Proses Pengolahan Minyak Sawit Sesuai SNI 2901:2021: Tahapan & Kontrol Mutu CPO

Industri kelapa sawit Indonesia memproduksi lebih dari 45 juta ton Crude Palm Oil (CPO) per tahun, menjadikannya komoditas ekspor strategis yang menopang perekonomian nasional. Namun, daya saing CPO Indonesia di pasar global sangat bergantung pada konsistensi mutu yang sesuai standar. Setiap tahun, sejumlah pabrik menghadapi kegagalan uji SNI karena parameter Asam Lemak Bebas (ALB), kadar air, dan kadar kotoran melampaui batas yang ditetapkan [1]. Artikel ini menyajikan panduan komprehensif yang menghubungkan parameter operasi harian di setiap stasiun pengolahan dengan parameter mutu SNI 2901:2021, berdasarkan data aktual dari pabrik sawit Indonesia. Dengan kerangka kerja “SNI Compliance Checklist” yang dapat ditindaklanjuti, manajer pabrik dan supervisor Quality Control dapat mendiagnosis penyimpangan, memprioritaskan perbaikan, dan memastikan produk lolos uji sertifikasi secara konsisten.

  1. Mengapa Standar SNI Penting dalam Pengolahan Minyak Sawit?
    1. Dampak Kualitas Rendah terhadap Daya Saing
  2. Tahapan Pengolahan Minyak Sawit dari TBS ke CPO Sesuai SNI
    1. Penerimaan dan Sortasi Tandan Buah Segar (TBS)
    2. Sterilisasi (Perebusan) TBS
    3. Pemipilan (Threshing) dan Pelumatan (Digester)
    4. Pengepresan (Screw Press)
    5. Klarifikasi CPO: Pemisahan Minyak, Air, dan Kotoran
    6. Pemurnian Akhir: Vacuum Dryer dan Purifikasi
    7. Penyimpanan CPO di Storage Tank
  3. Parameter Mutu CPO dalam SNI 2901:2021 dan Perbandingan dengan SNI Lama
    1. Parameter Tambahan: DOBI, Bilangan Iodin, Karoten
  4. Analisis Akar Penyebab Kegagalan Mutu CPO dan Solusinya
    1. Mengatasi Kenaikan ALB dari Hulu ke Hilir
    2. Pengendalian Kadar Air di Stasiun Klarifikasi dan Vacuum Dryer
    3. Mengurangi Kadar Kotoran melalui Optimasi Sand Trap dan Centrifuge
  5. Panduan “SNI Compliance Checklist” untuk Operator Pabrik
    1. Checklist Harian per Stasiun
    2. Prosedur Uji Ulang dan Sertifikasi Ulang (LSPro Kemenperin)
  6. Alat Ukur yang Diperlukan untuk Monitoring Kualitas CPO
  7. Kesimpulan
  8. Referensi dan Sumber

Mengapa Standar SNI Penting dalam Pengolahan Minyak Sawit?

Kepatuhan terhadap SNI 2901:2021 bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan juga menjadi penentu daya saing di pasar domestik dan internasional. Skema Sertifikasi CPO dari Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Samarinda, Kementerian Perindustrian, menetapkan bahwa setiap parameter mutu yang tidak memenuhi syarat SNI memberikan konsekuensi serius: perusahaan hanya diberikan kesempatan uji ulang maksimal tiga kali per sampel. Jika setelah uji ulang parameter masih gagal, proses sertifikasi dinyatakan tidak dapat dilanjutkan [2]. Dampaknya langsung terasa pada harga jual, akses pasar, dan reputasi perusahaan. Di sinilah pentingnya pengendalian mutu sejak hulu menjadi krusial.

Dampak Kualitas Rendah terhadap Daya Saing

Data dari penelitian pengendalian kualitas CPO menggunakan analisis Pareto di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) menunjukkan bahwa Asam Lemak Bebas (ALB) merupakan faktor dominan penyebab kegagalan mutu, dengan kontribusi sebesar 87,41% [3]. Kadar air menyumbang 11,21%, dan kadar kotoran hanya 1,39%. Temuan ini senada dengan data aktual dari PTPN IV PKS Parindu (2024) yang mencatat kadar ALB rata-rata 5,49% pada Juli dan 5,23% pada Agustus, melampaui batas SNI 5% [3]. Sementara itu, penelitian di PTPN Group (Universitas Jambi) menunjukkan kadar ALB rata-rata 3,75%, masih di atas standar internal perusahaan sebesar 3,50% [4]. Ini mengindikasikan bahwa tantangan utama industri bukan hanya memenuhi SNI, tetapi juga mencapai standar premium yang dituntut pasar global.

Tahapan Pengolahan Minyak Sawit dari TBS ke CPO Sesuai SNI

Proses pengolahan minyak sawit terdiri dari tujuh stasiun utama yang saling terkait. Setiap stasiun memiliki parameter operasi kuantitatif yang harus dikontrol secara ketat agar CPO yang dihasilkan memenuhi persyaratan SNI 2901:2021. Berikut uraian setiap tahapan beserta parameter kritisnya.

Penerimaan dan Sortasi Tandan Buah Segar (TBS)

Kualitas CPO dimulai dari kualitas bahan baku. TBS yang masuk ke pabrik harus melalui proses sortasi (grading) di loading ramp untuk memisahkan buah berdasarkan tingkat kematangan, kerusakan mekanis, dan kadar air. TBS mentah atau overripe memiliki kadar ALB awal yang tinggi akibat aktivitas enzim lipase. Waktu antara panen dan pengolahan menjadi faktor kritis: idealnya kurang dari 3,5 hari untuk mencegah hidrolisis trigliserida [1]. Data dari analisis mutu CPO di PKS PTPN V Tandun menunjukkan bahwa penanganan TBS yang kurang optimal berkontribusi langsung pada akumulasi kadar air dan kotoran di storage tank [5]. Oleh karena itu, investasi pada sistem grading yang akurat dan manajemen logistik TBS yang efisien merupakan langkah pertama yang tidak boleh diabaikan.

Sterilisasi (Perebusan) TBS

Sterilisasi bertujuan menginaktivasi enzim lipase penyebab kenaikan ALB, memudahkan pelepasan berondolan dari tandan, dan mempersiapkan daging buah untuk ekstraksi minyak. Parameter kritisnya adalah suhu 140–145°C, tekanan 40 psig (≈2,7–3 kg/cm²), dan waktu retensi 70–90 menit [1]. Over-sterilisasi (suhu terlalu tinggi atau waktu terlalu lama) dapat memicu reaksi oksidasi dan menurunkan DOBI (Deterioration of Bleachability Index), yang mengindikasikan kesulitan pemucatan pada tahap refining. Temuan dari studi kasus di PTPN VIII Kertajaya (tesis UGM) menekankan bahwa overload lori dan kurangnya waktu perebusan merupakan penyebab utama kenaikan ALB di stasiun sterilisasi [6]. Kontrol suhu dan tekanan secara real-time menggunakan termometer dan pressure gauge yang terkalibrasi menjadi keharusan.

Pemipilan (Threshing) dan Pelumatan (Digester)

Berondolan yang telah lepas dari tandan kemudian dipipil dan dilumatkan di digester pada suhu 90–100°C. Proses pelumatan bertujuan memecah dinding sel buah sehingga minyak dapat diekstraksi secara maksimal. Suhu digester harus dijaga stabil untuk mempertahankan viskositas minyak dan mencegah emulsi [1]. Kecepatan pengadukan juga perlu disesuaikan agar tidak terjadi pemisahan fase yang justru meningkatkan oil losses pada stasiun berikutnya.

Pengepresan (Screw Press)

Daging buah yang telah dilumatkan kemudian ditekan menggunakan screw press dengan tekanan optimal 42–45 bar. Tekanan yang tepat menghasilkan rendemen CPO maksimal tanpa menyebabkan kerusakan biji (kernel) dan peningkatan kadar kotoran dalam minyak. Hasil riset dari Instiper Yogyakarta menunjukkan bahwa tekanan di luar rentang tersebut dapat meningkatkan oil losses di serat (fiber losses) yang mencapai 4,11–4,98% berdasarkan data lapangan dari PTPN Group [4]. Pemantauan tekanan secara kontinu menggunakan pressure gauge menjadi faktor kritis.

Klarifikasi CPO: Pemisahan Minyak, Air, dan Kotoran

Stasiun klarifikasi adalah titik paling kritis dalam menentukan kualitas akhir CPO. Prinsip pemisahan didasarkan pada perbedaan berat jenis antara minyak, air, dan padatan (sludge). Proses dimulai dari Sand Trap Tank untuk mengendapkan pasir dan partikel kasar, kemudian dilanjutkan ke Continuous Settling Tank (CST), Vibrating Screen, Sludge Centrifuge, dan Oil Purifier Tank.

Parameter utama di CST adalah suhu 90–95°C dan waktu retensi 2–4 jam. Penelitian di Instiper Yogyakarta membuktikan bahwa pada suhu 90°C, kecepatan pengendapan sludge mencapai 0,3507 cm/detik, yang merupakan kondisi optimal untuk pemisahan [7]. Suhu yang lebih rendah akan meningkatkan viskositas minyak dan memperlambat pengendapan, sedangkan suhu terlalu tinggi (>95°C) dapat memicu hidrolisis trigliserida menjadi ALB. Oil losses pada stasiun klarifikasi (sludge losses) tercatat antara 0,71–1,50% [4], yang dapat ditekan dengan optimalisasi suhu dan waktu retensi.

Pemurnian Akhir: Vacuum Dryer dan Purifikasi

Setelah klarifikasi, CPO masih mengandung sejumlah kecil air dan kotoran terlarut. Vacuum dryer berfungsi mengurangi kadar air hingga di bawah 0,2% (standar industri premium) dengan cara menyemprotkan minyak melalui nozzle menjadi butiran halus di dalam ruang vakum. Parameter kritis: tekanan vakum –0,8 s/d –1 bar G dan suhu minyak 70–80°C [1]. Jika tekanan vakum tidak optimal, penguapan air tidak efisien dan kadar air tetap tinggi. Studi kasus penggantian nozzle vacuum dryer di PT LETAWA menggunakan metode 8 Steps (QCC) menunjukkan bahwa ukuran nozzle yang tepat secara signifikan menurunkan persentase moisture defect [8]. Setiap kenaikan suhu 1°C diperkirakan menguapkan 0,27% kadar air, sebagaimana dikonfirmasi oleh penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) di PT Umbul Mas Wisesa [9].

Penyimpanan CPO di Storage Tank

CPO yang telah dimurnikan disimpan dalam storage tank pada suhu 40–60°C. Suhu harus dikontrol untuk mencegah degradasi: terlalu rendah menyebabkan minyak mengeras dan sulit dipompa, terlalu tinggi mempercepat oksidasi dan kenaikan ALB. Drain kotoran (sludge) secara berkala juga penting karena partikel padat cenderung mengendap. Data dari PKS PTPN V Tandun menunjukkan tren peningkatan kadar kotoran harian dari 0,018% menjadi 0,026% selama 4 hari penyimpanan, mengindikasikan akumulasi kotoran jika drain tidak dilakukan rutin [5]. Modifikasi pipa inlet storage tank telah terbukti efektif mengurangi akumulasi sludge dan menjaga konsistensi mutu CPO [10].

Parameter Mutu CPO dalam SNI 2901:2021 dan Perbandingan dengan SNI Lama

SNI 2901:2021 yang diterbitkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN) menggantikan SNI 01-2901-2006 dan menjadi acuan wajib dalam sertifikasi CPO di Indonesia [11]. Tabel perbandingan di bawah ini memperlihatkan perubahan signifikan yang perlu dipahami oleh setiap pabrik.

Parameter SNI 01-2901-2006 SNI 2901:2021 Keterangan
ALB (sebagai asam palmitat) Maks 5,0% Maks 5,0% Tidak berubah
Kadar Air Maks 0,25% Maks 0,5% Dilonggarkan
Kadar Kotoran Maks 0,25% Maks 0,5% Dilonggarkan
DOBI Tidak disebutkan Biasanya dikontrakkan
Bilangan Iodin Tidak disebutkan Tidak disebutkan Bergantung spesifikasi

Meskipun batas kadar air dan kotoran diperlonggar di SNI 2021, standar internal pabrik dan permintaan pasar global (terutama India dan Eropa) justru lebih ketat: kadar air maks 0,25%, kadar kotoran maks 0,02–0,04% [5]. Data karakteristik CPO Indonesia yang dipublikasikan IOPRI dari 140 sampel yang mewakili 178 PKS di 15 provinsi menunjukkan rata-rata ALB 3,51%, kadar air 0,03%, kadar kotoran 0,02%, DOBI 2,24, dan bilangan iodin 52,10 [12]. Ini menandakan bahwa CPO Indonesia secara umum memiliki potensi kualitas tinggi, namun variabilitas antar pabrik masih perlu dikendalikan.

Parameter Tambahan: DOBI, Bilangan Iodin, Karoten

Selain ketiga parameter utama, DOBI (Deterioration of Bleachability Index) merupakan indikator penting yang mencerminkan tingkat oksidasi minyak dan kemudahan pemucatan pada proses refining. Nilai DOBI >2,5 dianggap premium, sementara DOBI 2,24 (rata-rata nasional) masih dalam kisaran acceptable. Bilangan iodin menunjukkan tingkat ketidakjenuhan lemak (rata-rata 52,10), sedangkan kandungan karoten (553 ppm rata-rata) merupakan sumber beta-karoten alami yang bernilai untuk produk oleopangan [12].

Analisis Akar Penyebab Kegagalan Mutu CPO dan Solusinya

Mengacu pada data aktual, 87,41% kegagalan disebabkan oleh kadar ALB yang melampaui batas, 11,21% oleh kadar air, dan hanya 1,39% oleh kadar kotoran [3]. Dengan menggunakan diagram Pareto, manajer pabrik dapat memfokuskan sumber daya pada faktor-faktor yang memberikan dampak terbesar. Berikut solusi teknis untuk masing-masing faktor.

Mengatasi Kenaikan ALB dari Hulu ke Hilir

ALB yang tinggi disebabkan oleh aktivitas enzim lipase yang memecah trigliserida menjadi asam lemak bebas dan gliserol. Faktor pemicu meliputi:

  • Kualitas TBS: Buah memar, overripe, atau waktu panen-olah terlalu lama. Solusi: sortasi ketat pada loading ramp, perbaikan logistik untuk memastikan TBS diolah <3,5 hari setelah panen.
  • Sterilisasi tidak optimal: Suhu atau waktu kurang. Solusi: jaga suhu 140–145°C, tekanan 2,7–3 kg/cm², waktu 70–90 menit [1]. Cek kebocoran pintu sterilizer (rekomendasi dari studi PTPN VIII [6]).
  • Klarifikasi suhu tidak stabil: Suhu CST <90°C meningkatkan viskositas dan waktu retensi, memperparah hidrolisis. Solusi: jaga suhu CST 90–95°C.
  • Penyimpanan: Suhu storage tank >60°C mempercepat oksidasi. Solusi: pertahankan 40–60°C dan drain kotoran rutin.

Penelitian FMEA di PT XYZ (USU) mengidentifikasi faktor mesin (RPN 336) sebagai penyebab dominan kenaikan ALB, menekankan pentingnya jadwal maintenance preventif pada mesin screw press, pompa, dan CST [13].

Pengendalian Kadar Air di Stasiun Klarifikasi dan Vacuum Dryer

Kadar air tinggi umumnya disebabkan oleh kinerja vacuum dryer yang tidak optimal. Solusi teknis yang telah divalidasi oleh riset meliputi:

  • Optimasi suhu dan tekanan vakum: Suhu minyak 70–80°C, tekanan vakum –0,8 s/d –1 bar G. Penelitian RAL di PT Umbul Mas Wisesa menunjukkan bahwa suhu 70°C dan 90°C dengan suhu pendinginan 44°C menghasilkan kadar air 3,0% yang memenuhi standar pabrik [9].
  • Penggantian nozzle vacuum dryer: Studi kasus PT LETAWA membuktikan bahwa pemilihan ukuran nozzle yang tepat dan penerapan metode 8 Steps mampu menurunkan defect moisture secara signifikan [8].
  • Pemantauan oil content di sludge: Sludge losses yang tinggi (>1,5%) menandakan pemisahan tidak sempurna, yang dapat memicu emulsi dan kadar air tinggi.

Mengurangi Kadar Kotoran melalui Optimasi Sand Trap dan Centrifuge

Kotoran dalam CPO terdiri dari pasir, serat halus, dan lumpur yang tidak tersaring sempurna. Data PKS PTPN V Tandun menunjukkan kadar kotoran rata-rata 0,021%, meningkat setiap hari selama penyimpanan [5]. Solusi yang telah terbukti:

  • Optimalisasi kecepatan sludge centrifuge: Kecepatan terlalu rendah tidak memisahkan partikel halus, kecepatan terlalu tinggi dapat merusak emulsi.
  • Drainase sand trap tank secara periodik: Pastikan pasir dan partikel kasar diendapkan sebelum masuk CST.
  • Modifikasi pipa inlet storage tank: Mengurangi turbulensi saat pengisian sehingga partikel lebih mudah mengendap [10].

Panduan “SNI Compliance Checklist” untuk Operator Pabrik

Untuk memastikan konsistensi mutu dan kesiapan sertifikasi, setiap pabrik perlu mengadopsi checklist harian yang mencakup parameter operasi di setiap stasiun. Tabel berikut merupakan contoh yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pabrik.

Checklist Harian per Stasiun

Stasiun Parameter yang Dipantau Batas Toleransi Frekuensi Pemeriksaan Tindakan Korektif jika Menyimpang
Penerimaan TBS Waktu panen-olah <3,5 hari Setiap truk masuk Sortasi ulang, percepat jadwal olah
Sterilisasi Suhu, tekanan, waktu 140–145°C, 2,7–3 kg/cm², 70–90 menit Setiap siklus Kalibrasi sensor, periksa regulator uap
Screw Press Tekanan 42–45 bar Setiap jam Setel ulang hidrolik, cek keausan ulir
Klarifikasi (CST) Suhu, waktu retensi 90–95°C, 2–4 jam Setiap 2 jam Atur suplai uap, tingkatkan sirkulasi
Vacuum Dryer Tekanan vakum, suhu –0,8 s/d –1 bar G, 70–80°C Setiap jam Bersihkan nozzle, periksa pompa vakum
Storage Tank Suhu, drain kotoran 40–60°C, drain harian Setiap shift Perbaiki pemanas, buka valve drain

Penggunaan alat ukur yang terkalibrasi secara rutin sangat penting: termometer digital (untuk suhu), pressure gauge (tekanan uap dan hidrolik), dan moisture meter atau vacuum oven (untuk kadar air) [14]. Data hasil pemantauan harus dicatat dalam logbook harian dan ditinjau setiap minggu untuk mendeteksi tren penyimpangan.

Prosedur Uji Ulang dan Sertifikasi Ulang (LSPro Kemenperin)

Jika hasil uji sampel CPO tidak memenuhi salah satu parameter SNI, perusahaan dapat mengajukan uji ulang sebanyak maksimal tiga kali untuk parameter yang sama pada contoh arsip [2]. Prosedurnya:

  1. Identifikasi parameter yang gagal (misal: ALB 5,5%).
  2. Ambil sampel arsip yang disimpan di pabrik.
  3. Kirim ke laboratorium uji terakreditasi KAN atau LSPro BSPJI Samarinda.
  4. Jika uji ulang kedua gagal, evaluasi proses secara menyeluruh (gunakan checklist di atas).
  5. Uji ulang ketiga menjadi kesempatan terakhir. Jika tetap gagal, proses sertifikasi dihentikan sementara dan pabrik harus memperbaiki sistem mutu sebelum mengajukan ulang.

Dokumen Skema Sertifikasi CPO dari BSPJI Samarinda juga menetapkan empat tahapan kritis dalam proses produksi yang harus terverifikasi: pemilihan bahan baku, perebusan (sterilisasi), pemurnian (klarifikasi), dan pengepresan [2]. Dengan memastikan keempat tahap ini berjalan sesuai parameter standar, risiko kegagalan uji SNI dapat ditekan secara signifikan.

Alat Ukur yang Diperlukan untuk Monitoring Kualitas CPO

Pengujian parameter mutu CPO dilakukan di laboratorium pabrik dengan metode standar yang diakui secara nasional dan internasional. Berikut alat ukur utama yang diperlukan di setiap tahap:

Parameter Metode Pengujian Standar Alat Ukur
ALB Titrasi asam-basa (AOCS Ca 5a-40) Buret digital, titrator
Kadar Air Oven vakum / moisture analyzer (MPOB) Moisture meter, vacuum oven
Kadar Kotoran Gravimetri (MPOB Test Method) Neraca analitik, kertas saring
DOBI Spektrofotometri UV-Vis (ISO 17932) Spektrofotometer
Bilangan Iodin Titrasi Wijs (AOCS Cd 1-25) Buret, larutan Wijs
Viskositas Rotational viscometer Viskometer
pH (air) Elektrometri (pH meter) pH meter (terkalibrasi)
Suhu / Tekanan Termometer, pressure gauge Termometer digital, pressure gauge

Kalibrasi alat ukur secara berkala oleh laboratorium terakreditasi (KAN) menjamin keakuratan data yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Dengan pemantauan yang konsisten, pabrik dapat mengidentifikasi penyimpangan lebih awal dan melakukan tindakan korektif sebelum produk diuji di LSPro.

Kesimpulan

Kunci utama menghasilkan CPO yang memenuhi standar SNI 2901:2021 terletak pada pengendalian parameter operasi di setiap stasiun, dimulai dari sortasi TBS hingga penyimpanan di storage tank. Analisis Pareto mengonfirmasi bahwa ALB adalah faktor dominan (87,41%) yang harus menjadi prioritas perbaikan. Dengan mengadopsi “SNI Compliance Checklist” yang terintegrasi dengan data aktual pabrik dan prosedur sertifikasi LSPro Kemenperin, setiap pabrik kelapa sawit dapat meningkatkan konsistensi mutu, mengurangi risiko gagal uji, dan memperkuat daya saing di pasar domestik maupun global. Mulailah dengan audit mutu menyeluruh di pabrik Anda, terapkan langkah-langkah korektif pada setiap stasiun secara sistematis, dan jadikan kepatuhan SNI sebagai budaya operasional yang berkelanjutan.

Sebagai mitra bisnis yang berkomitmen pada solusi pengukuran industri, CV. Java Multi Mandiri menyediakan berbagai alat ukur dan instrumen untuk mendukung monitoring kualitas CPO di pabrik Anda. Mulai dari timbangan analitik, thermometer digital, moisture meter, viskometer, pH meter, hingga spektrofotometer dan set titrasi ALB, seluruh produk kami dirancang untuk memenuhi kebutuhan teknis kalangan industri dan komersial. Jika perusahaan Anda memerlukan konsultasi atau solusi alat ukur untuk optimasi proses pengolahan sawit, tim kami siap mendampingi. Silakan diskusikan kebutuhan perusahaan Anda untuk mendapatkan penawaran yang sesuai dengan skala operasional dan target mutu yang ingin dicapai.

Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan mengacu pada standar SNI yang berlaku. Untuk penerapan spesifik, konsultasikan dengan lembaga sertifikasi resmi (LSPro Kemenperin).

Rekomendasi Moisture Meter

Referensi dan Sumber

  1. Nizam, A.F.A., & Mahmud, M.S. (2021). Food quality assurance of crude palm oil: a review on toxic ester feedstock. OCL, 28(1), EDP Sciences. Retrieved from https://www.ocl-journal.org/articles/ocl/pdf/2021/01/ocl200043.pdf
  2. Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Samarinda. (2025). Skema Sertifikasi CPO. Kementerian Perindustrian RI. Retrieved from https://bspjisamarinda.kemenperin.go.id/download/LSPro/2025/Skema-Sertifikasi-CPO.pdf
  3. Jurnal INTEGRATE Untan. (2025). Pengendalian Kualitas Crude Palm Oil (CPO) di PKS menggunakan Analisis Pareto dan Fishbone Diagram. Jurnal INTEGRATE, 9(2). Retrieved from https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jtinUNTAN/article/view/93403
  4. Firmansyah, H., Nizori, A., & Maharani, P. (2024). Identifikasi Kehilangan Minyak (Oil Losses) pada Setiap Stasiun Pengolahan Crude Palm Oil (CPO) di PT. XYZ. Universitas Jambi. Retrieved from https://repository.unja.ac.id/100647/
  5. Repository UIN Suska Riau. (2010). Analisa Mutu Crude Palm Oil (CPO) dengan Parameter Kadar ALB, Air, dan Kotoran di PKS PTPN V Tandun. Retrieved from https://repository.uin-suska.ac.id/10499/
  6. Repository UGM. (n.d.). Proses Pengendalian Asam Lemak Bebas (ALB) pada Produk Crude Palm Oil (CPO) di Stasiun Sterilisasi Pabrik Kelapa Sawit Kertajaya 1 PT Perkebunan Nusantara VIII. Tesis, Universitas Gadjah Mada. Retrieved from https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/177179
  7. Instiper Yogyakarta. (n.d.). Sifat Minyak Sawit pada Variasi Suhu dan Waktu. ePrints Instiper. Retrieved from https://eprints.instiperjogja.ac.id/id/eprint/2288/
  8. Yuselin, N. (n.d.). Penggantian Ukuran Nozzle Vacuum Dryer Menggunakan Metode 8 Steps untuk Mengurangi Moisture pada Crude Palm Oil (CPO) di PT LETAWA. Jurnal Technologic, Politeknik Astra. Retrieved from https://technologic.polytechnic.astra.ac.id/index.php/firstjournal/article/view/380
  9. Jurnal UISU. (n.d.). Pengaruh Suhu terhadap Kadar Air pada Crude Palm Oil di Vacuum Oil Dryer pada Stasiun Klarifikasi dengan Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL). Buletin Utama Teknik, 19(2). Retrieved from https://jurnal.uisu.ac.id/index.php/but/article/download/9870/6865
  10. Jurnal SPEJ. (n.d.). Kontrol Mutu CPO di Storage Tank untuk Mengurangi Kotoran (Sludge) pada saat Pencucian dengan Melakukan Modifikasi Pipa Inlet Oil Storage Tank. Sosial Politik Ekonomi dan …, IPM2KPE. Retrieved from https://ipm2kpe.or.id/journal.ipm2kpe.or.id/index.php/SPEJ/article/view/10721
  11. Badan Standardisasi Nasional. (2021). SNI 2901:2021 Minyak kelapa sawit mentah (Crude palm oil). Retrieved from https://pesta.bsn.go.id/produk/detail/13323-sni29012021
  12. IOPRI. (2023). Karakteristik CPO Indonesia. Warta IOPRI. Retrieved from https://pis.iopri.co.id/upload/wartaIOPRI/files/230823105337.pdf
  13. Talentaconfseries USU. (n.d.). Identifikasi Faktor Penyebab Kenaikan Asam Lemak Bebas pada Produksi CPO Menggunakan Metode FMEA di PT XYZ. Proceeding, Universitas Sumatera Utara. Retrieved from https://talentaconfseries.usu.ac.id/ee/article/view/2277
  14. Badan Standardisasi Nasional. (2006). SNI 01-2901-2006 Minyak kelapa sawit. (Diganti oleh SNI 2901:2021). Retrieved from https://scribd.com/document/373367884/SNI-01-2901-2006-Minyak-kelapa-sawit
Konsultasi Gratis

Dapatkan harga penawaran khusus dan info lengkap produk alat ukur dan alat uji yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Bergaransi dan Berkualitas. Segera hubungi kami.