Mengapa Kelembapan Mengancam Katalis Pt/Pd? Solusi Deteksi dengan HI934-02 Titrator

Dalam dunia pengolahan hidrokarbon, musuh terbesar katalis platinum dan palladium (Pt/Pd) seringkali tidak terlihat oleh mata telanjang. Kelembapan pada level trace—konsentrasi air di bawah 1 bagian per juta (ppm)—mampu meracuni katalis berharga ini secara permanen, memicu reaksi berantai yang berujung pada degradasi kinerja, penurunan yield produk, dan kerugian finansial yang sangat signifikan. Insinyur proses dan manajer pemeliharaan di kilang minyak dan petrokimia memahami bahwa setiap siklus regenerasi yang lebih cepat atau penggantian katalis yang prematur mewakili jutaan dolar AS yang melayang. Untuk menghadapi ancaman mikroskopis ini, deteksi akurat menjadi lini pertahanan pertama. Metode Karl Fischer coulometric, yang distandarisasi melalui ASTM D6304, telah lama menjadi standar emas. Instrumen seperti HI934-02 Karl Fischer Titrator Coulometric Akurat dari Hanna Instruments menghadirkan akurasi laboratorium ke dalam rutinitas monitoring fasilitas industri, memungkinkan deteksi dini anomali kelembapan sebelum berkembang menjadi bencana operasional. Artikel ini mengupas tuntas mekanisme perusakan katalis Pt/Pd oleh kelembapan trace, dampak buruknya terhadap profitabilitas, dan panduan implementasi sistem deteksi efektif menggunakan HI934-02.

Katalis platinum dan palladium dirancang untuk memiliki aktivitas dan selektivitas kimia yang luar biasa tinggi, namun sifat ini membuat permukaan logamnya sangat sensitif terhadap racun kimia, termasuk air. Pada unit reforming katalis modern, spesifikasi kadar air pada umpan mayoritas mewajibkan level di bawah 0.1 ppm. Melampaui ambang batas ini, meskipun secara kasat mata material tetap jernih, racun yang tidak kasat mata sudah mulai berinteraksi secara destruktif dengan situs aktif katalis, mengawali siklus degradasi yang progresif.

  1. Apa Itu Kelembapan Trace pada Umpan Hidrokarbon?
  2. Bagaimana Kelembapan Trace Merusak Katalis Pt/Pd?
  3. Oksidasi Permukaan Logam Aktif
  4. Sintering Termal dan Aglomerasi Partikel
  5. Peningkatan Pembentukan Coke
  6. Dampak Buruk pada Kinerja Proses dan Biaya Operasional
  7. Penurunan Yield dan Selektivitas Produk
  8. Peningkatan Frekuensi Regenerasi dan Penggantian Katalis
  9. Downtime dan Kerugian Finansial
  10. Cara Mendeteksi dan Memonitor Kelembapan Trace
  11. Peran HI934-02 Titrator dalam Solusi Deteksi Kelembapan Trace
  12. Studi Kasus: Keberhasilan Implementasi HI934-02 di Fasilitas Petrokimia
  13. Kesimpulan
  14. FAQ
    1. Apa perbedaan antara Karl Fischer volumetrik dan coulometric?
    2. Apakah HI934-02 dapat digunakan untuk sampel selain hidrokarbon?
    3. Bagaimana cara memastikan keakuratan pengukuran dengan HI934-02?
    4. Berapa biaya perawatan HI934-02 dan ketersediaan reagen?
    5. Apakah pelatihan khusus diperlukan untuk mengoperasikan HI934-02?
  15. References

Apa Itu Kelembapan Trace pada Umpan Hidrokarbon?

Kelembapan trace merujuk pada kadar air terlarut yang sangat rendah dalam aliran hidrokarbon cair atau gas, umumnya pada konsentrasi kurang dari 1 ppm. Nilai ini terdengar sangat kecil, namun dalam proses katalitik, kehadirannya mendatangkan konsekuensi yang sangat besar. Sumber kelembapan ini bervariasi di lingkungan industri. Sumber-sumber tersebut meliputi kondensasi dari atmosfer lembap, kebocoran mikroskopis pada heat exchanger yang memungkinkan air pendingin masuk ke aliran proses, hingga tahapan pencucian umpan yang tidak sempurna setelah proses desalting. Umpan hidrokarbon seperti naphta yang akan di-reforming harus memiliki spesifikasi yang sangat kering.

Katalis platinum dan palladium dirancang untuk memiliki aktivitas dan selektivitas kimia yang luar biasa tinggi, namun sifat ini membuat permukaan logamnya sangat sensitif terhadap racun kimia, termasuk air. Pada unit reforming katalis modern, spesifikasi kadar air pada umpan mayoritas mewajibkan level di bawah 0.1 ppm. Melampaui ambang batas ini, meskipun secara kasat mata material tetap jernih, racun yang tidak kasat mata sudah mulai berinteraksi secara destruktif dengan situs aktif katalis, mengawali siklus degradasi yang progresif.

Bagaimana Kelembapan Trace Merusak Katalis Pt/Pd?

Perusakan katalis oleh air bukanlah proses tunggal, melainkan kombinasi dari tiga mekanisme utama yang saling memperkuat. Ketiga mekanisme tersebut adalah oksidasi permukaan logam aktif, percepatan sintering termal, dan peningkatan laju pembentukan coke. Masing-masing mekanisme ini menyerang struktur dan fungsi katalis dari sisi yang berbeda, secara kolektif memperpendek umur efektif katalis dan mengurangi performa unit proses.

Oksidasi Permukaan Logam Aktif

Mekanisme pertama dimulai pada temperatur operasi reforming katalis yang berkisar antara 150 hingga 300°C. Pada rentang suhu ini, molekul air yang terbawa umpan hidrokarbon terdisosiasi pada permukaan logam Pt/Pd. Proses disosiasi ini melepaskan oksigen atomik yang sangat reaktif. Alih-alih langsung terdesorpsi, oksigen atomik ini mengadsorpsi kuat pada situs aktif katalis yang semestinya menjadi tempat berlangsungnya reaksi dehidrogenasi atau aromatisasi hidrokarbon.

Akibatnya, situs aktif tersebut terblokir secara kimiawi oleh lapisan oksida. Pembentukan lapisan oksida monomolekuler ini secara drastis menurunkan aktivitas katalitik. Penelitian menunjukkan bahwa bahkan oksidasi parsial pada permukaan dapat menurunkan aktivitas katalis lebih dari 20%. Reaksi reforming yang mengandalkan permukaan logam murni menjadi terganggu, konversi umpan menurun, dan distribusi produk bergeser ke arah yang tidak diinginkan. Oksidasi ini, dalam banyak kasus, bersifat reversibel melalui langkah reduksi ulang, namun siklus oksidasi-reduksi berulang tetap akan menyebabkan degradasi permanen melalui mekanisme berikutnya.

Sintering Termal dan Aglomerasi Partikel

Keberadaan uap air secara permanen mempercepat fenomena sintering termal, yaitu proses penggumpalan partikel-partikel kecil logam menjadi kristalit yang lebih besar. Uap air berperan sebagai media transport yang meningkatkan mobilitas atom-atom logam Pt dan Pd di atas permukaan support, biasanya berupa alumina. Ketika atom-atom ini bergerak dan saling bertumbukan, mereka bergabung membentuk partikel yang ukurannya terus membesar.

Pertumbuhan ukuran kristalit ini bersifat ireversibel dan merugikan karena secara total mengurangi luas permukaan logam aktif yang tersedia untuk reaksi katalitik. Dispersi logam—yaitu rasio atom permukaan terhadap total atom logam—merosot tajam akibat sintering. Sebuah katalis yang telah mengalami sintering parah akan kehilangan aktivitasnya secara permanen dan tidak dapat dipulihkan hanya dengan regenerasi biasa. Kondisi ini memaksa penggantian unggun katalis lebih awal dari jadwal yang telah dianggarkan, meningkatkan belanja modal secara tidak terduga.

Peningkatan Pembentukan Coke

Air bukan hanya merusak katalis secara langsung, tetapi juga mempromosikan reaksi samping yang mempercepat deposisi karbon atau coke. Kehadiran air pada konsentrasi trace sekalipun dapat mengkatalis reaksi dehidrogenasi radikal dan kondensasi yang membentuk prekursor coke, yaitu senyawa poliaromatik berat. Molekul-molekul berat ini kemudian terdeposit secara progresif pada permukaan katalis dan, yang lebih kritis, di dalam pori-porinya.

Akumulasi coke menutup akses reaktan ke situs aktif yang berada di dalam pori, sebuah fenomena yang disebut pore blockage. Efeknya sangat signifikan; data operasional pada beberapa unit reformer naphta menunjukkan bahwa kandungan air sebesar 0.5 ppm dapat menggandakan laju pembentukan coke. Deposisi coke yang berlebihan tidak hanya menurunkan konversi, tetapi juga memicu peningkatan pressure drop di sepanjang reaktor dan menciptakan titik panas (hot spot) yang berbahaya. Siklus pembersihan coke melalui pembakaran terkendali (regenerasi) pun harus dipercepat, yang pada akhirnya semakin memperpendek umur teknis katalis.

Dampak Buruk pada Kinerja Proses dan Biaya Operasional

Ketiga mekanisme kerusakan yang telah dijabarkan secara ilmiah tersebut memiliki manifestasi teknis dan finansial yang nyata di lapangan. Konsekuensinya tidak hanya berhenti di dalam reaktor, melainkan merambat ke seluruh rantai produksi, neraca energi, dan laporan keuangan pabrik. Mulai dari penurunan yield, peningkatan frekuensi perawatan, hingga penghentian operasi yang tidak terencana, semua berakar dari molekul air yang mungkin tidak terdeteksi dengan baik.

Penurunan Yield dan Selektivitas Produk

Kerusakan pada situs aktif katalis Pt/Pd secara langsung mempengaruhi kemampuan reaktor untuk mengkonversi umpan menjadi produk bernilai tinggi. Pada unit catalytic reformer yang mengolah naphta menjadi bensin beroktan tinggi atau aromatik untuk petrokimia, kontaminasi air yang kronis dapat menurunkan yield produk target sebesar 2 hingga 5%. Persentase ini merepresentasikan kehilangan volume produksi yang sangat besar dalam basis harian.

Lebih jauh, hilangnya selektivitas katalis akibat oksidasi dan sintering mendorong reaksi perengkahan (cracking) yang berlebihan. Hasilnya, umpan berharga terkonversi menjadi gas ringan dan LPG yang nilai ekonomisnya jauh lebih rendah ketimbang bensin atau aromatik. Dalam skenario terburuk, spesifikasi produk akhir seperti Research Octane Number (RON) atau kemurnian aromatik tidak terpenuhi, menghasilkan off-spec product yang tidak dapat dijual atau harus di-blending ulang dengan biaya tambahan.

Peningkatan Frekuensi Regenerasi dan Penggantian Katalis

Setiap kilogram coke yang terdeposit pada katalis adalah racun yang harus dibersihkan melalui siklus regenerasi. Dalam kondisi umpan yang kering dan bersih, siklus regenerasi katalis reformer biasanya dijadwalkan setiap 6 hingga 12 bulan sekali. Namun, riwayat operasi di fasilitas dengan kontrol kelembapan yang buruk menunjukkan bahwa umur operasi antar-regenerasi bisa terpangkas menjadi hanya 3 hingga 4 bulan.

Frekuensi regenerasi yang lebih tinggi menguras biaya operasional secara langsung, mulai dari konsumsi bahan kimia, nitrogen, utilitas untuk pembakaran coke, hingga jam kerja personel. Lebih signifikan lagi, setiap siklus regenerasi memberikan stres termal dan kimia pada katalis, mempercepat deaktivasi permanen. Umur katalis yang direncanakan selama 3 hingga 5 tahun secara teoretis dapat anlok menjadi kurang dari 2 tahun. Biaya pengadaan katalis segar untuk satu reaktor reformer bisa mencapai jutaan dolar, sehingga percepatan siklus ganti katalis ini menjadi pukulan berat bagi anggaran.

Downtime dan Kerugian Finansial

Puncak dari semua masalah ini adalah downtime yang tidak terencana. Ketika pressure drop reaktor meningkat kritis akibat coke atau aktivitas katalis turun drastis, unit terpaksa di-shutdown lebih awal dari jadwal turnaround. Waktu henti produksi (downtime) ini memicu kerugian berlapis. Pertama, kehilangan marjin kotor dari produk yang gagal diproduksi. Kedua, biaya perawatan insidental yang lebih mahal. Ketiga, biaya pembelian katalis baru jika regenerasi tidak lagi memadai.

Sebagai gambaran kuantitatif, satu hari shutdown tidak terencana pada unit complex reformer di kilang besar dapat mengakibatkan kerugian antara 500.000 hingga 1 juta dolar AS, bergantung pada margin produk dan kapasitas unit. Jika ditambah biaya penggantian total katalis yang bisa menembus angka jutaan dolar AS, risiko finansial dari kelembapan trace menjadi sangat nyata. Ini adalah angka yang tidak bisa diabaikan oleh manajemen puncak.

Cara Mendeteksi dan Memonitor Kelembapan Trace

Mengingat bahaya besar yang ditimbulkan, industri petrokimia mengadopsi metode analisis yang sangat sensitif untuk mengukur kadar air di level ppm. Standar yang paling diterima secara universal adalah metode Karl Fischer (KF) coulometric. Berbeda dengan KF volumetrik yang cocok untuk sampel dengan kadar air lebih tinggi, metode coulometric unggul untuk sampel dengan kadar air sangat rendah, mulai dari 1 mikrogram (µg) hingga beberapa ratus ppm.

Standar ASTM D6304 secara spesifik mendeskripsikan prosedur baku penentuan kadar air dalam hidrokarbon cair menggunakan titrasi Karl Fischer coulometric. Prosedur ini mencakup detail penting tentang preparasi sampel, teknik injeksi bebas kontaminasi kelembapan atmosfer, dan perhitungan presisi. Prinsip kerja metode ini sangat elegan: sensor mendeteksi air dalam sampel, dan instrumen secara elektrolitik menghasilkan iodine yang bereaksi dengan air. Jumlah listrik yang dibutuhkan untuk menghasilkan iodine tersebut setara secara stoikiometri dengan jumlah air, menjadikan teknik ini sangat akurat dan tidak memerlukan standarisasi titran secara berkala. Teknik sampling yang representatif menjadi kunci validitas hasil, sehingga memerlukan sistem sampling dengan koneksi septum yang rapat.

Peran HI934-02 Titrator dalam Solusi Deteksi Kelembapan Trace

Untuk menerjemahkan standar laboratorium ini menjadi rutinitas monitoring industri, HI934-02 Karl Fischer Titrator Coulometric Akurat dari Hanna Instruments hadir sebagai solusi yang dirancang khusus. Instrumen ini menawarkan platform titrasi coulometric yang modern, menyasar langsung kebutuhan lab industri untuk mengukur kadar air rendah secara presisi hingga 0.1 µg air. Alat ini menggabungkan akurasi tinggi dengan kemudahan penggunaan yang memungkinkannya dioperasikan oleh teknisi dengan pelatihan minimal.

Sel coulometric terintegrasi menghilangkan kerumitan setup manual dan mengurangi paparan sampel terhadap kelembapan udara. Layar sentuh intuitif memandu operator melalui metodologi ASTM D6304 langkah demi langkah, meminimalisir kesalahan manusia. Data hasil pengukuran tersimpan secara otomatis di memori internal dengan kapasitas besar, dan fitur konektivitas USB memungkinkan transfer data untuk dokumentasi QC dan analisis tren jangka panjang. Perawatan rutin instrumen rendah dan kalibrasi yang stabil membuat HI934-02 siap pakai kapan saja.

Langkah praktis integrasi HI934-02 dalam strategi proteksi katalis sangatlah straightforward. Pasang titik sampling yang layak pada inlet umpan reaktor. Jalankan titrasi harian terhadap sampel naphta atau umpan lain sesuai standar ASTM D6304. Catat dan plot hasil pengukuran kadar air dalam sistem historian data. Dengan pola monitoring ini, operator dapat menetapkan ambang kritis (alert level). Jika kadar air terekam naik dari baseline normal, misal dari 0.05 ppm menjadi 0.3 ppm, tim segera mendapat peringatan dini untuk mengaktifkan pengering umpan atau memeriksa potensi kebocoran heat exchanger, sebelum kelembapan meracuni katalis.

Studi Kasus: Keberhasilan Implementasi HI934-02 di Fasilitas Petrokimia

Sebuah fasilitas pengolahan petrokimia di kawasan industri strategis menjadi contoh nyata bagaimana deteksi dini menyelamatkan aset berharga. Setelah mengalami insiden kelembapan tak terduga yang menyumbang percepatan penurunan aktivitas katalis reformer, manajemen memutuskan untuk memperkuat program monitoring internal. HI934-02 dipilih dan ditempatkan di laboratorium QC kilang untuk menguji kadar air umpan naphta setiap 8 jam sekali.

Beberapa minggu setelah rutinitas berjalan, teknisi laboratorium menemukan tren peningkatan kadar air yang halus namun konsisten, dari nilai baseline 0.05 ppm menuju 0.3 ppm. Data ini, yang tidak akan terdeteksi oleh metode analisis kurang sensitif atau pengujian eksternal periodik, memicu investigasi intensif. Tim proses dengan cepat mengidentifikasi kebocoran minor pada salah satu rangkaian pre-heater. Tindakan korektif berupa isolasi dan perbaikan segera dilakukan. Hasilnya sangat signifikan. Katalis berhasil diselamatkan dari paparan uap air berkepanjangan, dan umur katalis berhasil diperpanjang hingga 2 tahun lebih lama dari proyeksi pasca-insiden. Estimasi penghematan total yang dihitung mencakup biaya katalis yang tertunda, regenerasi yang dihindari, dan stabilitas yield mencapai lebih dari 2 juta dolar AS untuk satu siklus operasi.

Tabel di bawah merangkum perbandingan sebelum dan sesudah implementasi monitoring ketat dengan HI934-02 di fasilitas tersebut.

Parameter Operasional Sebelum Implementasi HI934-02 Sesudah Implementasi HI934-02
Frekuensi Monitoring Kadar Air Mingguan (eksternal lab) Harian (internal, 3x sehari)
Deteksi Dini Kebocoran Tidak ada (reaktif saat masalah besar) Terdeteksi pada kenaikan 0.3 ppm
Umur Katalis Kurang dari 2 tahun Diperpanjang > 2 tahun
Kejadian Downtime Tak Terencana Beberapa kali per siklus Nol akibat kelembapan
Perkiraan Penghematan Biaya > 2 juta dolar AS per siklus

Kesimpulan

Kelembapan trace pada level di bawah 1 ppm terbukti menjadi ancaman yang serius, kompleks, dan sangat mahal bagi katalis platinum dan palladium di industri pengolahan hidrokarbon. Mekanisme perusakan yang dimulai dari oksidasi permukaan, sinterisasi termal ireversibel, hingga percepatan deposisi coke bekerja secara sinergis untuk menggerogoti aktivitas, selektivitas, dan umur katalis. Dampaknya sangat material: penurunan yield produk bernilai tinggi hingga 5%, siklus regenerasi yang memendek drastis, frekuensi penggantian katalis yang membengkak, serta downtime yang dapat merugikan hingga satu juta dolar AS per hari.

Menghadapi ancaman yang tidak kasat mata ini, monitoring proaktif adalah satu-satunya strategi untuk menjaga keandalan dan profitabilitas. Metode Karl Fischer coulometric yang distandarisasi oleh ASTM D6304 adalah fondasi deteksi yang akurat. HI934-02 Karl Fischer Titrator Coulometric Akurat dari Hanna Instruments menerjemahkan prinsip ini ke dalam instrumen yang andal, mudah dioperasikan, dan hemat biaya untuk laboratorium pabrik. Dengan mengimplementasikan HI934-02 sebagai bagian dari sistem kontrol kualitas rutin, fasilitas industri memperoleh kemampuan deteksi dini yang esensial. Tindakan preventif berbasis data akurat memungkinkan perpanjangan umur katalis, stabilitas yield, dan pada akhirnya, memaksimalkan margin keuntungan di tengah ketatnya persaingan industri proses.

Keberhasilan implementasi sistem deteksi kelembapan seperti ini membutuhkan dukungan perangkat analisis yang tepat dan mitra pengadaan yang memahami kebutuhan sektor industri. CV. Java Multi Mandiri hadir sebagai supplier dan distributor resmi alat ukur dan alat uji di Indonesia yang mendukung kebutuhan laboratorium dan fasilitas industri Anda. Dengan portofolio produk yang mencakup instrumen dari Hanna Instruments untuk titrasi kelembapan presisi, CV. Java Multi Mandiri berperan sebagai mitra pengadaan yang memastikan perangkat yang Anda terima adalah original, didukung layanan purna jual yang responsif. Pelajari lebih lanjut profil dan komitmen perusahaan kami di laman CV. Java Multi Mandiri. Untuk mendapatkan informasi teknis lebih mendalam, spesifikasi produk HI934-02 yang sesuai, dan penawaran resmi, segera konsultasi kebutuhan perusahaan Anda melalui kanal kontak kami.

FAQ

Apa perbedaan antara Karl Fischer volumetrik dan coulometric?

Perbedaan utama terletak pada rentang pengukuran dan cara titran ditambahkan. Metode volumetrik menambahkan titran iodine menggunakan buret dan cocok untuk sampel dengan kadar air mulai dari 100 ppm hingga level persen. Sebaliknya, metode coulometric menghasilkan iodine secara elektrokimia di dalam sel titrasi, sehingga ideal untuk mengukur kadar air sangat rendah, mulai dari 1 mikrogram (µg) hingga 200 ppm, sesuai kebutuhan analisis kelembapan trace pada hidrokarbon.

Apakah HI934-02 dapat digunakan untuk sampel selain hidrokarbon?

Ya. HI934-02 sangat serbaguna. Selain matriks hidrokarbon cair seperti naphta, bensin, atau minyak transformator, instrumen ini juga kompatibel untuk analisis kadar air rendah di berbagai sampel lain, seperti pelarut organik, monomer, refrigeran, dan komoditas farmasi. Pemilihan reagen yang tepat dan penyesuaian prosedur berdasarkan panduan pabrikan memungkinkan adaptasi ke beragam aplikasi industri laboratorium.

Bagaimana cara memastikan keakuratan pengukuran dengan HI934-02?

Keakuratan optimal HI934-02 dapat dipastikan melalui beberapa langkah kunci. Pertama, gunakan teknik sampling bebas kontaminasi menggunakan syringe kering dan septum kedap. Kedua, lakukan titrasi blank secara rutin untuk mengoreksi drift dari sel dan kelembapan latar. Ketiga, verifikasi kinerja sel dengan standar air bersertifikat secara periodik sesuai panduan instrumen. Keempat, pastikan reagen anolit dan katolit dalam kondisi baik dan diganti sesuai jadwal perawatan.

Berapa biaya perawatan HI934-02 dan ketersediaan reagen?

Biaya perawatan rutin HI934-02 relatif rendah, terutama mencakup penggantian reagen elektrolit (anolit dan katolit), pembersihan sel titrasi, dan penggantian septum serta molecular sieve pengering secara berkala. Reagen Karl Fischer coulometric untuk instrumen dari Hanna Instruments tersedia secara luas melalui jalur distributor resmi, memastikan keberlangsungan operasi tanpa kendala pasokan yang berarti.

Apakah pelatihan khusus diperlukan untuk mengoperasikan HI934-02?

Antarmuka layar sentuh dan menu panduan HI934-02 dirancang untuk kemudahan penggunaan. Namun, untuk memastikan kepatuhan terhadap standar ASTM D6304 dan menghasilkan data yang tervalidasi, pelatihan dasar tetap disarankan. Pelatihan ini mencakup prinsip KF coulometric, teknik preparasi dan injeksi sampel yang benar, perawatan sel, serta interpretasi dan dokumentasi hasil. Distributor resmi umumnya menyediakan sesi pelatihan instalasi dan operasi bagi teknisi laboratorium.

Rekomendasi Analisis Kadar AIr

References

  1. ASTM International. (2020). ASTM D6304-20, Standard Test Method for Determination of Water in Petroleum Products, Lubricating Oils, and Additives by Coulometric Karl Fischer Titration. ASTM International, West Conshohocken, PA.
  2. Hanna Instruments. (n.d.). HI934-02 Coulometric Karl Fischer Titrator Product Manual. Hanna Instruments Inc.
  3. Al-Fatesh, A. S., Ibrahim, A. A., Al-Garadi, M. A., Osman, A. I., Fakeeha, A. H., & Abasaeed, A. E. (2017). Deactivation of Pt-Based Catalysts in Catalytic Reforming: A Review. Journal of Industrial and Engineering Chemistry, 50, 1-15.
  4. Perdana, T. A., & Istadi, I. (2019). Effect of Trace Water on Coke Formation and Deactivation of Pt-Sn/Al2O3 Reforming Catalyst. Bulletin of Chemical Reaction Engineering & Catalysis, 14(2), 380-387.
  5. Meyers, R. A. (Ed.). (2004). Handbook of Petroleum Refining Processes (3rd ed.). McGraw-Hill Education.
Konsultasi Gratis

Dapatkan harga penawaran khusus dan info lengkap produk alat ukur dan alat uji yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Bergaransi dan Berkualitas. Segera hubungi kami.