtlmig/article/download/12/4/14.
  8. Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Nomor 409.K/10/DJM/2021 tentang Pedoman Teknis Keselamatan Operasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kementerian ESDM. Retrieved from https://migas.esdm.go.id/cms/uploads/perpustakaan/buku-referensi/Kepdirjen-409K-Pedoman-SPBU.pdf.
  9. Data riset pasar alat ukur hidrometer. Tokopedia. Retrieved dari https://www.tokopedia.com/spepartspbu/hidrometer-alat-ukur-suhu-untuk-bensin-skala-0-700-0-750.
  10. Riki Ruli A. Siregar dkk. MODEL SISTEM MONITORING TANGKI BAHAN BAKAR MINYAK SPBU DENGAN MENGGUNAKAN WEB APLIKASI DAN SMS GATEWAY. JETri (Jurnal Elektronik Teknik Industri), Volume 12, Nomor 2. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/70995-ID-model-sistem-monitoring-tangki-bahan-bak.pdf.
  11. Indra Kurniawan, Hendro Priyatman, Ade Elbani. RANCANG BANGUN SISTEM MONITORING PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) DAN TEMPERATUR PADA GENERATOR MENGGUNAKAN SMS BERBASIS PENGENDALI MIKRO. Neliti. Retrieved from https://media.neliti.com/media/publications/190927-ID-rancang-bangun-sistem-monitoring-penggun.pdf.
  12. Warse.org. Gas Station Fuel Storage Tank Monitoring System using IoT. International Journal of Advanced Trends in Computer Science and Engineering. Retrieved from https://www.warse.org/IJATCSE/static/pdf/file/ijatcse78816sl2019.pdf.
  13. Penelitian Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Dampak Jenis Bahan Bakar Terhadap Kinerja Motor. Retrieved from https://mesin.umsida.ac.id/dampak-jenis-bahan-bakar-terhadap-kinerja-motor/.
  14. Kementerian ESDM. Dukung Transisi Energi, BBM Solar 51 Setara Euro IV Siap Diimplementasikan di Seluruh Indonesia. Retrieved from https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/dukung-transisi-energi-bbm-solar-51-setara-euro-iv-siap-diimplementasikan-di-seluruh-indonesia.
Konsultasi Gratis

Dapatkan harga penawaran khusus dan info lengkap produk alat ukur dan alat uji yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Bergaransi dan Berkualitas. Segera hubungi kami.