Industri percetakan dan kemasan di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan waste produksi. Data penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata defect rate mencapai 8%, jauh melampaui batas toleransi industri sebesar 5% yang ditetapkan perusahaan [1]. Yang lebih mengkhawatirkan, defect kotor dan warna muda—dua jenis cacat yang sering dikaitkan dengan kondisi kertas yang tidak optimal—mendekati 80% dari total waste yang terjadi di lini produksi [1].
Salah satu faktor kritis yang sering terabaikan dalam upaya menekan waste adalah kontrol kelembaban kertas. Ketidakstabilan kadar air pada bahan baku kertas dan kardus menjadi akar penyebab berbagai defect cetak, mulai dari register error hingga set-off tinta, yang pada akhirnya membengkakkan biaya produksi. Artikel ini akan mengupas tuntas bagaimana kontrol kelembaban yang tepat dapat menjadi solusi terukur—berdasarkan data standar internasional, penelitian akademis, dan praktik industri—untuk menekan waste secara signifikan.
- Pendahuluan: Waste Percetakan dan Kemasan – Musuh yang Tersembunyi
- Ilmu di Baliknya: Mengapa Kelembaban Mempengaruhi Kertas?
- Dampak Kelembaban pada Lini Produksi: Dari Defect hingga Waste
- Mengukur Kadar Air Kertas: Langkah Awal Kontrol Kualitas
- Strategi Pengendalian Kelembaban di Lini Produksi dan Gudang
- Bukti Nyata: Data Penurunan Waste Melalui Kontrol Kelembaban
- Rekomendasi Alat: Moisture Meter untuk QC Harian yang Efektif
- Kesimpulan
- Referensi
Pendahuluan: Waste Percetakan dan Kemasan – Musuh yang Tersembunyi
Waste dalam industri percetakan dan kemasan tidak hanya berdampak pada profitabilitas, tetapi juga pada efisiensi operasional dan keberlanjutan lingkungan. Penelitian yang dilakukan di CV. Aneka Grafika (Malang) menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) mengidentifikasi bahwa mode kegagalan “kontrol mesin cetak kurang” memiliki Risk Priority Number (RPN) tertinggi sebesar 448 pada detailed waste defect kotor dan warna muda [1]. Angka ini menunjukkan urgensi yang sangat tinggi untuk segera ditangani.
Namun, apa yang menyebabkan kontrol mesin cetak menjadi kurang optimal? Jawabannya seringkali bermuara pada satu variabel yang kerap diabaikan: kondisi kertas itu sendiri. Kertas yang tidak memiliki kadar air yang sesuai—terlalu kering atau terlalu lembab—akan mengalami perubahan dimensi, memicu ketidakstabilan saat melalui proses cetak, dan menghasilkan defect yang tidak diinginkan.
Menurut standar ISO 187:2022, atmosfer standar untuk pengkondisian dan pengujian kertas adalah (23 ± 1)°C dan (50 ± 2)% RH, dengan opsi atmosfer tropis (27 ± 1)°C dan (65 ± 2)% RH untuk negara seperti Indonesia [2]. Memahami dan menerapkan standar ini adalah langkah pertama menuju pengendalian waste yang efektif.
Layanan pengujian kertas Fogra: higroekspansivitas, kadar air, dan pengaruhnya terhadap kualitas cetak memberikan informasi teknis lebih lanjut tentang bagaimana pengukuran ini diterapkan dalam industri percetakan global.
Ilmu di Baliknya: Mengapa Kelembaban Mempengaruhi Kertas?
Kertas pada dasarnya bersifat higroskopis—ia secara alami menyerap atau melepaskan uap air dari udara sekitarnya untuk mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Sifat inilah yang menjadi sumber utama ketidakstabilan dimensi jika kelembaban lingkungan tidak terkontrol.
Sebuah white paper komprehensif dari Rotronic/Fogra yang berjudul “Paper and Climate” memberikan data kuantitatif yang sangat berharga: perubahan RH sebesar 10% menghasilkan perubahan dimensi kertas 0,1%–0,2% pada arah melintang (transverse direction). Ini berarti pada kertas selebar 100 cm, perubahan RH 10% dapat menyebabkan perubahan dimensi 1–2 mm—cukup untuk menyebabkan mis-registering yang tidak diinginkan pada cetakan presisi [3].
Sifat Higroskopis Kertas dan Dampak Dimensi
Serat selulosa penyusun kertas akan mengembang saat menyerap air dan menyusut saat kehilangan air. Fenomena ini tidak seragam pada semua arah: perubahan dimensi lateral (arah lebar kertas) dapat mencapai 3 kali lebih besar dibandingkan perubahan dimensi memanjang (arah serat). Ketidakseragaman inilah yang menyebabkan tiga fenomena utama pada kertas cetak:
- Wavy edges (tepi bergelombang): Terjadi ketika kadar air di tepi kertas lebih tinggi daripada di bagian tengah, menyebabkan tepi kertas mengembang dan bergelombang.
- Tight edges (tepi kencang): Kebalikan dari wavy edges—tepi kertas lebih kering daripada bagian tengah, menyebabkan tepi menjadi kencang dan bagian tengah kendur.
- Curling (melengkung): Terjadi ketika kadar air pada dua sisi kertas tidak konsisten, menyebabkan kertas melengkung ke satu arah.
Ketiga fenomena ini langsung berdampak pada performa cetak, terutama pada masalah feeding dan register akurasi [4].
Kadar Air Ideal untuk Berbagai Jenis Kertas dan Kardus
Memahami rentang kadar air yang ideal adalah prasyarat untuk kontrol kualitas yang efektif. Berdasarkan data dari berbagai sumber industri dan standar internasional, berikut adalah kadar air optimal untuk berbagai jenis material:
| Jenis Material | Kadar Air Ideal | Kondisi Lingkungan Referensi |
|---|---|---|
| Kertas cetak sheet offset | 7% ± 2% (tergantung jenis) | RH 50% ± 5% (Rotronic/Fogra) |
| Kertas web offset | — | RH 40% ± 5% (Rotronic/Fogra) |
| Pulp kering udara | ~10% | — |
| Bubur gulung | 5–6% | — |
| Kardus kemasan | 6–9% (tergantung jenis) | RH 40–60% |
Sumber data: Rotronic/Fogra White Paper [3], SAKA.co.id [5], dan standar ISO 187 [2].
Menurut rekomendasi dari Rotronic/Fogra, untuk kertas sheet offset, kadar air harus dijaga pada tingkat yang sesuai dengan RH lingkungan sekitar 50% ± 5%, sementara untuk web offset pada 40% ± 5% [3]. Ketika kadar air menyimpang dari rentang ini, risiko defect meningkat secara signifikan.
Dampak Kelembaban pada Lini Produksi: Dari Defect hingga Waste
Kelembaban yang tidak terkontrol pada kertas bukan hanya masalah teoritis—ia memiliki dampak langsung dan terukur pada lini produksi. Mari kita telusuri bagaimana setiap aspek produksi dipengaruhi.
Ketidakstabilan Dimensi dan Register Error
Register error—ketidaksesuaian antara satu warna dengan warna lainnya saat overprint—adalah salah satu defect paling umum dan paling mahal dalam percetakan multi-warna. Data dari Rotronic/Fogra dengan jelas menunjukkan bahwa perubahan RH 10% menyebabkan perubahan dimensi 1–2 mm pada kertas selebar 100 cm [3]. Pada cetakan dengan toleransi register yang ketat (seringkali di bawah 0,1 mm), perubahan dimensi sekecil ini sudah cukup untuk menghasilkan produk cacat yang harus dibuang.
Seperti dijelaskan dalam white paper tersebut: “Perubahan RH 10% menghasilkan perubahan dimensi 0,1%–0,2% arah melintang… nilai yang dapat menyebabkan mis-registering yang tidak diinginkan.” [3]
Masalah Feeding dan Misalignment Mesin
Kertas yang melengkung (curling) atau bergelombang (wavy edges) akan kesulitan melewati sistem feeding mesin cetak. Pada mesin offset otomatis berkecepatan tinggi, kertas yang tidak rata dapat menyebabkan:
- Macetnya kertas (paper jam) yang membutuhkan intervensi operator
- Misalignment yang menghasilkan cetakan miring atau tidak presisi
- Kerusakan kertas yang menyebabkan waste langsung
- Downtime mesin yang memperlambat produksi
Fenomena wavy edges dan tight edges, seperti dijelaskan oleh Sinst Printing and Packaging, terjadi ketika ada perbedaan kadar air antara tepi dan tengah kertas akibat fluktuasi RH lingkungan yang tidak merata [4].
Pengeringan Tinta Lebih Lama dan Risiko Set-off
Salah satu temuan paling menarik dari white paper Rotronic/Fogra adalah tentang stack humidity—kelembaban yang terperangkap di antara tumpukan kertas yang baru dicetak. Ketika kelembaban tumpukan (stack humidity) berada di atas 60%, waktu pengeringan tinta dapat memanjang hingga tiga kali lipat dari normal [3].
Dampak dari pengeringan yang lambat ini meliputi:
- Set-off: Tinta basah dari satu lembar berpindah ke bagian belakang lembaran berikutnya
- Penumpukan barang setengah jadi yang menunggu pengeringan
- Risiko smearing (noda) saat penanganan
- Perlambatan alur produksi secara keseluruhan
(Sumber: Rotronic/Fogra white paper)
Pertumbuhan Jamur dan Warping pada Kardus Kemasan
Untuk industri kemasan, kelembaban tinggi pada kardus bukan hanya masalah estetika, tetapi juga masalah struktural. Berdasarkan rekomendasi dari CH Part Paper, suhu penyimpanan optimal untuk kardus adalah 15–24°C dengan RH 40–60%[6]. Pada kondisi di atas rentang ini:
- Warping (melengkung): Kardus kehilangan bentuknya, menyulitkan proses pengisian dan penutupan
- Penurunan kekuatan kompresi: Kardus menjadi lebih lemah dan mudah robek saat ditumpuk
- Pertumbuhan jamur: Berbahaya bagi produk yang dikemas, terutama makanan dan farmasi
- Korosi produk logam: Untuk produk logam yang dikemas dalam kardus, kelembaban tinggi dapat memicu karat
Penelitian Clemson University tentang efek RH terhadap kekuatan kompresi kardus gelombang memberikan data kuantitatif yang memperkuat pentingnya kontrol kelembaban di gudang penyimpanan [7].
Mengukur Kadar Air Kertas: Langkah Awal Kontrol Kualitas
Tanpa pengukuran yang akurat, kontrol kelembaban hanyalah tebakan. Ada dua metode utama untuk mengukur kadar air kertas, masing-masing dengan kelebihan dan aplikasinya sendiri.
Metode Gravimetri Oven: Standar Emas
Metode gravimetri oven adalah standar referensi yang diakui secara internasional untuk pengukuran kadar air kertas. Prosedurnya relatif sederhana namun membutuhkan ketelitian:
- Timbang sampel kertas basah (W1)
- Keringkan dalam oven pada suhu 105°C hingga berat konstan
- Timbang sampel kering (W2)
- Hitung kadar air: (W1 – W2) / W1 x 100%
Keunggulan metode ini adalah akurasinya yang sangat tinggi. Namun, kelemahannya adalah waktu yang dibutuhkan—proses pengeringan bisa memakan waktu beberapa jam—sehingga tidak praktis untuk QC harian di lini produksi [8].
Metode ini diakui dalam standar ISO dan menjadi acuan untuk kalibrasi alat ukur elektronik.
Moisture Meter Elektronik: Cepat, Non-Destruktif, Praktis
Untuk kebutuhan QC harian di lini produksi, moisture meter elektronik adalah alat yang paling praktis. Ada dua tipe utama yang tersedia:
Tipe Sentuh (Non-Destructive)
- Ideal untuk inspeksi produk jadi: kardus kemasan, lembaran kertas cetak
- Tidak merusak material, sehingga sampel tetap dapat digunakan
- Prinsip kerja: mengukur konduktivitas listrik permukaan kertas
- Sangat direkomendasikan untuk QC kemasan [9]
Tipe Pin (Tusuk)
- Cocok untuk bahan baku: pulp, tumpukan kertas tebal, bal kardus
- Elektroda pin menusuk ke dalam material untuk mengukur kadar air internal
- Memberikan pembacaan yang lebih dalam dan representatif untuk material tebal
Salah satu produk unggulan yang banyak digunakan di industri adalah Aqua Boy PMII Paper Cardboard Moisture Meter, dengan spesifikasi range pengukuran 0–40%, resolusi 1%, dan operasional pada suhu 0–50°C [10].
Tips Kalibrasi dan Interpretasi Data Moisture Meter
Agar hasil pengukuran moisture meter dapat diandalkan, perhatikan hal-hal berikut:
- Kalibrasi rutin: Lakukan kalibrasi setiap 3–6 bulan menggunakan standar internal (bahan dengan kadar air diketahui) atau kirim ke laboratorium terakreditasi
- Kondisikan sampel: Ikuti prosedur ISO 187—kondisikan sampel pada suhu dan RH standar sebelum pengukuran untuk hasil yang konsisten [2]
- Interpretasi data: Jika kadar air kertas cetak >9%, lakukan conditioning (simpan di ruang dengan RH 50% selama minimal 24 jam) sebelum digunakan
- Dokumentasi: Catat semua hasil pengukuran untuk analisis tren dan tindakan korektif
Strategi Pengendalian Kelembaban di Lini Produksi dan Gudang
Setelah memahami pentingnya pengukuran, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi pengendalian yang efektif di seluruh rantai produksi.
Lingkungan Ruang Cetak: Suhu, RH, dan Sistem HVAC
Ruang cetak adalah jantung operasi percetakan, dan kondisi lingkungannya harus dijaga dengan ketat. Rekomendasi suhu dan RH untuk ruang cetak di Indonesia (mengacu pada opsi atmosfer tropis dalam ISO 187) adalah:
- Suhu: 18–23°C (atau 27°C ± 1°C untuk opsi tropis)
- RH: 55–65% (atau 65% ± 2% untuk opsi tropis)
Sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning) yang terkalibrasi dengan baik adalah investasi wajib. Tanpa HVAC yang memadai, fluktuasi RH harian—yang bisa mencapai 20–30% di iklim tropis—akan menyebabkan perubahan dimensi kertas yang tidak dapat diprediksi [11].
Pemantauan RH secara real-time dengan hygrometer digital sangat dianjurkan untuk mengambil tindakan korektif segera jika terjadi penyimpangan.
Penyimpanan Bahan Baku: Dehumidifier, Desiccant, dan Ventilasi
Untuk gudang penyimpanan kertas dan kardus, target RH adalah 40–60%. Beberapa solusi yang dapat diterapkan:
- Dehumidifier: Untuk gudang besar, dehumidifier industri adalah solusi paling efektif untuk menjaga RH dalam rentang yang diinginkan
- Desiccant (kalsium klorida): Untuk area terbatas atau kontainer pengiriman, desiccant seperti kalsium klorida dapat menyerap kelembaban berlebih secara pasif [12]
- Ventilasi silang: Pastikan sirkulasi udara yang baik untuk mencegah penumpukan kelembaban di area tertentu
- Sistem ventilasi karton box: Inovasi karton box dengan sistem ventilasi dirancang untuk menjaga kelembaban tetap terkendali secara otomatis [13]
SOP Penerimaan Bahan Baku: Integrasi dengan Lean Manufacturing
Salah satu celah konten yang teridentifikasi dalam penelitian adalah minimnya integrasi kontrol kualitas bahan baku ke dalam framework lean manufacturing. Berikut adalah langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan:
- Quality gate pada penerimaan: Setiap kali ada kedatangan kertas/kardus, ukur kadar air dengan moisture meter sebelum barang masuk gudang
- Kriteria tolak: Jika kadar air di luar spesifikasi (misalnya >10% untuk kertas cetak), tolak pengiriman atau minta pemasok melakukan conditioning
- Dokumentasi dan tracking: Catat kadar air setiap batch untuk analisis pemasok dan tren kualitas
- Integrasi dengan FMEA: Gunakan data kadar air sebagai input untuk analisis FMEA, sehingga mode kegagalan “kontrol mesin cetak kurang” dapat diatasi dari hulunya [1]
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip lean manufacturing yang digunakan dalam penelitian di CV. Aneka Grafika, di mana Process Activity Mapping (PAM) dan FMEA digunakan untuk mengidentifikasi dan meminimasi waste [1].
Bukti Nyata: Data Penurunan Waste Melalui Kontrol Kelembaban
Teori tanpa data hanyalah spekulasi. Berikut adalah bukti kuantitatif yang menunjukkan hubungan langsung antara kontrol kelembaban dan penurunan waste.
Hasil Penelitian FMEA di CV. Aneka Grafika (Malang)
Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal INTECH Teknik Industri Universitas Serang Raya memberikan gambaran yang jelas tentang skala masalah waste di industri percetakan Indonesia:
- Waste defect teridentifikasi sebagai waste paling kritis, dengan kontribusi 18,02% dari total waste
- Defect kotor dan warna muda secara kumulatif mendekati 80% dari total defect
- Mode kegagalan “kontrol mesin cetak kurang” memiliki RPN 448—peringkat risiko tertinggi [1]
Yang menarik, penelitian ini juga mencatat bahwa rata-rata reject rate sebesar 8% masih melebihi standar yang ditetapkan perusahaan sebesar 5% [1]. Artinya, ada potensi penghematan sebesar 3% yang dapat dicapai melalui perbaikan kontrol kualitas—dan kontrol kelembaban kertas adalah salah satu cara paling efektif untuk mencapainya.
Simulasi Kerugian Finansial Akibat Kelembaban Tidak Terkontrol
Mari kita buat simulasi sederhana untuk mengkuantifikasi dampak finansial:
Asumsi:
- Produksi harian: 10.000 lembar kertas
- Harga kertas per lembar: Rp 1.000
- Defect rate saat ini: 8% (berdasarkan data Jurnal INTECH)
- Defect rate target: 5%
Perhitungan:
- Waste harian saat ini: 10.000 × 8% = 800 lembar
- Waste harian target: 10.000 × 5% = 500 lembar
- Penghematan harian: 300 lembar × Rp 1.000 = Rp 300.000
- Penghematan bulanan (25 hari kerja): Rp 300.000 × 25 = Rp 7.500.000
- Penghematan tahunan: Rp 7.500.000 × 12 = Rp 90.000.000
Ini belum termasuk biaya tambahan akibat:
- Waktu pengeringan tinta lebih lama (3× lipat pada stack humidity >60%) [3]
- Downtime mesin akibat feeding masalah
- Biaya penanganan limbah B3 dari tinta dan pelarut
- Kerugian reputasi akibat keterlambatan pengiriman karena re-print
Perbandingan Hasil Cetak: Dengan vs Tanpa Kontrol Kelembaban
Perbedaan antara kertas yang dikondisikan dengan benar dan yang tidak sangat jelas terlihat:
| Parameter | Dengan Kontrol Kelembaban | Tanpa Kontrol Kelembaban |
|---|---|---|
| Register akurasi | Presisi, sesuai target | Error, overprint bergeser |
| Kerataan kertas | Rata, mudah di-feed | Wavy edges, curling |
| Pengeringan tinta | Normal, sesuai jadwal | Lambat, risiko set-off |
| Warna cetak | Cerah, sesuai proof | Pudar, tidak konsisten |
| Kekuatan kardus | Optimal, sesuai spesifikasi | Menurun, rentan rusak |
Rekomendasi Alat: Moisture Meter untuk QC Harian yang Efektif
Setelah memahami pentingnya kontrol kelembaban, langkah selanjutnya adalah memilih alat yang tepat untuk implementasi. Berdasarkan analisis kebutuhan industri percetakan dan kemasan di Indonesia, berikut adalah rekomendasi alat ukur yang dapat diandalkan.
Aqua Boy PMII Paper Cardboard Moisture Meter adalah salah satu produk unggulan yang dirancang khusus untuk aplikasi industri kertas dan kardus. Dengan spesifikasi:
- Range pengukuran: 0–40%
- Resolusi: 1%
- Tipe: Non-destructive (sentuh), ideal untuk QC produk jadi
- Suhu operasi: 0–50°C
- Prinsip kerja: Konduktivitas listrik
Keunggulan utama Aqua Boy PMII adalah kemampuannya memberikan pengukuran cepat tanpa merusak material, sehingga sangat cocok untuk inspeksi rutin di lini produksi [10].
Untuk informasi lebih lanjut tentang produk ini, kunjungi halaman produk Aqua Boy PMII Paper Cardboard Moisture Meter.
Kesimpulan
Kontrol kelembaban kertas bukanlah biaya tambahan—melainkan investasi strategis yang memberikan return cepat melalui penghematan waste. Data-data yang telah kita bahas menunjukkan secara kuantitatif bahwa:
- Defect rate rata-rata 8% dapat ditekan menjadi 5% melalui kontrol kualitas yang lebih baik, termasuk kontrol kelembaban
- Perubahan dimensi kertas 1–2 mm akibat fluktuasi RH 10% langsung berdampak pada register error dan waste
- Waktu pengeringan tinta 3× lipat pada stack humidity >60% memperlambat produksi dan meningkatkan risiko set-off
- Suhu penyimpanan 15–24°C dan RH 40–60% adalah standar yang harus dijaga untuk mencegah kerusakan kardus
Dengan menerapkan strategi yang telah diuraikan—mulai dari pemantauan RH ruang cetak, penggunaan moisture meter untuk QC bahan baku, hingga SOP penerimaan yang ketat—perusahaan percetakan dan kemasan dapat menekan waste secara signifikan dan meningkatkan profitabilitas.
Mulai langkah pertama evaluasi kontrol kelembaban di lini produksi Anda. Gunakan Moisture Meter Kertas & Kardus seperti Aqua Boy PMII untuk mengidentifikasi masalah sejak dini. Hubungi tim teknis kami untuk konsultasi lebih lanjut tentang solusi pengukuran yang tepat untuk kebutuhan spesifik Anda.
CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur dan instrumentasi yang telah berpengalaman dalam melayani kebutuhan bisnis dan industri di Indonesia. Kami menyediakan berbagai solusi pengukuran untuk industri percetakan, kemasan, manufaktur, dan sektor komersial lainnya. Produk-produk kami dirancang untuk membantu perusahaan mengoptimalkan operasional, meningkatkan efisiensi, dan memenuhi standar kualitas yang ketat. Untuk kebutuhan alat ukur kelembaban kertas dan kardus, konsultasikan dengan tim kami untuk mendapatkan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik perusahaan Anda. Diskusikan kebutuhan bisnis Anda bersama tim ahli kami.
Artikel ini bersifat informatif dan edukatif. Untuk rekomendasi produk spesifik, konsultasikan dengan teknisi atau distributor resmi.
Rekomendasi Paper Moisture Meter
-

Alat Ukur Kadar Air Kertas AMTAST MD919
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Kertas AMTAST MD6G
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Kertas AMTAST MS7200+
Lihat produk★★★★★ -

Alat Pengukur Kelembaban Kertas Moisture Meter KETT HK300-2
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Kertas AMTAST MCT3
Lihat produk★★★★★ -

Pengukur Kadar Air Kertas AMTAST MD916
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kelembaban Tanah Lutron PMS-714
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kelembaban Kertas MD916
Lihat produk★★★★★
Referensi
- Krisnanti, E.D., & Garside, A.K. (2022). Penerapan Lean Manufacturing untuk Meminimasi Waste Percetakan Box. Jurnal INTECH Teknik Industri Universitas Serang Raya, Vol. 8 No. 2. Retrieved from https://pdfs.semanticscholar.org/85bc/38925da1fc7a90f45176322159eeea08b000.pdf
- International Organization for Standardization. (2022). ISO 187:2022 — Paper, board and pulps — Standard atmosphere for conditioning and testing and procedure for monitoring the atmosphere and conditioning of samples. Retrieved from https://cdn.standards.iteh.ai/samples/80311/0435ccecdf094d3b8e26748f0a23a5fc/ISO-187-2022.pdf
- Rotronic AG, FOGRA Forschungsgesellschaft Druck e.V., & Sappi Europe. (n.d.). Paper and Climate: The interaction between climate and the processing of coated papers during printing and finishing (White Paper). Retrieved from https://www.rotronic.com/pub/media/productattachments/files/w/h/whitepaper_paper_e.pdf
- Sinst Printing and Packaging Co., Ltd. (n.d.). Pengaruh Kelembaban Lingkungan terhadap Pencetakan. Retrieved from https://id.sinst-boxes.com/news-show-970.html
- SAKA.co.id. (n.d.). Penentuan Kadar Air dalam Pulp dan Kertas. Retrieved from https://www.saka.co.id/news-detail/penentuan-kadar-air-dalam-pulp-dan-kertas
- CH Part Paper. (n.d.). Bagaimana Cara Menyimpan Kardus Hitam agar Tidak Rusak. Retrieved from https://id.chpartpaper.com/blog/how-to-store-black-cardboard-to-avoid-damage-137771.html
- Clemson University. (n.d.). Relative Humidity Effects on the Compression Strength of Corrugated Boxes (Thesis). Retrieved from https://open.clemson.edu/all_theses/3225/
- Mealabs Kemasan Indonesia. (2017). Parameter Kualitas Kertas dan Cara Pengukuran Kadar Air. Retrieved from https://www.mealabskemasan.id/2017/05/parameter-kulitas-kertas-dan-cara.html
- AMTAST Indonesia. (n.d.). Alat Pengukur Kadar Air Kertas: Panduan Ahli untuk Mengatasi Masalah Produksi Kemasan. Retrieved from https://amtast.id/alat-pengukur-kadar-air-kertas-panduan-ahli-untuk-mengatasi-masalah-produksi-kemasan/
- CV. Java Multi Mandiri / Alat Ukur Indonesia. (n.d.). Aqua Boy PMII Paper Cardboard Moisture Meter. Retrieved from https://alat-ukur-indonesia.com/toko/aqua-boy-pmii-paper-cardboard-moisture-meter/
- MahaMeru Printing Bali. (n.d.). Paper Humidity: Panduan RH untuk Berbagai Jenis Percetakan. Retrieved from https://www.mahamerubali.com/paper-humidity.html
- Absorbwell Asia. (n.d.). Bagaimana Mengurangi Kelembaban dalam Kontainer Pengiriman Anda. Retrieved from https://id.absorbwell.asia/info/how-to-reduce-humidity-in-your-shipping-85904637.html
- Pabrikkardus.co.id. (2023). Karton Box dengan Sistem Ventilasi Mencegah Kelembapan pada Produk. Retrieved from https://www.pabrikkardus.co.id/2023/07/05/karton-box-dengan-sistem-ventilasi-mencegah-kelembapan-pada-produk/













