Mengapa Kesadahan Air Penting untuk Kualitas Mie

Mie mengembang dan elastis di dekat gelas berisi air kapur, melambangkan pentingnya kesadahan air untuk kualitas mi.

Pernahkah Anda menemukan adonan mie yang tiba-tiba keras dan rapuh meskipun resep yang digunakan sama persis? Atau mungkin rasa mie produksi Anda tidak konsisten dari satu batch ke batch lainnya, bahkan umur simpannya lebih pendek dari yang diharapkan? Masalah-masalah ini seringkali membuat frustrasi, terutama bagi pemilik UKM dan tim Quality Control (QC) di industri pangan yang mengutamakan kualitas produk.

Salah satu variabel kritis yang sering diabaikan dalam proses produksi mie adalah kesadahan air. Kandungan mineral dalam air, terutama ion kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+), memiliki dampak signifikan terhadap hasil akhir produk mie—mulai dari tekstur, rasa, hingga daya tahannya.

Artikel ini adalah panduan definitif yang akan mengungkap mekanisme ilmiah di balik pengaruh air sadah terhadap mie, menyajikan data pengukuran yang akurat, dan memberikan solusi praktis yang dapat langsung Anda implementasikan. Kami akan membahas definisi kesadahan air, dampaknya pada tekstur dan rasa mie, cara mengukurnya dengan alat water hardness tester profesional, serta strategi untuk mengatasi masalah air sadah di lini produksi Anda.

  1. Apa Itu Kesadahan Air dan Mengapa Penting dalam Produksi Mie?
    1. Klasifikasi Kesadahan Air: Dari Lunak hingga Sangat Sadah
    2. Mengapa Kesadahan Air Harus Dipantau di Industri Mie?
  2. Bagaimana Air Sadah Merusak Tekstur Mie? Mekanisme Kimiawi dan Dampaknya
    1. Pengaruh Suhu dan Jumlah Air dalam Adonan
    2. Dampak pada Cooking Loss dan Kekenyalan Mie
  3. Dampak Air Sadah pada Rasa, Warna, dan Daya Tahan Mie
    1. Mengapa Air Sadah Membuat Rasa Mie Tidak Konsisten Antar Batch?
    2. Hubungan Kesadahan Air dengan Umur Simpan Mie
  4. Cara Mengukur Kesadahan Air untuk Produksi Mie
    1. Metode Digital: Water Hardness Meter Bante 322
    2. Metode Kimia: Hardness Test Kit Titrimetri
    3. Metode Laboratorium: Titrasi Kompleksometri SNI
  5. Standar dan Target Kesadahan Air Optimal untuk Mie
    1. Parameter Lain yang Perlu Dipantau: pH, Kekeruhan, Besi
  6. Solusi Mengatasi Air Sadah: Water Treatment hingga Optimasi Adonan
    1. Pilihan Sistem Water Treatment untuk Skala UKM dan Industri
    2. Tips Optimasi Adonan untuk Meminimalkan Dampak Air Sadah
  7. Kesimpulan
  8. Referensi dan Sumber

Apa Itu Kesadahan Air dan Mengapa Penting dalam Produksi Mie?

Kesadahan air adalah parameter kualitas air yang menunjukkan konsentrasi ion kalsium (Ca2+) dan magnesium (Mg2+) yang terlarut dalam air [1]. Ion-ion ini berasal dari tanah dan batuan yang dilalui air, terutama batu kapur (kalsium karbonat) dan dolomit. Dalam konteks produksi mie, kesadahan air menjadi sangat krusial karena ion-ion ini berinteraksi langsung dengan komponen utama adonan: protein gluten dan pati.

Air biasa umumnya memiliki konsentrasi CaCO3 kurang dari 60 mg/L, sementara air dikategorikan sebagai air sadah jika kandungannya melebihi 120 mg/L CaCO3 [2]. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 32 Tahun 2017 menetapkan batas maksimal kesadahan air minum sebesar 500 mg/L CaCO3, namun untuk produksi mie, ambang batas ini perlu jauh lebih rendah untuk menjamin kualitas produk optimal [1].

Klasifikasi Kesadahan Air: Dari Lunak hingga Sangat Sadah

Untuk memahami tingkat kesadahan air secara lebih terukur, berikut adalah klasifikasi berdasarkan konsentrasi CaCO3 menurut Peavy & Tchobanoglous [3]:

Kategori Kadar CaCO3 (mg/L)
Air lunak (soft) <50
Air sedang (moderate) 50–150
Air sadah (hard) 150–300
Air sangat sadah (very hard) >300

Untuk produksi mie yang berkualitas, air ideal berada pada kategori lunak hingga sedang, yaitu dengan kadar CaCO3 di bawah 150 mg/L. Pada tingkat ini, air tidak akan mengganggu proses hidrasi gluten secara berlebihan dan memungkinkan pembentukan jaringan gluten yang elastis dan kuat [2].

Mengapa Kesadahan Air Harus Dipantau di Industri Mie?

Pemantauan kesadahan air secara rutin menjadi keharusan di industri mie karena beberapa alasan kritis:

Variasi musiman air baku: Kualitas air dari sumber yang sama dapat berubah secara signifikan antara musim kemarau dan musim hujan. Pada musim kemarau, konsentrasi mineral cenderung lebih tinggi karena penguapan, sementara pada musim hujan, air permukaan yang lebih lunak dapat menurunkan kesadahan. Tanpa monitoring rutin, variasi ini akan menyebabkan inkonsistensi produk yang sulit dijelaskan [4].

Dampak negatif pada produk: Air sadah menyebabkan adonan menjadi keras dan rapuh, mie yang dihasilkan kurang kenyal, rasa menjadi tidak konsisten, dan umur simpan produk lebih pendek. Endapan mineral (scaling) juga dapat merusak peralatan produksi seperti mixer dan mesin pencetak mie, meningkatkan biaya perawatan [3].

Penelitian Six Sigma di industri makanan menunjukkan bahwa kapabilitas kualitas air baku hanya mencapai 89,65% dengan level sigma 3,3, dengan cacat dominan berupa pH asam, kekeruhan, dan kandungan besi [5]. Ini menegaskan bahwa pengelolaan kualitas air bukanlah opsi melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga mutu produk.

Bagaimana Air Sadah Merusak Tekstur Mie? Mekanisme Kimiawi dan Dampaknya

Untuk memahami mengapa air sadah menyebabkan masalah tekstur pada mie, kita perlu melihat mekanisme kimiawi yang terjadi pada tingkat molekuler. Gluten, yang merupakan protein utama dalam tepung terigu, terdiri dari dua komponen: gliadin (memberikan daya ekstensibilitas) dan glutenin (memberikan elastisitas). Saat air ditambahkan ke dalam tepung, kedua protein ini terhidrasi dan membentuk jaringan gluten tiga dimensi yang elastis [2].

Ketika air yang digunakan mengandung ion Ca2+ dan Mg2+ dalam konsentrasi tinggi, ion-ion ini berkompetisi dengan air untuk berikatan dengan glutation dan sistein yang terdapat dalam tepung. Ion kalsium khususnya memiliki afinitas tinggi terhadap protein, sehingga ia dapat mengikat langsung gugus sulfhidril (-SH) pada gluten, menghambat pembentukan ikatan disulfida (-S-S-) yang diperlukan untuk membangun jaringan gluten yang kuat dan elastis [6].

Akibatnya, gluten tidak dapat berkembang secara optimal, adonan menjadi keras, rapuh, dan sulit diuleni. Struktur mie yang dihasilkan pun kurang elastis dan cenderung mudah patah saat dimasak.

Pengaruh Suhu dan Jumlah Air dalam Adonan

Selain kesadahan, dua parameter lain yang sangat mempengaruhi kualitas adonan adalah suhu dan jumlah air yang digunakan. Teknologi Pengolahan Mie dari Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) menetapkan bahwa suhu adonan optimal berkisar antara 25–45°C [2].

Parameter Kondisi Optimal Dampak Jika Tidak Tercapai
Suhu adonan 25–45°C <25°C: adonan keras, rapuh, kasar
Jumlah air 28–38% dari berat tepung <28%: adonan rapuh, gluten tidak terhidrasi
Waktu pengadukan 2–10 menit <2 menit: gluten belum berkembang

Jika air yang digunakan sudah sadah, dan suhu adonan berada di bawah 25°C, efek negatifnya akan semakin parah. Adonan akan menjadi sangat keras dan sulit dibentuk, bahkan mungkin tidak dapat diproses sama sekali. Sebaliknya, jika suhu air dihangatkan hingga kisaran 30–40°C, hidrasi gluten akan lebih optimal dan sebagian efek negatif dari air sadah dapat diminimalkan [2].

Jumlah air juga harus tepat. Air yang terlalu sedikit (<28%) akan menghasilkan adonan yang rapuh karena gluten tidak terhidrasi sempurna. Air yang terlalu banyak (>38%) akan membuat adonan becek dan sulit dicetak. Untuk air sadah, mungkin diperlukan sedikit penyesuaian jumlah air karena ion mineral mempengaruhi kapasitas penyerapan air oleh tepung [6].

Dampak pada Cooking Loss dan Kekenyalan Mie

Cooking loss adalah parameter yang mengukur jumlah padatan yang hilang saat mie dimasak. Semakin tinggi cooking loss, semakin banyak nutrisi dan pati yang terlepas ke dalam air rebusan, yang tidak hanya menurunkan nilai gizi tetapi juga membuat tekstur mie menjadi lembek dan tidak kenyal.

Penelitian menunjukkan bahwa mie yang dibuat dengan air sadah cenderung memiliki cooking loss yang lebih tinggi. Sebagai contoh, cooking loss tertinggi pada mie prebiotik mencapai 14,020% pada rasio tertentu [6]. Hal ini terjadi karena jaringan gluten yang lemah akibat interaksi ion kalsium tidak mampu menahan granula pati dengan baik selama proses pemasakan. Akibatnya, pati keluar dari matriks gluten dan larut dalam air rebusan.

Kekenyalan mie juga terpengaruh secara langsung. Mie yang elastis dan kenyal membutuhkan jaringan gluten yang kuat dan terstruktur dengan baik. Air sadah mengganggu pembentukan jaringan ini, sehingga mie yang dihasilkan cenderung lembek dan mudah putus saat dimakan [7].

Dampak Air Sadah pada Rasa, Warna, dan Daya Tahan Mie

Pengaruh air sadah tidak berhenti pada tekstur saja. Dampaknya juga meluas hingga ke rasa, warna, dan umur simpan produk mie Anda.

Mengapa Air Sadah Membuat Rasa Mie Tidak Konsisten Antar Batch?

Salah satu keluhan paling umum dari produsen mie adalah rasa yang tidak konsisten dari satu batch ke batch lainnya. Variasi musiman kualitas air baku seringkali menjadi penyebab utama masalah ini.

Penelitian menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) menunjukkan bahwa pengendalian mutu proses (bobot 0,465) memiliki pengaruh lebih besar terhadap kualitas produk dibandingkan mutu bahan baku (bobot 0,328) dan mutu produk akhir (bobot 0,207) [8]. Ini berarti bahwa variasi dalam proses, termasuk kualitas air yang digunakan, akan berdampak signifikan pada konsistensi rasa.

Air sadah mengubah pH adonan, yang pada gilirannya mempengaruhi aktivitas enzim dan reaksi kimia selama proses pembuatan mie. Ion kalsium dan magnesium juga dapat berinteraksi dengan garam (NaCl) yang ditambahkan ke dalam adonan, mengubah profil rasa secara keseluruhan. Beberapa produsen melaporkan adanya aftertaste logam atau rasa pahit saat menggunakan air dengan kesadahan tinggi.

Garam sendiri berperan penting dalam mengencangkan gluten dan memberikan rasa dasar pada mie [9]. Namun, interaksi antara ion garam dengan ion kalsium dan magnesium dapat menghasilkan rasa yang tidak diinginkan dan tidak konsisten.

Hubungan Kesadahan Air dengan Umur Simpan Mie

Umur simpan produk mie, terutama mie basah, sangat dipengaruhi oleh kualitas air yang digunakan dalam proses produksinya. Mie basah tanpa pengawet hanya bertahan sekitar 40 jam pada suhu ruang [10]. Air sadah dapat memperburuk kondisi ini.

Beberapa mekanisme yang menyebabkan umur simpan lebih pendek akibat air sadah:

  1. Struktur mie yang kurang padat: Jaringan gluten yang lemah akibat interaksi ion kalsium menciptakan struktur mie yang lebih berpori. Struktur ini memungkinkan penetrasi air dan mikroorganisme lebih mudah, mempercepat pertumbuhan bakteri dan kapang [10].
  2. Aktivitas air (aw) yang lebih tinggi: Air sadah mempengaruhi distribusi air dalam matriks mie. Aktivitas air yang lebih tinggi menciptakan lingkungan yang lebih mendukung pertumbuhan mikroba [11].
  3. Kontaminasi mineral: Mineral dalam air sadah dapat bertindak sebagai katalis untuk reaksi oksidasi lemak, menyebabkan ketengikan lebih cepat pada produk mie goreng atau mie yang mengandung minyak.

Penelitian tentang umur simpan mie instan menunjukkan bahwa mie instan sagu memiliki umur simpan sekitar 35,81 hari pada suhu 27°C, sementara mie hotong (sejenis milet) dapat bertahan hingga 99,86 hari [12]. Variasi ini tidak hanya dipengaruhi oleh bahan baku tetapi juga oleh kualitas air dan kondisi proses produksi.

Cara Mengukur Kesadahan Air untuk Produksi Mie

Untuk mengatasi masalah kesadahan air, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengukurnya secara akurat. Ada tiga metode utama yang dapat digunakan, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Metode Digital: Water Hardness Meter Bante 322

Water Hardness Meter Bante 322 adalah alat ukur kesadahan air portabel profesional yang sangat cocok untuk monitoring harian di industri mie. Alat ini menawarkan spesifikasi teknis yang impresif:

Spesifikasi Bante 322
Rentang pengukuran 0–19999 mg/L CaCO3
Akurasi ±1% F.S.
Kalibrasi 2 hingga 5 titik (larutan 0.01–100 mmol/L)
Satuan pengukuran 8 satuan (mmol/L, mg/L CaCO3, mg/L CaO, °dH, °e, °fH, boiler, mg/L Ca)
Memori 500 set data
Output USB untuk transfer data ke PC
Baterai ~150 jam pemakaian

Keunggulan utama Bante 322 adalah kemudahan penggunaannya. Cukup celupkan elektroda ke dalam sampel air, dan dalam hitungan detik Anda akan mendapatkan hasil yang akurat. Alat ini juga memiliki kompensasi suhu otomatis, sehingga hasil pengukuran tetap akurat meskipun suhu air bervariasi [13].

Harga Bante 322 berkisar antara Rp 20.000.000 hingga Rp 35.000.000 tergantung distributor [14]. Meskipun membutuhkan investasi awal yang cukup besar, alat ini akan terbayar dengan sendirinya melalui peningkatan konsistensi kualitas produk dan pengurangan kerugian akibat produk cacat.

Metode Kimia: Hardness Test Kit Titrimetri

Bagi UKM dengan anggaran terbatas, hardness test kit titrimetri bisa menjadi alternatif yang lebih terjangkau. Metode ini menggunakan reagen EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid) dan indikator Eriochrome Black T (EBT) untuk menentukan kadar kesadahan melalui perubahan warna.

Cara kerjanya sederhana: tambahkan larutan EDTA tetes demi tetes ke dalam sampel air yang telah diberi indikator EBT. Air sadah akan menghasilkan warna merah anggur, dan saat semua ion kalsium dan magnesium telah terikat oleh EDTA, warna akan berubah menjadi biru. Jumlah tetesan EDTA yang digunakan kemudian dikonversi menjadi mg/L CaCO3.

Kelemahan metode ini adalah akurasinya yang lebih rendah dibandingkan metode digital dan memerlukan ketelitian manual yang lebih tinggi. Namun, untuk monitoring rutin, test kit ini sudah cukup memadai dan biayanya jauh lebih murah.

Metode Laboratorium: Titrasi Kompleksometri SNI

Untuk verifikasi berkala atau kalibrasi alat digital, metode laboratorium berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) tetap menjadi acuan resmi. SNI 06-6989.12:2004 mengatur cara uji kesadahan total secara titrimetri menggunakan EDTA [4].

Metode ini dilakukan di laboratorium dengan peralatan yang lebih lengkap dan membutuhkan waktu serta biaya yang lebih besar. Namun, untuk perusahaan yang menerapkan sistem manajemen mutu seperti ISO 9001 atau HACCP, pengujian laboratorium secara periodik sangat disarankan untuk memvalidasi hasil pengukuran rutin.

Metode Biaya Akurasi Kemudahan Frekuensi Penggunaan
Digital (Bante 322) Tinggi ±1% Sangat mudah Setiap hari
Test Kit Titrimetri Rendah ±5–10% Mudah Setiap hari/minggu
Laboratorium SNI Tinggi ±0.5% Perlu tenaga ahli Bulanan/triwulan

Standar dan Target Kesadahan Air Optimal untuk Mie

Setelah Anda dapat mengukur kesadahan air, langkah selanjutnya adalah menetapkan target yang jelas untuk produksi mie. Berdasarkan penelitian dan praktik industri, berikut adalah standar yang direkomendasikan:

Untuk produksi mie yang berkualitas, target kesadahan air optimal adalah <150 mg/L (setara kalsium karbonat), yang berada dalam kategori air lunak hingga sedang. Meskipun Permenkes RI No. 32/2017 mengizinkan batas maksimal 500 mg/L untuk air minum, untuk aplikasi mie, ambang batas yang lebih rendah diperlukan [1].

Air dengan kesadahan di atas 150 mg/L sudah mulai menunjukkan dampak negatif terhadap gluten, dan pada tingkat di atas 300 mg/L (sangat sadah), kualitas mie akan menurun secara signifikan.

Parameter Lain yang Perlu Dipantau: pH, Kekeruhan, Besi

Selain kesadahan, beberapa parameter kualitas air lain juga perlu dipantau secara rutin:

Parameter Target Optimal Dampak Jika Menyimpang
pH 6.0–7.0 pH <5.5 atau >7.5 mengganggu aktivitas enzim dan gluten
Kekeruhan <5 NTU Partikel tersuspensi mengotori adonan dan mempengaruhi warna
Besi (Fe) <0.3 mg/L Menyebabkan warna kecoklatan dan aftertaste logam
Klorin (Cl2) <0.1 mg/L Merusak protein gluten dan menyebabkan bau tidak sedap

Penelitian Six Sigma menunjukkan bahwa kapabilitas kualitas air baku di industri makanan hanya mencapai 89,65% dengan level sigma 3,3, dengan cacat dominan berupa pH asam, kekeruhan, dan kandungan besi [5]. Ini mengkonfirmasi bahwa pemantauan parameter-parameter ini sama pentingnya dengan kesadahan.

Solusi Mengatasi Air Sadah: Water Treatment hingga Optimasi Adonan

Setelah Anda mengetahui tingkat kesadahan air dan target yang ingin dicapai, langkah selanjutnya adalah mengimplementasikan solusi yang tepat. Berikut adalah strategi komprehensif mulai dari water treatment hingga optimasi adonan.

Pilihan Sistem Water Treatment untuk Skala UKM dan Industri

1. Resin Penukar Ion (Water Softener)

Untuk UKM dan industri skala menengah, sistem pertukaran ion menggunakan resin penukar kation adalah solusi yang paling efektif dan ekonomis. Air sadah dialirkan melalui resin yang mengandung ion natrium (Na+), dan ion kalsium serta magnesium dalam air akan dipertukarkan dengan natrium, menghasilkan air lunak [15].

Keunggulan sistem ini adalah biaya operasional yang relatif rendah, perawatan yang mudah, dan kapasitas yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan produksi. Resin yang sudah jenuh dapat diregenerasi menggunakan larutan garam (NaCl) dan dapat digunakan kembali.

2. Filter Karbon Aktif

Karbon aktif efektif untuk mengurangi klorin, senyawa organik, dan beberapa mineral yang mempengaruhi rasa dan bau air. Meskipun tidak mengurangi kesadahan secara langsung, filter ini penting untuk meningkatkan kualitas air secara keseluruhan [15].

3. Sistem Reverse Osmosis (RO)

Untuk industri skala besar yang membutuhkan air dengan kemurnian tinggi, sistem RO dapat menjadi pilihan. Air dilewatkan melalui membran semi-permeabel yang dapat menghilangkan hingga 99% mineral terlarut, termasuk ion kalsium dan magnesium. Biaya investasi dan operasional sistem RO lebih tinggi, namun hasilnya adalah air yang sangat murni.

Tips Optimasi Adonan untuk Meminimalkan Dampak Air Sadah

Jika sistem water treatment belum dapat diimplementasikan segera, atau sebagai langkah tambahan, berikut adalah tips optimasi adonan yang dapat membantu:

1. Atur Suhu Air

Panaskan air hingga suhu 30–40°C sebelum dicampur dengan tepung. Suhu hangat membantu hidrasi gluten yang lebih optimal dan dapat mengkompensasi sebagian efek negatif dari ion kalsium. Hindari penggunaan air dingin (<25°C) karena akan memperparah kekerasan adonan [2].

2. Sesuaikan Jumlah Air

Untuk air sadah, Anda mungkin perlu menambahkan sedikit lebih banyak air, namun jangan melebihi 38% dari berat tepung. Perhatikan bahwa air sadah cenderung mengurangi kapasitas serap air tepung, sehingga penambahan air harus dilakukan secara bertahap.

3. Gunakan Garam dan Kansui

Penambahan garam (NaCl) sekitar 1–2% dari berat tepung dapat membantu mengencangkan gluten dan memberikan rasa dasar. Air alkali (kansui atau larutan Na2CO3) dengan konsentrasi rendah juga dapat digunakan untuk memodifikasi pH adonan, membantu pembentukan gluten, dan memberikan tekstur kenyal khas mie [9].

4. Berikan Waktu Istirahat (Resting Time)

Setelah adonan diuleni, diamkan selama minimal 15–30 menit sebelum dicetak. Waktu istirahat memungkinkan gluten untuk rileks dan distribusi air menjadi lebih merata, menghasilkan adonan yang lebih elastis dan mudah dibentuk.

Kesimpulan

Kesadahan air adalah faktor krusial yang mempengaruhi kualitas mie secara menyeluruh—mulai dari tekstur, rasa, hingga daya tahan produk. Ion kalsium dan magnesium dalam air sadah berinteraksi dengan gluten, mengganggu pembentukan jaringan elastis, menyebabkan adonan keras dan rapuh, serta meningkatkan cooking loss.

Monitoring rutin dengan alat ukur yang tepat, seperti Water Hardness Meter Bante 322, adalah langkah pertama yang esensial. Dengan target kadar CaCO3 optimal di bawah 150 mg/L, Anda dapat menjaga konsistensi kualitas produk dan mengurangi kerugian akibat variasi musiman air baku.

Implementasi sistem water treatment—dari resin penukar ion untuk UKM hingga sistem RO untuk skala besar—ditambah dengan optimasi parameter adonan seperti suhu air 30–40°C, jumlah air 28–38%, dan penambahan garam atau kansui, akan membantu Anda mengatasi masalah air sadah secara efektif.

Mulai pantau kualitas air produksi mie Anda sekarang! Investasikan pada alat ukur kesadahan air profesional untuk quality control harian yang akurat dan mudah. Dengan pemantauan yang konsisten, Anda tidak hanya meningkatkan kualitas produk tetapi juga mengurangi biaya produksi dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

CV. Java Multi Mandiri adalah supplier dan distributor alat ukur dan instrumentasi testing yang terpercaya, khusus melayani kebutuhan bisnis dan aplikasi industri. Sebagai mitra bisnis yang memahami tantangan operasional perusahaan, kami menyediakan solusi pengukuran kesadahan air yang sesuai dengan standar industri untuk membantu Anda mengoptimalkan proses produksi. Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai kebutuhan alat ukur perusahaan Anda, silakan diskusikan kebutuhan perusahaan Anda dengan tim kami.

Disclaimer: Artikel ini bertujuan edukatif. Hasil produksi dapat bervariasi tergantung kondisi spesifik. Konsultasikan dengan ahli teknologi pangan untuk implementasi di industri.

Rekomendasi Water Hardness Tester

Referensi dan Sumber

  1. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 32 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum.
  2. Teknologi Pengolahan Mie: Teori dan Praktek. Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS). Tersedia di: https://tekpan.unimus.ac.id/wp-content/uploads/2013/07/Teknologi-Pengolahan-Mie-teori-dan-praktek.pdf
  3. Peavy, H.S., & Tchobanoglous, G. (1985). Environmental Engineering. McGraw-Hill. Klasifikasi kesadahan air sebagaimana dikutip dalam Wikipedia Indonesia – Kesadahan Air.
  4. Standar Nasional Indonesia SNI 06-6989.12:2004 tentang Cara Uji Kesadahan Total Secara Titrimetri.
  5. JITI UMS. (2020). Six Sigma Pengendalian Kualitas Air Produksi Makanan. Jurnal Ilmiah Teknik Industri, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
  6. Jurnal Pengolahan Pangan. Karakteristik Fisikokimia Mie dengan Variasi Kualitas Air. Tersedia di: https://pengolahanpangan.jurnalpertanianunisapalu.com/index.php/pangan/article/download/84/68
  7. Pengaruh Karakteristik Air terhadap Karakteristik Mi Basah. ResearchGate Publication No. 333246884.
  8. Semantic Scholar. (2020). Evaluasi Mutu Produk Mie Instan dengan Metode Analytical Hierarchy Process. Tersedia di: https://pdfs.semanticscholar.org/586e/b8179576531407e8ffeea94426faa59e4385.pdf
  9. Bungasari Flour Mills Indonesia. Rahasia Membuat Mie Kenyal dan Tidak Mudah Putus. Tersedia di: https://bungasari.com/rahasia-membuat-mie-kenyal-dan-tidak-mudah-putus-214
  10. Prosiding UNIMUS. Formulasi Mie Basah dan Daya Simpan. Tersedia di: https://prosiding.unimus.ac.id/index.php/semnas/article/download/1272/1277
  11. Tekpan UNIMUS. Penentuan Umur Simpan Produk Pangan. Tersedia di: https://tekpan.unimus.ac.id/wp-content/uploads/2013/11/p3274082_penentuan_umur_simpan-libre.pdf
  12. Media Neliti. Shelf Life Estimation of Instant Noodle. Tersedia di: https://media.neliti.com/media/publications/200560-none.pdf
  13. Bante Instruments. Bante 322 Water Hardness Tester Portable – Spesifikasi Teknis.
  14. Darma Sakti Group. Water Hardness Tester Portable Bante 322. Tersedia di: https://darmasaktigroup.com/p/water-hardness-tester-portable-bante-322
  15. Jurnal Formil (Forum Ilmiah) KesMas Respati. Efektivitas Filtrasi Air untuk Menurunkan Kesadahan.
Konsultasi Gratis

Dapatkan harga penawaran khusus dan info lengkap produk alat ukur dan alat uji yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Bergaransi dan Berkualitas. Segera hubungi kami.