Setiap hari, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di ratusan industri di Indonesia mengalirkan effluent ke badan air. Satu kesalahan kecil dalam pengendalian kualitas bisa berujung pada pencemaran lingkungan, sanksi administratif, hingga pencabutan izin operasional. Regulator tidak hanya menuntut laporan di atas kertas; mereka membutuhkan bukti bahwa setiap tetes air yang keluar dari outlet telah memenuhi baku mutu yang ketat. Di sinilah parameter Daya Hantar Listrik (DHL) atau Electrical Conductivity (EC) memainkan peran vital sebagai indikator awal lonjakan kontaminan anorganik. Namun, mengukur EC effluent bukan sekadar mencelupkan alat. Anda memerlukan instrumen yang memberikan hasil cepat, akurat, dan mampu bertahan di kondisi lapangan yang keras. Hanna Primo 4 EC hadir sebagai solusi portabel untuk menjawab tantangan uji EC air limbah, memungkinkan operator IPAL menggabungkan data konduktivitas dengan pengujian TDS dan COD demi memastikan kepatuhan penuh terhadap regulasi yang berlaku.
- Overview Standar Baku Mutu Air Limbah di Indonesia
- Persyaratan dan Scope Pengujian Effluent
- Metode Pengujian yang Diwajibkan
- Alat yang Direkomendasikan: Hanna Primo 4 EC
- Implementasi di Lapangan
- Tantangan dan Solusi dalam Pengukuran EC
- Kesimpulan
- FAQ
- References
Overview Standar Baku Mutu Air Limbah di Indonesia
Kerangka regulasi pengelolaan air limbah di Indonesia menempatkan konduktivitas sebagai salah satu parameter kunci yang wajib dipantau. Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menetapkan batasan spesifik untuk berbagai jenis industri, dan memahami standar ini merupakan langkah pertama menuju kepatuhan.
Regulasi utama yang mengatur baku mutu air limbah mencakup Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik, serta peraturan spesifik untuk sektor industri tertentu seperti Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kawasan Industri. Dalam dokumen-dokumen tersebut, parameter Daya Hantar Listrik (DHL) atau EC muncul sebagai komponen penting yang mencerminkan konsentrasi ion-ion terlarut dalam air.
Nilai ambang batas EC bervariasi tergantung jenis industri dan peruntukan badan air penerima. Sebagai gambaran, effluent dari kawasan industri umumnya memiliki batas maksimum DHL yang lebih longgar dibandingkan dengan industri yang membuang ke sungai kelas satu. Parameter ini memiliki keterkaitan erat dengan Total Dissolved Solids (TDS), di mana nilai TDS secara estimatif merupakan 0,5 hingga 0,7 kali nilai EC, menjadikannya indikator cepat pencemaran anorganik seperti garam, asam, dan basa.
Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan memiliki kewajiban hukum untuk melakukan pemantauan rutin terhadap parameter-parameter tersebut. Abai terhadap kewajiban ini dapat berujung pada sanksi administratif berupa teguran, paksaan pemerintah, pembekuan izin, hingga pencabutan izin lingkungan. Lebih dari itu, pelanggaran baku mutu yang menyebabkan pencemaran serius bisa menjerat pelaku usaha dengan sanksi pidana sesuai Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Persyaratan dan Scope Pengujian Effluent
Program pemantauan effluent bukanlah aktivitas acak. Regulasi menetapkan persyaratan teknis yang jelas tentang siapa yang wajib menguji, parameter apa yang harus diukur, dan seberapa sering pengambilan sampel dilakukan. Uji EC menempati posisi strategis dalam kerangka pengujian menyeluruh ini.
Kewajiban uji effluent berlaku bagi berbagai jenis industri, mulai dari kawasan industri berskala besar, pabrik kelapa sawit dan karet, industri tekstil dan penyamakan kulit, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga usaha pertambangan dan migas. Skala usaha juga menjadi faktor penentu: semakin besar kapasitas produksi dan potensi dampak lingkungan, semakin ketat pula frekuensi pemantauan yang diberlakukan. Regulator umumnya merekomendasikan pengambilan sampel harian untuk parameter kunci seperti pH dan debit, sementara parameter EC, TDS, dan COD dapat dipantau secara harian hingga mingguan tergantung karakteristik proses produksi.
Hubungan antara EC, TDS, dan COD menciptakan segitiga informasi yang saling melengkapi. EC mengukur kemampuan air menghantarkan listrik yang berkorelasi langsung dengan kandungan garam-garam terlarut. TDS mengkuantifikasi total padatan terlarut yang mencakup mineral, garam, dan material organik terlarut. Sementara itu, COD mengindikasikan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi. Mengukur ketiganya memberikan gambaran komprehensif: lonjakan EC tanpa kenaikan COD yang signifikan mungkin mengindikasikan kontaminasi anorganik seperti kebocoran air garam atau asam, sedangkan kenaikan simultan EC dan COD bisa menandakan kegagalan proses biologis di IPAL.
Berikut perbandingan karakteristik ketiga parameter ini dalam konteks pengujian effluent:
| Parameter | Indikasi Utama | Metode Pengukuran | Frekuensi Rekomendasi |
|---|---|---|---|
| EC/DHL | Kontaminan anorganik (garam, asam, basa) | Konduktometri | Harian hingga mingguan |
| TDS | Total padatan terlarut | Gravimetri atau konversi EC | Mingguan |
| COD | Bahan organik teroksidasi | Refluks tertutup, titrimetri | Harian hingga mingguan |
Dokumentasi hasil uji EC harus mengikuti format pelaporan lingkungan yang berlaku. Setiap pencatatan wajib mencantumkan tanggal dan waktu pengambilan sampel, titik koordinat outlet, nilai EC terukur beserta suhu sampel, serta nama dan tanda tangan operator yang bertanggung jawab. Data ini menjadi bagian integral dari laporan pengelolaan lingkungan yang disampaikan secara berkala kepada instansi pengawas.
Metode Pengujian yang Diwajibkan
Akurasi data EC bergantung pada kepatuhan terhadap metode standar yang diakui secara nasional maupun internasional. Laboratorium lingkungan dan operator IPAL wajib mengacu pada prosedur baku untuk memastikan hasil pengukuran sah secara hukum dan ilmiah.
Metode rujukan utama untuk pengukuran konduktivitas pada sampel air limbah di Indonesia adalah SNI 06-6989.1-2004 tentang Cara Uji Daya Hantar Listrik (DHL). Standar ini mengadopsi prinsip-prinsip dari metode internasional APHA 2510 (Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater). Prinsip pengukurannya menggunakan konduktometri, di mana dua elektroda dengan jarak dan luas permukaan tertentu dicelupkan ke dalam sampel, kemudian instrumen mengukur resistansi listrik yang terjadi. Semakin tinggi konsentrasi ion dalam larutan, semakin rendah resistansinya—yang berarti semakin tinggi nilai konduktivitasnya.
Suhu merupakan faktor kritis yang memengaruhi hasil pengukuran EC. Setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celsius dapat meningkatkan nilai konduktivitas sekitar 2 persen. Oleh karena itu, standar SNI dan APHA mensyaratkan hasil EC selalu dinormalisasi ke suhu referensi 25 derajat Celsius. Instrumen modern seperti Hanna Primo 4 EC mengakomodasi kebutuhan ini melalui fitur Automatic Temperature Compensation (ATC) yang secara otomatis menghitung dan menampilkan nilai EC yang telah dinormalisasi.
Prosedur pengambilan sampel yang representatif menjadi kunci validitas data. Sampel harus diambil dari titik outlet IPAL yang telah ditetapkan dalam dokumen izin lingkungan, menggunakan wadah bersih berbahan polietilen atau kaca borosilikat yang telah dibilas tiga kali dengan sampel yang sama. Untuk pengukuran lapangan, probe konduktivitas dapat langsung dicelupkan ke aliran outlet, namun operator harus memastikan probe tidak menyentuh dinding atau dasar saluran untuk menghindari pembacaan yang bias.
Kalibrasi instrumen merupakan keharusan sebelum setiap sesi pengukuran. SNI 06-6989.1-2004 merekomendasikan penggunaan larutan standar kalium klorida (KCl) dengan konsentrasi yang diketahui. Larutan KCl 0,01 M memiliki konduktivitas 1413 µS/cm pada suhu 25 derajat Celsius dan menjadi standar kalibrasi yang paling umum digunakan. Prosedur kalibrasi satu titik mengacu pada nilai standar ini untuk memastikan akurasi instrumen sebelum melakukan pengukuran pada sampel effluent.
Alat yang Direkomendasikan: Hanna Primo 4 EC
Memilih instrumen uji EC yang tepat untuk aplikasi air limbah memerlukan pertimbangan terhadap akurasi, ketahanan, dan kemudahan operasional di lapangan. Hanna Primo 4 EC menjawab kebutuhan tersebut dengan desain yang dikembangkan khusus untuk pengukuran di lingkungan industri yang menantang.
Hanna Primo 4 EC merupakan instrumen pengukur konduktivitas portabel yang mengintegrasikan teknologi sensor canggih dalam bodi ringkas dan ergonomis. Perangkat ini menggunakan probe EC dengan elektroda ganda yang telah terpasang permanen, menghilangkan kebutuhan akan pemasangan atau penggantian probe yang rumit. Sertifikasi IP67 pada bodi utama memastikan perangkat tetap berfungsi meskipun terpapar cipratan atau bahkan terendam sementara, menjadikannya pilihan ideal untuk area sekitar unit IPAL yang cenderung basah dan lembap.
Sensor konduktivitas pada Hanna Primo 4 EC dilengkapi fitur Automatic Temperature Compensation (ATC) yang bekerja secara real-time. Mekanisme ini mengintegrasikan termistor di dalam probe untuk mendeteksi suhu aktual sampel dan secara otomatis mengoreksi pembacaan EC ke nilai ekuivalen 25 derajat Celsius. Hasilnya, operator tidak perlu melakukan perhitungan manual atau mengkhawatirkan fluktuasi suhu antara pengukuran pagi dan siang hari.
Rentang pengukuran instrumen ini mencakup 0 hingga 1999 µS/cm, yang mencakup sebagian besar nilai tipikal effluent industri ringan hingga menengah. Untuk aplikasi dengan konduktivitas lebih tinggi, model Hanna Primo 4 EC tertentu menawarkan rentang hingga 20,00 mS/cm. Fitur kalibrasi otomatis satu titik menggunakan larutan standar 1413 µS/cm memungkinkan operator menyelesaikan proses kalibrasi dalam waktu kurang dari satu menit. Sistem operasi satu tombol pada panel kontrol semakin menyederhanakan interaksi pengguna: tekan untuk menyalakan, celupkan probe, dan baca hasil pada layar LCD digital yang jernih.
Efisiensi energi menjadi pertimbangan penting untuk perangkat lapangan. Hanna Primo 4 EC mengintegrasikan indikator baterai rendah yang memberikan peringatan dini saat daya mulai menipis, serta fitur mati otomatis setelah periode tidak aktif yang dapat dikonfigurasi. Dengan konsumsi daya yang rendah, satu set baterai mampu mendukung operasional pengukuran harian hingga beberapa minggu, mengurangi risiko kegagalan pengukuran akibat kehabisan daya di tengah sesi pemantauan.
Implementasi di Lapangan
Mengintegrasikan Hanna Primo 4 EC ke dalam rutinitas pemantauan effluent memerlukan prosedur baku yang konsisten. Dari persiapan alat hingga pencatatan data, setiap langkah berkontribusi pada keandalan hasil yang akan dilaporkan kepada regulator.
Tahap persiapan dimulai dari verifikasi kondisi fisik instrumen. Operator harus memeriksa level baterai melalui indikator pada layar LCD dan mengganti baterai jika daya mendekati batas minimum. Pemeriksaan visual pada probe EC bertujuan memastikan tidak ada endapan, goresan, atau pertumbuhan biofilm pada permukaan elektroda. Larutan standar kalibrasi KCl 1413 µS/cm harus tersedia dalam wadah bersih pada suhu ruang, bersama dengan larutan pembilas berupa air deionisasi atau akuades dalam botol semprot. Siapkan juga tisu laboratorium yang tidak meninggalkan serat untuk mengeringkan probe secara hati-hati tanpa menggosok permukaan elektroda.
Prosedur pengukuran di titik outlet IPAL mengikuti alur kerja yang sistematis. Pertama, nyalakan instrumen dan lakukan kalibrasi: celupkan probe ke dalam larutan standar KCl, tunggu hingga pembacaan stabil, lalu tekan tombol kalibrasi. Kedua, bilas probe secara menyeluruh dengan akuades untuk menghilangkan residu larutan standar. Ketiga, ambil sampel air effluent dari titik outlet yang telah ditetapkan, masukkan ke dalam gelas ukur bersih, atau untuk pengukuran in-situ, celupkan probe langsung ke aliran outlet. Pastikan elektroda terendam sepenuhnya dan gelembung udara tidak terperangkap di sekitar sensor. Keempat, tunggu beberapa detik hingga pembacaan pada layar LCD menunjukkan angka yang stabil, lalu catat nilai EC bersama dengan suhu yang ditampilkan.
Pencatatan data harus dilakukan secara disiplin dalam logbook pengukuran atau aplikasi pencatatan digital. Setiap entri mencakup tanggal, waktu, identitas operator, nilai EC (dalam µS/cm), suhu sampel (dalam derajat Celsius), dan catatan observasi seperti warna atau bau sampel yang mungkin relevan untuk analisis lebih lanjut. Untuk instalasi dengan beberapa titik outlet, beri label yang jelas pada setiap titik pengukuran.
Interpretasi hasil dilakukan dengan membandingkan nilai EC yang tercatat terhadap baku mutu yang berlaku untuk jenis industri tersebut. Jika nilai EC melebihi ambang batas, operator harus segera mengaktifkan protokol tindakan korektif. Langkah ini dapat mencakup pengambilan sampel ulang untuk verifikasi, pemeriksaan proses IPAL (misalnya fungsi aerasi, dosis koagulan, atau kondisi membran), atau pengalihan aliran ke bak penampungan darurat. Tindakan korektif yang diambil beserta hasilnya wajib dicatat sebagai bagian dari rekam jejak kepatuhan lingkungan.
Tantangan dan Solusi dalam Pengukuran EC
Mengukur konduktivitas air limbah menghadirkan tantangan yang berbeda dari pengukuran air bersih di laboratorium. Karakteristik effluent yang kompleks menuntut kewaspadaan dan perawatan yang tepat untuk menjaga integritas data.
Kontaminasi elektroda merupakan masalah paling umum yang dihadapi operator IPAL. Minyak, lemak, protein, dan partikel tersuspensi dalam air limbah dapat membentuk lapisan fouling pada permukaan elektroda. Lapisan ini menghalangi kontak langsung antara sensor dan larutan, menghasilkan pembacaan yang lebih rendah dari nilai sebenarnya. Solusinya terletak pada pembersihan rutin: setelah setiap sesi pengukuran, bilas elektroda dengan akuades, lalu rendam sebentar dalam larutan pembersih khusus. Untuk deposit minyak dan lemak, larutan deterjen encer dapat digunakan, namun pastikan membilasnya secara sempurna sebelum penyimpanan. Hanna Instruments menyediakan larutan pembersih dan penyimpanan yang diformulasikan khusus untuk memelihara kondisi elektroda.
Fluktuasi suhu sampel menjadi tantangan kedua yang signifikan. Air limbah yang baru keluar dari proses industri mungkin memiliki suhu tinggi, sementara sampel di pagi hari bisa jauh lebih dingin. Tanpa kompensasi suhu yang akurat, data EC menjadi tidak dapat dibandingkan secara langsung. Hanna Primo 4 EC mengatasi ini melalui fitur ATC bawaan, namun operator tetap harus memastikan bahwa probe dan sampel telah mencapai kesetimbangan termal sebelum mencatat pembacaan. Hindari mengukur sampel yang baru diambil dari pipa panas secara langsung; biarkan sampel mendingin hingga suhu mendekati ambien untuk mengurangi beban kerja sistem ATC.
Keterbatasan operator dalam prosedur kalibrasi dan perawatan sering kali menjadi akar penyebab ketidakakuratan data. Banyak operator IPAL yang belum mendapatkan pelatihan memadai tentang pentingnya kalibrasi harian atau cara mengenali tanda-tanda degradasi elektroda. Solusi yang efektif meliputi pelaksanaan pelatihan singkat tentang pengoperasian Hanna Primo 4 EC, pembuatan Standard Operating Procedure (SOP) visual yang ditempel di dekat area pengukuran, serta penetapan jadwal penggantian elektroda proaktif berdasarkan frekuensi penggunaan. Selain itu, selalu simpan probe dalam larutan penyimpanan yang sesuai; jangan pernah menyimpan elektroda dalam keadaan kering karena dapat merusak lapisan aktif sensor secara permanen.
Kesimpulan
Kepatuhan terhadap baku mutu air limbah bukan sekadar formalitas administratif. Ia merupakan cerminan tanggung jawab industri terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Dalam kerangka pengendalian kualitas effluent, parameter EC memegang peranan strategis sebagai indikator dini lonjakan kontaminan anorganik yang dapat diukur dalam hitungan detik—jauh lebih cepat dibandingkan pengujian TDS atau COD yang memerlukan waktu lebih lama. Hanna Primo 4 EC menghadirkan solusi pengukuran yang menyelaraskan kecepatan, akurasi, dan ketahanan dalam satu perangkat portabel. Fitur seperti kompensasi suhu otomatis, kalibrasi satu titik yang sederhana, dan bodi tahan air IP67 menjadikannya instrumen yang dapat diandalkan di lingkungan IPAL yang keras sekalipun. Dengan perawatan elektroda yang konsisten dan kepatuhan terhadap prosedur pengukuran standar, alat ini akan menjadi andalan bagi operator IPAL dalam menjaga kepatuhan harian. Mulailah menerapkan uji EC rutin sebagai bagian dari budaya pengendalian mutu di fasilitas Anda demi mencegah pelanggaran baku mutu dan menjaga kelestarian lingkungan.
Memastikan setiap pengukuran di lapangan berjalan akurat membutuhkan instrumen yang tepat dan dukungan teknis yang terpercaya. CV. Java Multi Mandiri merupakan distributor resmi alat ukur dan alat uji di Indonesia yang secara khusus mendukung kebutuhan pengadaan perangkat pengukuran untuk berbagai sektor industri, termasuk instrumen pemantauan kualitas air dan air limbah. Kami siap menjadi mitra Anda dalam menyediakan Hanna Primo 4 EC serta berbagai instrumen pengujian lainnya yang sesuai dengan standar regulasi lingkungan. Untuk informasi lebih lanjut atau ingin mendiskusikan spesifikasi alat yang paling tepat untuk kebutuhan IPAL Anda, jangan ragu untuk menghubungi tim kami melalui layanan konsultasi gratis yang siap membantu setiap pertanyaan teknis Anda.
FAQ
Berapa rentang nilai EC yang dianggap sesuai baku mutu air limbah?
Rentang nilai EC yang sesuai baku mutu sangat bergantung pada jenis industri dan regulasi spesifik yang mengaturnya. Untuk air limbah domestik berdasarkan Permen LHK No. 68/2016, parameter DHL tidak secara eksplisit ditetapkan batasannya karena fokus utama berada pada parameter organik seperti BOD, COD, dan TSS. Namun, untuk baku mutu limbah cair kawasan industri berdasarkan Kepmen LH No. 51/1995, nilai DHL maksimum berkisar antara 1500 hingga 2250 µS/cm tergantung golongan industri. Beberapa sektor seperti industri tekstil atau penyamakan kulit mungkin memiliki batasan yang lebih tinggi. Selalu rujuk pada izin lingkungan spesifik fasilitas Anda karena dokumen tersebut mencantumkan nilai ambang batas yang berlaku.
Apakah Hanna Primo 4 EC dapat langsung menampilkan nilai TDS?
Hanna Primo 4 EC merupakan instrumen yang fokus pada pengukuran konduktivitas dan tidak dilengkapi dengan konversi otomatis langsung ke nilai TDS pada layarnya. Untuk mendapatkan estimasi nilai TDS, operator perlu mengalikan hasil EC dengan faktor konversi yang berkisar antara 0,5 hingga 0,7 tergantung karakteristik ionik larutan. Jika Anda memerlukan instrumen yang menampilkan TDS secara langsung, seri Hanna lain seperti Hanna Primo TDS Meter atau model dengan fungsi multi-parameter mungkin lebih sesuai. Namun, untuk keperluan pemantauan cepat di lapangan dan pelaporan EC sesuai standar regulasi, Hanna Primo 4 EC telah mencakup kebutuhan dasar dengan sangat baik.
Bagaimana cara merawat elektroda Hanna Primo 4 EC agar tetap akurat?
Perawatan elektroda yang tepat akan memperpanjang umur pakai dan menjaga akurasi pengukuran Hanna Primo 4 EC. Setelah setiap penggunaan, bilas elektroda dengan akuades secara menyeluruh untuk menghilangkan residu sampel. Jika terbentuk deposit atau fouling, rendam elektroda dalam larutan pembersih khusus selama 15-30 menit, kemudian bilas kembali dengan akuades. Jangan pernah menggosok permukaan elektroda dengan benda abrasif karena dapat menggores lapisan platinum pada sensor. Untuk penyimpanan jangka pendek antara pengukuran, simpan elektroda dalam larutan penyimpanan yang direkomendasikan. Untuk penyimpanan jangka panjang, basahi tutup pelindung probe dengan beberapa tetes larutan penyimpanan sebelum memasangnya. Hindari menyimpan elektroda dalam kondisi kering atau terendam dalam akuades biasa karena dapat merusak sensor.
Apa perbedaan antara EC, TDS, dan salinitas?
EC (Electrical Conductivity) mengukur kemampuan larutan menghantarkan arus listrik yang bergantung pada konsentrasi dan mobilitas ion-ion terlarut. TDS (Total Dissolved Solids) mengukur total massa padatan terlarut dalam larutan, mencakup garam anorganik, mineral, dan sejumlah kecil material organik. Salinitas secara spesifik mengukur konsentrasi garam-garam terlarut, terutama natrium klorida, dalam air. Meskipun saling terkait, ketiganya memiliki cakupan yang berbeda: EC adalah pengukuran fisik murni, TDS adalah pengukuran massa yang dapat dikonversi dari EC menggunakan faktor empiris, sedangkan salinitas adalah subset dari TDS yang hanya memperhitungkan kontribusi garam. Dalam konteks air limbah industri, pengukuran EC memberikan gambaran cepat tentang kontaminasi ionik total, sementara analisis TDS dan salinitas mungkin diperlukan jika terdapat kecurigaan spesifik terhadap kontaminasi garam tertentu.
Rekomendasi EC Meter
-

Alat Pengukur EC HANNA INSTRUMENT Primo 4 EC
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur EC HANNA INSTRUMENT Primo 5 EC
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur EC / TDS / Salinity HANNA INSTRUMENT HI2300
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur EC HANNA INSTRUMENT HI983302N
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur EC / TDS / NaCl / °C HANNA INSTRUMENT HI9835
Lihat produk★★★★★ -

Alat Pengukur EC HANNA INSTRUMENT BL983322
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur EC HANNA INSTRUMENT BL983320
Lihat produk★★★★★ -

Alat Pengukur EC HANNA INSTRUMENT BL983317
Lihat produk★★★★★
References
- Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik
- Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi Kawasan Industri
- Badan Standardisasi Nasional. SNI 06-6989.1-2004: Air dan Air Limbah – Bagian 1: Cara Uji Daya Hantar Listrik (DHL)
- American Public Health Association. Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater, 23rd Edition. Method 2510: Conductivity
- Hanna Instruments. Primo 4 EC Meter Instruction Manual














