Standar Kesadahan Air Industri Makanan: Panduan untuk Pabrik Mie dan Restoran

Panduan standar kesadahan air pada industri makanan untuk pabrik mie dan restoran, masalah hard water

Pernahkah mie produksi Anda terasa keras dan tidak elastis, atau umur simpannya hanya bertahan satu hari? Mungkin Anda sering melihat kerak putih membandel pada panci dan wajan di dapur restoran. Masalah-masalah ini sering kali berakar pada satu hal yang luput dari perhatian banyak pelaku bisnis makanan: kesadahan air. Air sadah (hard water) dengan kandungan kalsium dan magnesium berlebih bukan hanya soal rasa, tetapi dapat mengganggu kualitas produk, memperpendek masa simpan, dan merusak peralatan masak secara perlahan.

Banyak pemilik pabrik mie skala UKM dan restoran franchise belum memahami standar kesadahan air yang berlaku di Indonesia, apalagi cara mengukur dan mengelolanya. Artikel ini hadir sebagai panduan komprehensif yang menghubungkan regulasi PERMENKES No. 32/2017, data ilmiah dampak air sadah terhadap adonan mie, metode pengukuran dari yang sederhana hingga profesional, serta solusi pengolahan air yang sesuai skala bisnis Anda. Anda akan mempelajari definisi kesadahan, standar nasional dan internasional, dampaknya pada tekstur mie dan peralatan, tiga cara mengukur kesadahan, opsi pengolahan air, hingga rekomendasi alat ukur profesional water hardness Bante 322. Mari mulai perjalanan menuju kualitas air yang optimal untuk bisnis Anda.

  1. Apa Itu Kesadahan Air? Definisi dan Klasifikasi
    1. Mengapa Kesadahan Air Penting untuk Industri Makanan?
    2. Satuan Pengukuran Kesadahan Air
  2. Standar Kesadahan Air untuk Industri Makanan di Indonesia
    1. Perbandingan Standar Nasional dan Internasional
    2. Implikasi Hukum dan Sertifikasi (BPOM, Halal)
  3. Dampak Air Sadah pada Produksi Mie dan Operasional Restoran
    1. Pengaruh Air Sadah pada Tekstur dan Gluten Mie
    2. Umur Simpan Mie dan Pertumbuhan Mikroba
    3. Kerak pada Peralatan Dapur Restoran: Penyebab dan Dampak
  4. Cara Mengukur Kesadahan Air: Dari Test Strip hingga Digital Meter
    1. Metode Test Strip: Praktis untuk Cek Cepat
    2. Metode Titrasi (Test Kit): Akurat dan Ekonomis
    3. Digital Meter (Electrode): Presisi untuk QC Profesional
    4. Panduan Memilih Metode Berdasarkan Skala Bisnis
  5. Solusi Mengatasi Air Sadah untuk Skala UKM dan Industri
    1. Filtrasi Zeolit dan Karbon Aktif
    2. Ion Exchange (Water Softener Resin)
    3. Reverse Osmosis (RO) untuk Presisi Tinggi
  6. Rekomendasi Alat Ukur Kesadahan Air Profesional: Bante 322
    1. Spesifikasi dan Keunggulan Bante 322
    2. Perbandingan Harga dari Distributor
    3. Panduan Singkat Kalibrasi dan Perawatan
    4. Analisis ROI
  7. Panduan Praktis: Langkah-Langkah Mengelola Kesadahan Air di Pabrik Mie dan Restoran
  8. Kesimpulan
  9. Referensi

Apa Itu Kesadahan Air? Definisi dan Klasifikasi

Kesadahan air adalah ukuran konsentrasi ion kalsium (Ca²⁺) dan magnesium (Mg²⁺) yang terlarut dalam air. Air dengan kandungan ion-ion ini tinggi disebut air sadah. World Health Organization (WHO) dalam dokumen Hardness in Drinking-water (WHO/HSE/WSH/10.01/10/Rev/1) mengklasifikasikan tingkat kesadahan berdasarkan konsentrasi kalsium karbonat (CaCO₃) sebagai berikut: air lunak (soft) jika <60 mg/L; agak sadah (moderately hard) 60–120 mg/L; sadah (hard) 120–180 mg/L; dan sangat sadah (very hard) >180 mg/L [1]. Meskipun WHO tidak menetapkan batas wajib untuk kesehatan, klasifikasi ini menjadi acuan global bagi regulator dan industri.

Mengapa Kesadahan Air Penting untuk Industri Makanan?

Bagi industri makanan, khususnya pabrik mie dan restoran, kesadahan air bukan sekadar parameter kimia. Ion kalsium dan magnesium berinteraksi langsung dengan gluten dalam adonan tepung terigu, mengubah karakteristik reologi adonan. Studi eksperimental oleh Ştefan et al. (2015) yang diterbitkan di Journal of Engineering Studies and Research menunjukkan bahwa peningkatan kesadahan air secara signifikan mengubah stabilitas dan elastisitas adonan [2]. Air sadah juga menyebabkan endapan kerak (scale) pada peralatan dapur, menurunkan efisiensi termal, dan mempercepat pertumbuhan mikroba pada produk jadi.

Satuan Pengukuran Kesadahan Air

Di Indonesia, satuan yang paling umum digunakan adalah miligram per liter (mg/L) CaCO₃, sesuai standar PERMENKES. Satuan lain yang sering ditemui adalah derajat Jerman (°dH), dengan konversi 1 °dH setara 17,8 mg/L CaCO₃. Skala °dH: 0–4° lunak, 4–8° agak sadah, 8–12° sedang, 12–18° sadah, >18° sangat sadah. Instrumen seperti alat ukur kesadahan air Bante 322 mendukung 8 satuan pengukuran, termasuk mmol/L, mg/L CaO, °dH, °e, °fH, dan lainnya, sehingga memudahkan konversi untuk berbagai referensi standar.

Standar Kesadahan Air untuk Industri Makanan di Indonesia

Regulasi utama yang mengatur kesadahan air untuk keperluan higiene sanitasi adalah Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air. Tabel 3 peraturan ini secara eksplisit menetapkan batas maksimum parameter kesadahan (CaCO₃) sebesar 500 mg/L untuk air yang digunakan dalam kegiatan higiene sanitasi, termasuk proses produksi makanan [3]. Regulasi sebelumnya (Permenkes No. 492/2010 dan SK Menkes 907/2002) juga menetapkan angka yang sama, sehingga batas 500 mg/L telah menjadi standar yang konsisten di Indonesia.

Untuk industri mie, SNI 2987:2015 tentang mie basah mengatur kadar air maksimal 65% untuk mie basah matang dan 35% untuk mie basah mentah. Meskipun standar ini tidak secara langsung menyebut kesadahan air, kualitas air sangat memengaruhi kemampuan adonan menyerap air dan mencapai kadar air yang diinginkan. Air sadah dapat mengubah karakteristik penyerapan air, sehingga menyulitkan kontrol kualitas.

Fakta menarik: SNI 3553:2015 untuk air minum dalam kemasan (AMDK) tidak mensyaratkan parameter kesadahan, sementara PERMENKES mewajibkannya untuk air higiene sanitasi. Celah regulasi ini sering membingungkan pelaku industri makanan. Namun, untuk kepatuhan audit BPOM dan sertifikasi Halal, kesadahan air produksi tetap harus dipantau dan dicatat sebagai bagian dari sistem keamanan pangan.

Perbandingan Standar Nasional dan Internasional

Standar Batas Kesadahan (mg/L CaCO₃) Keterangan
PERMENKES 32/2017 500 (maksimum) Air higiene sanitasi
WHO (guidelines) Tidak ada batas kesehatan Klasifikasi: lunak <60, agak sadah 60–120, sadah 120–180, sangat sadah >180
US EPA 500 (rekomendasi estetika) Di atas 500 mg/L menyebabkan rasa dan kerak
Uni Eropa 200 (kandungan kalsium) Parameter indikatif

Indonesia mengadopsi batas yang sama dengan rekomendasi estetika US EPA. Namun, untuk aplikasi industri, nilai ideal biasanya jauh di bawah 500 mg/L, karena pada tingkat sadah (>120 mg/L) dampak negatif pada produk mie dan peralatan sudah mulai terasa.

Implikasi Hukum dan Sertifikasi (BPOM, Halal)

Saat audit BPOM atau sertifikasi Halal, auditor akan memeriksa kesesuaian kualitas air produksi dengan standar yang berlaku. Air yang melebihi batas 500 mg/L dapat dikategorikan tidak memenuhi syarat, berpotensi menyebabkan penolakan produk atau dikeluarkannya temuan (non-conformance). Oleh karena itu, dokumentasi hasil pengukuran kesadahan air secara rutin menjadi bukti kepatuhan yang kuat. Bisnis yang mengabaikan parameter ini berisiko menghadapi sanksi administratif hingga penghentian produksi sementara.

Dampak Air Sadah pada Produksi Mie dan Operasional Restoran

Air sadah memberikan dampak multidimensi yang sering tidak disadari hingga muncul masalah serius. Mari kita bedah satu per satu.

Pengaruh Air Sadah pada Tekstur dan Gluten Mie

Interaksi ion kalsium dengan gluten adalah kunci mengapa mie menjadi keras. Studi Ştefan et al. (2015) menunjukkan bahwa peningkatan kesadahan air meningkatkan stabilitas adonan (stability time) dari 6,5 menit (air suling) menjadi 9,4 menit (air sadah 48 °dH) [2]. Namun, bersamaan dengan itu, nilai Farinograph Quality Number (FQN) melonjak dari 45 menjadi 86, menandakan adonan menjadi lebih kaku. Lebih penting lagi, air alkalin (yang terjadi akibat kesadahan tinggi) menghambat pembentukan gluten yang elastis. Akibatnya, mie yang dihasilkan cenderung keras, kurang mengembang, dan mudah patah saat dimasak.

Data dari jurnal EduFood UNRAM menunjukkan kadar air mie basah berkisar antara 34,54%–37,61% untuk metode pengukusan dan lebih tinggi untuk perebusan. Air sadah mengurangi kemampuan adonan menahan air, sehingga mie lebih kering dan keras. Untuk mie instan, daya serap air bisa mencapai 60% dengan tambahan CMC, tetapi air sadah mengganggu konsistensi penyerapan.

Umur Simpan Mie dan Pertumbuhan Mikroba

Kesadahan air turut memengaruhi pH adonan. Air sadah cenderung meningkatkan pH, menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi pertumbuhan jamur dan bakteri. Penelitian menunjukkan umur simpan mie basah hanya 20–36 jam tergantung musim. Air sadah mempercepat pembusukan karena mikroba lebih cepat berkembang biak di lingkungan dengan kadar kalsium tinggi. Hal ini menyebabkan kerugian ekonomi akibat spoilage yang lebih tinggi.

Kerak pada Peralatan Dapur Restoran: Penyebab dan Dampak

Kerak putih (scale) yang sering terlihat pada panci stainless steel, boiler, dan mesin pencuci piring adalah endapan kalsium karbonat (CaCO₃) yang mengkristal saat air dipanaskan di atas suhu 60°C. WHO mencatat bahwa air sadah menyebabkan scale deposition in heated water applications yang melapisi permukaan dan mengurangi efisiensi heat exchanger [1]. Dalam konteks restoran, kerak ini:

  • Menurunkan efisiensi termal hingga 30%, sehingga waktu memasak lebih lama dan konsumsi energi meningkat.
  • Menjebak sisa makanan dan bakteri, menyulitkan pembersihan sempurna, dan berpotensi menimbulkan masalah keamanan pangan.
  • Memperpendek umur pakai peralatan dapur (panci, wajan, dispenser air panas).

Solusi pembersihan kerak bisa menggunakan campuran cuka dan baking soda untuk skala ringan, atau pembersih komersial untuk kerak tebal. Namun, pencegahan melalui pengelolaan kesadahan air jauh lebih efektif daripada pembersihan rutin.

Cara Mengukur Kesadahan Air: Dari Test Strip hingga Digital Meter

Memantau kesadahan air produksi adalah langkah pertama yang krusial. Ada tiga metode utama yang dapat disesuaikan dengan skala bisnis dan anggaran Anda.

Metode Test Strip: Praktis untuk Cek Cepat

Test strip adalah cara termudah dan termurah untuk mengetahui tingkat kesadahan secara kasar. Cukup celupkan strip ke dalam sampel air, tunggu beberapa detik, lalu bandingkan warna yang muncul dengan tabel referensi. Kelebihan: cepat, tanpa alat khusus, harga sekitar Rp50.000–200.000 per pack (50–100 strip). Kekurangan: akurasi terbatas, skala pengukuran terbatas (biasanya 0–500 mg/L), dan interpretasi warna subjektif. Cocok untuk restoran kecil atau startup yang perlu cek cepat tanpa investasi besar.

Metode Titrasi (Test Kit): Akurat dan Ekonomis

Test kit titrasi seperti Hanna HI3812 menggunakan reagen kimia untuk melakukan titrasi hingga titik akhir yang ditandai perubahan warna. Metode ini sesuai dengan SNI 06-6989.12:2004 yang menjadi standar laboratorium [4]. Kit ini memberikan hasil yang lebih akurat daripada test strip, dengan rentang ukur 0–300 mg/L (dapat diencerkan untuk nilai lebih tinggi). Harga kit sekitar Rp1–3 juta untuk 100 tes, atau Rp10.000–30.000 per pengujian – jauh lebih murah jika dibandingkan dengan biaya outsourcing ke laboratorium (Rp150.000–500.000 per sampel). Cocok untuk UKM dengan volume produksi menengah yang membutuhkan akurasi lebih baik dan dokumentasi hasil.

Digital Meter (Electrode): Presisi untuk QC Profesional

Untuk pabrik mie dan restoran franchise skala besar, digital meter adalah pilihan terbaik. Ada dua opsi utama di Indonesia:

  1. YD-300 – range 0–1000 mg/L CaCO₃, akurasi ±5% FS, harga sekitar Rp1–2 juta. Cukup untuk industri kecil dengan tingkat kesadahan rendah hingga sedang.
  2. Bante 322 – range sangat luas 0–19.999 mg/L CaCO₃, akurasi ±1% FS (jauh lebih presisi), kalibrasi 2–5 titik, memori 500 data, 8 satuan pengukuran, dan konektivitas USB. Harga berkisar Rp17–21,9 juta.

Bante 322 menggunakan metode elektroda ion selektif yang setara akurasi dengan titrasi EDTA, namun lebih cepat dan praktis. Alat ini mendukung kompensasi suhu otomatis (0–50°C) dan memiliki alarm kalibrasi berkala, memastikan hasil selalu andal.

Panduan Memilih Metode Berdasarkan Skala Bisnis

Skala Bisnis Metode Rekomendasi Budget Alat Biaya Per Tes Kelebihan
Restoran kecil/startup Test strip Rp50–200rb ~Rp1.000–2.000 Cepat, tanpa alat
UKM mapan (produksi harian <500 kg mie) Test kit titrasi (Hanna HI3812) Rp1–3 juta ~Rp10.000–30.000 Akurat, dokumentasi
Pabrik skala menengah / franchise Digital meter YD-300 Rp1–2 juta ~Rp500–1.000 Presisi sedang, hemat
Pabrik skala besar / chain restoran Digital meter Bante 322 Rp17–21,9 juta ~Rp500–1.000 Akurasi tinggi, memori besar, audit-ready

Frekuensi pengukuran ideal adalah setiap minggu untuk air baku dan setiap batch produksi jika ada perubahan sumber air.

Solusi Mengatasi Air Sadah untuk Skala UKM dan Industri

Setelah mengetahui tingkat kesadahan air, langkah selanjutnya adalah menurunkannya ke level yang aman (idealnya <120 mg/L CaCO₃). Berikut tiga teknologi utama yang dapat diterapkan.

Filtrasi Zeolit dan Karbon Aktif

Zeolit adalah mineral alami yang mampu menukar ion kalsium dan magnesium dengan natrium melalui proses pertukaran ion sederhana. Filter zeolit umumnya dikombinasikan dengan karbon aktif untuk menyaring kontaminan lain. Kelebihan: biaya awal rendah, mudah dioperasikan, cocok untuk skala kecil dengan tingkat kesadahan rendah-sedang. Kekurangan: kapasitas terbatas, perlu regenerasi atau penggantian media secara berkala, dan tidak efektif untuk kesadahan sangat tinggi (>300 mg/L).

Ion Exchange (Water Softener Resin)

Sistem softener menggunakan resin penukar kation yang secara kontinu menggantikan ion Ca²⁺ dan Mg²⁺ dengan Na⁺. Regenerasi dilakukan secara otomatis dengan larutan garam (NaCl). Metode ini sangat efektif menurunkan kesadahan hingga hampir 0 mg/L, dengan kapasitas besar dan biaya operasional relatif rendah. Cocok untuk UKM menengah dan restoran dengan volume penggunaan air tinggi. Resin perlu diganti setiap 2–5 tahun tergantung kualitas air dan frekuensi regenerasi.

Reverse Osmosis (RO) untuk Presisi Tinggi

Teknologi Reverse Osmosis menggunakan membran semipermeabel untuk menyaring ion, termasuk kalsium dan magnesium, hingga >99% efektivitas. Air produk RO sangat murni, mirip air suling. RO juga menghilangkan kontaminan lain seperti logam berat, klorida, dan mikroba. Berdasarkan data dari waterfilter.id, pabrik mie skala industri di Indonesia telah mengadopsi sistem RO 18.000 GPD (gallon per day) untuk menjamin konsistensi kualitas air [5]. Kelemahan: biaya investasi dan operasional lebih tinggi, serta membutuhkan perawatan membran rutin. Sangat cocok untuk pabrik mie skala besar dan chain restoran yang mengutamakan presisi mutu.

Rekomendasi Alat Ukur Kesadahan Air Profesional: Bante 322

Bagi bisnis yang serius menjaga kualitas air produksi, Bante 322 adalah investasi yang tepat. Alat ini merupakan water hardness tester portabel kelas profesional dengan spesifikasi yang melampaui kompetitor sekelasnya.

Spesifikasi dan Keunggulan Bante 322

  • Akurasi: ±1% Full Scale (FS) – jauh lebih presisi dibanding YD-300 (±5% FS) dan setara dengan metode titrasi laboratorium.
  • Rentang pengukuran: 0–19.999 mg/L CaCO₃ (0–1.122 °dH), mencakup semua kemungkinan kondisi air di Indonesia, dari air lunak hingga sangat sadah.
  • Kalibrasi: 2 hingga 5 titik menggunakan larutan standar 0.01–100 mmol/L – memberikan akurasi optimal di rentang yang diinginkan.
  • 8 satuan pengukuran: mmol/L, mg/L CaCO₃, mg/L CaO, °dH, °e, °fH, boiler, dan Ca²⁺ – fleksibel untuk berbagai standar dan kebutuhan pelaporan.
  • Memori 500 data dengan output USB – memudahkan dokumentasi untuk audit BPOM, Halal, atau internal QC.
  • Kompensasi suhu otomatis (0–50°C) dan auto-read function – meminimalkan kesalahan operator.
  • Daya tahan baterai: ~150 jam pemakaian kontinu (3× baterai AA).

Panduan Singkat Kalibrasi dan Perawatan

  • Kalibrasi awal: gunakan setidaknya 2 titik (misal 0.01 mmol/L dan 100 mmol/L) sesuai rentang pengukuran yang diharapkan.
  • Kalibrasi rutin: lakukan setiap minggu atau setelah 50 kali pengukuran. Bante 322 memiliki alarm kalibrasi yang dapat diprogram.
  • Perawatan elektroda: bilas dengan air suling setelah setiap penggunaan; simpan dalam larutan penyimpanan khusus; ganti elektroda setiap 1–2 tahun tergantung frekuensi pemakaian.
  • Lakukan verifikasi dengan larutan standar setiap bulan untuk memastikan akurasi.

Analisis ROI

Jika pabrik mie UKM sebelumnya mengirim sampel ke laboratorium setiap minggu (biaya Rp300.000/sampel), dalam satu tahun biaya mencapai Rp15,6 juta. Dengan membeli Bante 322 seharga Rp20–25 juta, investasi kembali dalam waktu kurang dari 1,5 tahun – tanpa memperhitungkan manfaat tak berwujud seperti pencegahan spoilage dan peningkatan kualitas produk.

Panduan Praktis: Langkah-Langkah Mengelola Kesadahan Air di Pabrik Mie dan Restoran

Berikut langkah sistemik yang dapat Anda terapkan mulai besok:

  1. Uji kesadahan air sumber – Gunakan metode yang sesuai skala bisnis. Catat nilai awal (air sumur, PDAM, atau tanki).
  2. Bandingkan dengan standar PERMENKES (500 mg/L) dan target ideal industri mie (<120 mg/L untuk menghindari dampak tekstur dan kerak).
  3. Jika melebihi target, pilih solusi penurunan kesadahan – Untuk restoran kecil: filter zeolit; untuk UKM menengah: softener resin; untuk pabrik besar: RO.
  4. Lakukan pengukuran rutin – Setiap minggu untuk air baku, setiap kali setelah regenerasi softener atau penggantian membran RO, dan setiap batch jika ada perubahan sumber air.
  5. Dokumentasikan hasil – Gunakan memori Bante 322 atau tulis manual di logbook. Data ini sangat berguna saat audit BPOM atau Halal.
  6. Bersihkan peralatan dari kerak secara berkala – Jadwalkan descaling mingguan menggunakan cuka encer untuk area dengan air sadah sedang, atau gunakan pembersih komersial untuk kerak tebal.

Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat menjaga konsistensi kualitas mie, memperpanjang umur simpan produk, dan memperpanjang usia pakai peralatan dapur. Bisnis Anda akan lebih efisien, biaya operasional turun, dan reputasi merek terjaga.

Kesimpulan

Kesadahan air adalah parameter kritis yang sering diabaikan dalam industri makanan, padahal dampaknya langsung terasa pada kualitas produk dan efisiensi operasional. Standar nasional melalui PERMENKES No. 32/2017 menetapkan batas maksimal 500 mg/L CaCO₃, namun untuk produksi mie dan operasional restoran, idealnya dijaga di bawah 120 mg/L untuk menghindari masalah tekstur dan kerak. Alat ukur yang tepat – dari test strip sederhana hingga digital meter profesional seperti Bante 322 – memungkinkan Anda memantau dan mengelola kesadahan air dengan presisi. Solusi pengolahan air seperti zeolit, softener resin, dan RO dapat diterapkan sesuai skala bisnis.

Jangan biarkan air sadah merusak produk mie dan peralatan restoran Anda. Mulailah dengan mengukur kesadahan air produksi sekarang. Untuk kebutuhan quality control yang akurat dan andal, pertimbangkan Bante 322 sebagai investasi jangka panjang. Kunjungi halaman produk Alat Ukur Kesadahan Air Bante 322 untuk informasi harga dan pemesanan.

CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur dan instrumen pengukuran, khusus menyediakan peralatan quality control untuk industri dan bisnis. Kami tidak bergerak di bidang jasa pengujian, konstruksi, atau konsultasi teknik – fokus kami adalah menyediakan alat ukur profesional yang membantu perusahaan Anda mengoptimalkan operasional dan memenuhi kebutuhan peralatan komersial. Jika Anda membutuhkan alat ukur kesadahan air atau instrumen QC lainnya untuk pabrik atau restoran Anda, hubungi tim kami untuk konsultasi solusi bisnis dan diskusikan kebutuhan perusahaan Anda.

Rekomendasi Water Hardness Tester


Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat informatif dan edukatif. Untuk kepastian kepatuhan regulasi, konsultasikan dengan laboratorium uji terakreditasi atau badan sertifikasi terkait. Produk yang disebutkan (Bante 322) merupakan salah satu opsi; evaluasi kebutuhan spesifik bisnis Anda.

Referensi

  1. World Health Organization. (2011). Hardness in Drinking-water: Background document for development of WHO Guidelines for Drinking-water Quality (WHO/HSE/WSH/10.01/10/Rev/1). Geneva: WHO. Retrieved from https://cdn.who.int/media/docs/default-source/wash-documents/wash-chemicals/hardness-bd.pdf
  2. Ştefan, E.-M., Voicu, G., Constantin, G.-A., Ferdeș, M., & Muscalu, G. (2015). The Effect of Water Hardness on Rheological Behavior of Dough. Journal of Engineering Studies and Research, 21(1), 1–8. Retrieved from https://pdfs.semanticscholar.org/793b/586b66ccefcc0bee1da2d1b480425850bc45.pdf
  3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum. Retrieved from https://www.slideshare.net/slideshow/permenkes-no-32-tahun-2017-ttg-standar-baku-mutu-kesehatan-kesling-dan-persyaratan-kesehatan-air-untuk-keperluan-higine-sanitasi-kolam-renang-solus-per-aqua-dan-pemandian-umum/79012238
  4. Badan Standardisasi Nasional. (2004). SNI 06-6989.12:2004 – Air dan air limbah – Bagian 12: Cara uji kesadahan total secara titrimetri. Jakarta: BSN.
  5. PT Solusi Tirta Abadi. (N.D.). Pengolahan Air Baku Pabrik Mie. Waterfilter.id. Retrieved from waterfilter.id (data dikutip dalam riset).
Konsultasi Gratis

Dapatkan harga penawaran khusus dan info lengkap produk alat ukur dan alat uji yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Bergaransi dan Berkualitas. Segera hubungi kami.