Bagaimana HI99171 Mencegah Kegagalan Klorinasi Akibat pH Tinggi?

Cegah Kegagalan Klorinasi Akibat pH Tinggi ukur dengan HI99171 membantu operator memantau pH effluent secara langsung di lapangan sebagai dasar pengendalian proses klorinasi dan pengambilan keputusan yang lebih cepat.

Setiap hari, operator Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di berbagai sektor industri menghadapi tekanan yang sama: memastikan effluent memenuhi baku mutu sebelum dilepaskan ke lingkungan. Regulasi seperti Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan parameter ketat, termasuk pH effluent pada rentang 6–9 dan bebas dari kontaminasi mikrobiologis. Namun, satu variabel kecil yang sering terlewat justru menjadi biang keladi kegagalan disinfeksi—pH tinggi. Ketika pH air limbah melonjak di atas 7,5, efisiensi klorinasi anjlok drastis karena asam hipoklorit (HOCl), senyawa aktif pembunuh patogen, berubah menjadi ion hipoklorit (OCl⁻) yang daya disinfeksinya 80–100 kali lebih lemah. Akibatnya, meskipun dosis klorin sudah tinggi, hasil uji laboratorium tetap menunjukkan Total Coliform melampaui ambang batas. Di sinilah HANNA INSTRUMENT HI99171 hadir sebagai pH meter portabel yang memungkinkan Anda mengukur pH air limbah secara langsung di lapangan dalam hitungan detik, memberikan data akurat yang menjadi dasar penyesuaian kondisi sebelum klorinasi dimulai. Tanpa harus menunggu sampel kembali dari laboratorium, operator dapat segera mengoreksi pH ke rentang optimal 6,5–7,5, memastikan setiap tetes klorin bekerja maksimal.

  1. Tantangan Utama di Pengolahan Air Limbah
  2. Kebutuhan Pengujian yang Harus Dipenuhi
  3. Solusi dengan pH Meter Portabel
  4. Cara Kerja dan Aplikasi di Lapangan
    1. Langkah 1 — Persiapan dan Kalibrasi
    2. Langkah 2 — Pengambilan dan Pengukuran Sampel
    3. Langkah 3 — Interpretasi dan Tindak Lanjut
    4. Langkah 4 — Verifikasi Akhir
  5. Studi Implementasi Singkat
  6. Keunggulan Dibanding Metode Konvensional
  7. Tips Memilih Produk yang Tepat
  8. Kesimpulan
  9. FAQ
    1. Mengapa pH air limbah harus diturunkan ke 6,5–7,5 sebelum klorinasi?
    2. Apakah HI99171 hanya untuk sampel leather dan paper?
    3. Bagaimana cara membersihkan elektroda HI99171 setelah pengukuran air limbah?
    4. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil pengukuran?
  10. References

Tantangan Utama di Pengolahan Air Limbah

Mengelola proses klorinasi di IPAL bukan sekadar menuangkan bahan kimia sesuai dosis standar. Ada dinamika kimia yang sensitif terhadap perubahan kondisi air limbah, terutama pH. Memahami tantangan ini menjadi langkah awal untuk mencegah kegagalan disinfeksi yang berulang.

Kimia klorinasi sangat bergantung pada spesies klorin aktif yang terbentuk di dalam air. Ketika gas klorin (Cl₂) atau senyawa hipoklorit dilarutkan ke dalam air, reaksi hidrolisis menghasilkan asam hipoklorit (HOCl) dan ion hipoklorit (OCl⁻). HOCl merupakan agen disinfeksi yang sangat efektif karena mampu menembus dinding sel mikroorganisme dan merusak enzim vital mereka. Namun, proporsi HOCl terhadap OCl⁻ sepenuhnya ditentukan oleh pH air. Pada pH 6,5, lebih dari 90% klorin bebas berada dalam bentuk HOCl. Saat pH naik ke 7,5, proporsi HOCl turun menjadi sekitar 50%. Di atas pH 8, HOCl hanya tersisa kurang dari 25%—selebihnya berubah menjadi OCl⁻ yang nyaris tidak efektif sebagai biosida.

Fluktuasi pH influen merupakan realitas harian di banyak IPAL industri. Proses produksi seperti pencucian dengan deterjen alkali, netralisasi batch yang tidak sempurna, atau pembuangan larutan basa dari proses dyeing dan tanning dapat mengubah pH air limbah secara drastis dalam waktu singkat. Beban organik yang bervariasi juga memicu aktivitas biologis di bak ekualisasi yang menghasilkan senyawa amonia dan meningkatkan pH. Tanpa pemantauan real-time, operator sering tidak menyadari bahwa pH effluent yang masuk ke bak klorinasi sudah berada di atas 8.

Konsekuensinya langsung terlihat pada hasil uji mikrobiologi. Bakteri indikator seperti E. coli dan Total Coliform tetap terdeteksi di effluent meskipun residu klorin bebas terukur cukup. Perusahaan menghadapi risiko non-compliance, pengulangan pengolahan, dan potensi denda administratif. Studi lapangan menunjukkan bahwa IPAL yang hanya mengandalkan pengukuran pH harian di laboratorium tanpa verifikasi langsung di titik klorinasi mengalami tingkat kegagalan uji mikrobiologi 25–40% lebih tinggi dibandingkan IPAL yang memantau pH secara on-site sebelum dosing.

Kebutuhan Pengujian yang Harus Dipenuhi

Regulasi lingkungan Indonesia menempatkan pH sebagai parameter wajib dalam pemantauan kualitas air limbah. Kepatuhan terhadap persyaratan ini membutuhkan pendekatan pengukuran yang sistematis dan akurat.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.68 Tahun 2016 secara eksplisit menetapkan baku mutu pH effluent pada rentang 6–9 untuk sebagian besar sektor industri. Meskipun rentang ini terlihat longgar, kebutuhan praktis proses klorinasi jauh lebih sempit. Asam hipoklorit mencapai aktivitas maksimum pada pH 6,5–7,5, yang berarti operator harus mengontrol pH dalam window hanya 1,0 unit pH. Ini merupakan tantangan presisi yang tinggi, terutama ketika influen memiliki karakteristik yang berfluktuasi.

Pengukuran pH harus dilakukan segera sebelum pembubuhan klorin—bukan sekadar mengandalkan data historis dari bak ekualisasi yang diambil beberapa jam sebelumnya. Delay antara sampling dan pengujian menciptakan celah di mana pH dapat berubah akibat reaksi kimia lanjutan atau pencampuran dengan aliran lain. Dalam banyak kasus, operator menemukan bahwa pH di titik klorinasi berbeda 0,5–1,5 unit dari data yang tercatat di log harian. Perbedaan ini cukup signifikan untuk mengubah efektivitas disinfeksi secara drastis.

Di sinilah urgensi alat uji portabel menjadi jelas. Laboratorium internal memang memiliki pH meter benchtop dengan akurasi tinggi, tetapi waktu yang dibutuhkan untuk membawa sampel ke laboratorium, menunggu antrian pengujian, dan mendapatkan hasil bisa mencapai 30–60 menit. Selama jeda tersebut, ratusan meter kubik air limbah sudah melewati bak klorinasi dengan dosis yang mungkin tidak optimal. Industri membutuhkan instrumen yang memberikan jawaban langsung di titik sampling—alat yang tahan terhadap kondisi lapangan, mudah dioperasikan oleh teknisi tanpa latar belakang kimia analitik, dan memberikan hasil digital yang tidak ambigu.

Tidak kalah penting, alat pengukur pH untuk aplikasi air limbah harus mampu menangani sampel dengan kandungan padatan tersuspensi tinggi, minyak, atau material semi-padat. Lumpur dari bak sedimentasi, influen dengan serat dari industri kertas, atau limbah protein dari industri penyamakan kulit memerlukan elektroda khusus yang tidak mudah tersumbat atau terlapisi kontaminan. Tanpa desain elektroda yang tepat, hasil pengukuran menjadi tidak stabil dan cepat mengalami drift.

Solusi dengan pH Meter Portabel

Menjawab kebutuhan tersebut, HANNA INSTRUMENT HI99171 hadir sebagai pH meter portabel yang dirancang untuk bekerja pada sampel kompleks. Meskipun nama produknya menyebut “Leather and Paper,” kemampuannya jauh melampaui dua industri tersebut dan sangat relevan untuk aplikasi air limbah dengan karakteristik padatan tinggi.

HI99171 adalah pH meter genggam dengan konstruksi tahan air bersertifikasi IP67. Sertifikasi ini berarti alat dapat bertahan terhadap perendaman dalam air sedalam satu meter selama 30 menit—perlindungan krusial ketika bekerja di sekitar bak pengolahan yang basah atau saat hujan. Tubuh alat yang ergonomis dan ringan memungkinkan operator membawanya dengan mudah dari satu titik sampling ke titik lainnya tanpa kelelahan.

Yang membedakan HI99171 dari pH meter portabel generik adalah elektroda khusus yang menyertainya. Elektroda ini menggunakan bodi kaca yang diperkuat (reinforced glass body) dengan desain junction terbuka yang meminimalkan risiko penyumbatan oleh partikel atau serat. Desain ini memungkinkan kontak langsung antara elektroda referensi internal dan sampel, memberikan pembacaan stabil bahkan dalam lumpur aktif, influen berserat, atau effluent dengan kandungan lemak. Junction konvensional yang kecil mudah tersumbat oleh koloid dan protein, menyebabkan waktu respons melambat dan hasil yang tidak akurat—masalah yang secara langsung diatasi oleh desain elektroda HI99171.

Fitur teknis HI99171 mencakup rentang pengukuran pH 0,00 hingga 14,00 dengan resolusi 0,01 pH dan akurasi ±0,02 pH. Kompensasi suhu otomatis (ATC) terintegrasi melalui sensor suhu bawaan, memastikan pembacaan tetap akurat meskipun suhu sampel berfluktuasi antara 0 hingga 60°C. Kalibrasi dilakukan secara otomatis pada satu atau dua titik menggunakan set buffer standar (pH 4,01, 7,01, atau 10,01), dengan panduan langkah demi langkah yang ditampilkan di layar LCD. Indikator stabilitas membantu operator mengetahui kapan pembacaan sudah stabil dan siap dicatat, menghilangkan subjektivitas dalam menentukan waktu pengukuran.

Layar LCD besar menampilkan pembacaan pH dan suhu secara bersamaan, beserta indikator level baterai dan status kalibrasi. Semua informasi ini tersaji dalam satu pandangan, memudahkan pencatatan cepat di logsheet lapangan. Daya tahan baterai mencapai ratusan jam penggunaan, dan fitur auto-off membantu menghemat daya saat alat tidak aktif.

Cara Kerja dan Aplikasi di Lapangan

Mengintegrasikan HI99171 ke dalam alur kerja klorinasi air limbah sangatlah sederhana. Berikut adalah panduan langkah praktis yang dapat langsung diterapkan oleh operator IPAL.

Langkah 1 — Persiapan dan Kalibrasi

Sebelum memulai pengukuran harian, lakukan kalibrasi dua titik menggunakan buffer pH 7,01 dan pH 4,01. Nyalakan alat, bilas elektroda dengan air deionisasi, celupkan ke buffer pH 7,01, dan tekan tombol kalibrasi. Setelah pembacaan stabil dan tersimpan, ulangi proses dengan buffer pH 4,01. Indikator di layar akan mengonfirmasi bahwa kalibrasi berhasil. Untuk penggunaan intensif di IPAL, lakukan kalibrasi minimal sekali per shift kerja.

Langkah 2 — Pengambilan dan Pengukuran Sampel

Ambil sampel air limbah dari titik tepat sebelum bak klorinasi menggunakan wadah bersih. Bilas elektroda HI99171 dengan air bersih, lalu celupkan ke dalam sampel hingga junction sepenuhnya terendam. Aduk perlahan untuk menghilangkan gelembung udara yang mungkin menempel di permukaan sensor. Dalam 10–20 detik, pembacaan pH akan stabil, ditandai dengan ikon stabilitas di layar. Catat nilai pH yang tertera.

Langkah 3 — Interpretasi dan Tindak Lanjut

Jika pH terbaca dalam rentang 6,5–7,5, lanjutkan proses klorinasi dengan dosis standar. Jika pH di atas 7,5, lakukan penyesuaian dengan menambahkan larutan asam (umumnya asam sulfat H₂SO₄ 10–20%) secara bertahap ke dalam bak pencampur sambil terus diaduk. Ukur ulang pH setelah setiap penambahan menggunakan HI99171 hingga mencapai target 6,8–7,0. Hindari menurunkan pH di bawah 6,5 karena dapat menyebabkan korosi pada perpipaan dan efisiensi klorinasi justru menurun karena pembentukan gas klorin volatil. Setelah pH optimal tercapai, sesuaikan dosis klorin berdasarkan laju alir dan target residu klorin bebas.

Langkah 4 — Verifikasi Akhir

Setelah proses klorinasi selesai, ambil sampel effluent akhir dan ukur kembali pH serta residu klorin. Bandingkan hasil pengukuran lapangan ini dengan sampel yang dikirim ke laboratorium untuk analisis mikrobiologi. Data historis dari pencatatan rutin akan membantu mengidentifikasi pola fluktuasi pH dan mengoptimalkan strategi dosing jangka panjang.

Studi Implementasi Singkat

Sebuah IPAL industri kertas di Jawa Barat menghadapi masalah kronis: effluent secara berkala gagal memenuhi baku mutu parameter Total Coliform meskipun dosis klorin sudah ditingkatkan hingga 30% di atas perhitungan teoritis. Tim laboratorium menduga adanya interferensi dari senyawa organik yang mengonsumsi klorin (chlorine demand), namun penambahan dosis tidak membawa perbaikan konsisten.

Setelah melakukan investigasi menyeluruh dengan pengukuran pH on-site menggunakan HI99171, tim menemukan fakta yang selama ini tersembunyi. pH effluent yang keluar dari bak ekualisasi dan masuk ke bak klorinasi berkisar antara 8,2 hingga 8,8—jauh di atas rentang efektif HOCl. Fluktuasi tinggi ini disebabkan oleh penggunaan kaustik soda (NaOH) dalam proses pulping yang residunya terbawa ke saluran air limbah. Operator sebelumnya mengandalkan data pH dari laboratorium yang diambil hanya dua kali sehari, sehingga tidak menangkap lonjakan pH yang terjadi di antara waktu sampling.

Dengan HI99171, operator kini mengukur pH setiap dua jam langsung di titik sebelum klorinasi. Setiap kali pH terdeteksi di atas 7,5, mereka menambahkan asam sulfat bertahap ke dalam bak pencampur sambil memonitor penurunan pH secara real-time hingga mencapai 6,8. Dalam tiga bulan penerapan protokol ini, tingkat kegagalan uji Total Coliform turun dari rata-rata 30% menjadi kurang dari 2%. Perusahaan menghemat biaya pengulangan uji laboratorium, menghindari potensi denda dari otoritas lingkungan, dan yang terpenting, memastikan kepatuhan berkelanjutan terhadap izin pembuangan.

Keunggulan Dibanding Metode Konvensional

Untuk memberikan gambaran objektif, berikut perbandingan HI99171 dengan tiga metode pengukuran pH yang umum digunakan di fasilitas pengolahan air limbah.

Aspek pH Meter Portabel HI99171 Kertas pH Indikator pH Meter Laboratorium Titrasi Asam-Basa
Resolusi 0,01 pH 0,5–1,0 pH 0,01–0,001 pH ~0,1 pH (tergantung ketelitian)
Waktu hasil 10–20 detik 5 detik 5–30 menit (termasuk transport sampel) 10–30 menit
Akurasi di sampel keruh Tinggi (elektroda junction khusus) Sangat rendah (warna sulit dibaca) Tinggi (jika sampel difiltrasi) Sedang (indikator terganggu kekeruhan)
Portabilitas Sangat tinggi (genggam, IP67) Tinggi Rendah (terikat di lab) Rendah (perlu peralatan gelas)
Objektivitas pembacaan Digital, tidak ambigu Subjektif (persepsi warna) Digital, tidak ambigu Subjektif (perubahan warna)
Kebutuhan keahlian Rendah (otomatis) Sangat rendah Sedang Tinggi
Daya tahan elektroda di sampel agresif Tinggi (bodi kaca diperkuat, junction tahan fouling) Sekali pakai Bervariasi N/A
Biaya per pengujian (jangka panjang) Sangat rendah (hanya kalibrasi periodik) Rendah Rendah Sedang (bahan kimia)

Kertas pH indikator memang murah dan cepat, tetapi keterbatasannya sangat signifikan. Resolusi 0,5 unit pH berarti Anda tidak bisa membedakan pH 7,5 dengan 8,0—padahal di rentang inilah efektivitas klorinasi berubah drastis. Pembacaan kertas pH juga sangat subjektif, dipengaruhi oleh pencahayaan di lapangan dan kemampuan mata operator membedakan gradasi warna. Untuk operator dengan buta warna parsial, kertas pH praktis tidak bisa diandalkan.

pH meter laboratorium menawarkan akurasi tinggi, tetapi waktu yang hilang untuk membawa sampel ke laboratorium menciptakan jeda yang tidak bisa ditoleransi dalam kontrol proses. Sampel yang diambil dan dibiarkan selama 30 menit dapat mengalami perubahan pH akibat pelepasan CO₂, aktivitas mikroba, atau reaksi redoks yang terus berlanjut. Data yang dihasilkan mungkin akurat untuk kondisi di laboratorium, tetapi belum tentu merepresentasikan kondisi aktual di bak klorinasi.

Metode titrasi memerlukan keahlian analis yang terlatih, bahan kimia, dan peralatan gelas yang rentan pecah. Waktu yang dibutuhkan untuk satu analisis lengkap bisa mencapai 30 menit, tidak praktis untuk pemantauan rutin di lapangan.

HI99171 menjembatani semua kesenjangan ini: secepat kertas pH, seakurat pH meter laboratorium, dan sepraktis alat genggam yang siap dibawa ke mana saja. Biaya kepemilikan totalnya rendah karena elektroda yang tahan lama, prosedur kalibrasi yang sederhana, dan tidak ada konsumsi bahan kimia.

Tips Memilih Produk yang Tepat

Memilih pH meter portabel untuk aplikasi air limbah memerlukan pertimbangan yang cermat. Berikut adalah panduan praktis untuk memastikan Anda mendapatkan alat yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional.

Pertama, perhatikan spesifikasi rentang ukur dan akurasi. Untuk kontrol klorinasi, Anda membutuhkan resolusi minimal 0,01 pH dengan akurasi ±0,02 pH. Alat dengan resolusi 0,1 pH tidak cukup presisi untuk memonitor perubahan kecil di sekitar rentang kritis 6,5–7,5.

Kedua, pilih elektroda dengan desain yang sesuai untuk sampel air limbah. Junction terbuka atau junction multi-lubang (seperti yang digunakan HI99171) secara signifikan lebih tahan terhadap penyumbatan oleh partikel, lemak, dan protein dibandingkan junction keramik tunggal konvensional. Elektroda dengan bodi kaca yang diperkuat juga lebih tahan terhadap benturan tidak disengaja di lapangan.

Ketiga, pastikan alat mendukung kalibrasi dua titik otomatis dengan buffer standar. Fitur ini memudahkan operator melakukan kalibrasi tanpa perlu menghafal prosedur kompleks. Indikator stabilitas membaca—biasanya berupa ikon jam pasir atau simbol check—membantu menghilangkan keraguan tentang kapan sebaiknya mencatat hasil.

Keempat, cek durabilitas fisik. Sertifikasi IP67 memberikan ketenangan pikiran jika alat terjatuh ke dalam air atau terkena cipratan. Casing yang kokoh dan kompartemen baterai yang tersegel melindungi elektronik dari kelembaban dan korosi.

Kelima, pertimbangkan ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual. Elektroda adalah komponen yang akan aus seiring waktu dan perlu diganti. Pastikan distributor resmi menyediakan elektroda pengganti, larutan buffer kalibrasi, dan layanan servis jika diperlukan. HI99171, sebagai produk HANNA INSTRUMENT, didukung oleh jaringan distribusi global dan stok suku cadang yang memadai.

Untuk kebutuhan yang lebih lanjut seperti data logging atau konektivitas USB/Bluetooth, Hanna Instrument menawarkan model lain dalam keluarga HI991. Namun, untuk aplikasi dasar kontrol klorinasi di IPAL, HI99171 telah mencakup semua fitur esensial dengan harga yang kompetitif.

Kesimpulan

Efektivitas klorinasi air limbah tidak bisa dipisahkan dari kontrol pH yang ketat. Membiarkan pH effluent melampaui 7,5 sama dengan menyabotase investasi bahan kimia disinfeksi yang sudah dikeluarkan—klorin tetap dibubuhkan, tetapi mikroorganisme patogen tetap bertahan. Data lapangan membuktikan bahwa pengukuran pH on-site yang cepat dan akurat menjadi pembeda antara kepatuhan baku mutu dan kegagalan berulang yang merugikan.

HI99171 menawarkan solusi yang tepat guna untuk tantangan ini. Portabel, tahan air, dilengkapi elektroda khusus untuk sampel kompleks, dan memberikan hasil digital dalam hitungan detik, alat ini mengisi celah kritis antara laboratorium dan lapangan. Operator tidak perlu lagi menebak atau menunggu—mereka dapat mengukur, memutuskan, dan bertindak dalam satu rangkaian kerja yang mulus.

Mengintegrasikan HI99171 ke dalam protokol harian IPAL bukan sekadar memenuhi persyaratan regulasi. Ini adalah langkah proaktif untuk mengoptimalkan biaya bahan kimia, menghindari risiko non-compliance, dan menjaga reputasi perusahaan di mata regulator dan masyarakat. Dalam jangka panjang, penghematan dari berkurangnya kegagalan uji dan denda jauh melampaui investasi awal alat ini.

Sebagai distributor resmi alat ukur dan alat uji di Indonesia, CV. Java Multi Mandiri mendukung proses pengujian dan pengukuran berbagai macam kebutuhan industri. Kami menyediakan HANNA INSTRUMENT HI99171 dan berbagai instrumen pengukuran lainnya untuk membantu Anda mencapai standar operasional yang diinginkan. Dapatkan informasi lebih lanjut dan konsultasikan kebutuhan spesifik aplikasi Anda melalui layanan konsultasi gratis kami. Temukan solusi yang sesuai dengan aplikasi Anda.

FAQ

Mengapa pH air limbah harus diturunkan ke 6,5–7,5 sebelum klorinasi?

Klorinasi air limbah mengandalkan asam hipoklorit (HOCl) sebagai agen disinfeksi utama. HOCl memiliki kemampuan penetrasi yang sangat tinggi ke dalam sel mikroorganisme dan merusak sistem enzim mereka secara cepat. Namun, proporsi HOCl dalam air sangat bergantung pada pH. Pada pH di atas 7,5, HOCl terdisosiasi menjadi ion hipoklorit (OCl⁻) yang efektivitas disinfeksinya sekitar 80–100 kali lebih rendah. Pada pH 8,5, kurang dari 15% klorin bebas berada dalam bentuk HOCl aktif. Dengan menurunkan pH ke rentang 6,5–7,5, lebih dari 75–95% klorin bebas tetap sebagai HOCl, memberikan efisiensi pembunuhan patogen yang optimal. Hal ini krusial untuk memenuhi parameter mikrobiologi dalam baku mutu effluent.

Apakah HI99171 hanya untuk sampel leather dan paper?

Meskipun dinamai “Leather and Paper pH Portable Meter,” HI99171 tidak terbatas pada dua aplikasi tersebut. Penamaan ini merujuk pada desain elektroda khusus yang tahan terhadap sampel dengan kandungan padatan, serat, protein, dan material semi-padat—karakteristik yang umum ditemukan di industri kulit dan kertas. Namun, karakteristik yang sama juga membuatnya sangat cocok untuk air limbah dari berbagai sektor industri lain, termasuk makanan dan minuman, tekstil, farmasi, dan pengolahan air limbah domestik. Elektroda dengan junction terbuka yang tahan fouling memberikan performa unggul pada sampel keruh, berlumpur, atau berminyak yang sering dijumpai di IPAL manapun.

Bagaimana cara membersihkan elektroda HI99171 setelah pengukuran air limbah?

Membersihkan elektroda HI99171 setelah terpapar air limbah sangatlah penting untuk menjaga akurasi dan memperpanjang umur pakai sensor. Ikuti langkah berikut: Pertama, bilas elektroda dengan air deionisasi atau air suling untuk menghilangkan residu sampel. Jika terdapat lapisan minyak atau lemak, rendam ujung elektroda dalam larutan pembersih khusus Hanna Instrument (electrode cleaning solution) selama 15–30 menit. Untuk deposit protein atau organik, gunakan larutan pembersih enzimatik. Hindari menyeka membran kaca sensor dengan tisu atau kain karena dapat menyebabkan goresan dan muatan statis yang mengganggu pembacaan. Setelah pembersihan, bilas kembali dengan air deionisasi dan simpan elektroda dalam larutan penyimpanan (storage solution) agar junction tetap terhidrasi. Jangan pernah menyimpan elektroda dalam keadaan kering.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil pengukuran?

HI99171 memberikan hasil pengukuran pH yang stabil dalam waktu 10–20 detik setelah elektroda dicelupkan ke dalam sampel. Layar LCD menampilkan indikator stabilitas (biasanya berupa ikon jam pasir yang menghilang atau simbol check) yang memberi tahu operator bahwa pembacaan sudah stabil dan siap dicatat. Kecepatan ini sangat krusial dalam aplikasi kontrol klorinasi, di mana keputusan penyesuaian pH perlu diambil segera untuk mencegah aliran air limbah yang tidak terkondisi memasuki bak klorinasi. Dibandingkan dengan metode laboratorium yang membutuhkan waktu 30–60 menit (termasuk transport dan antrian sampel), HI99171 memberikan real-time actionable data yang memungkinkan operator melakukan koreksi proses tanpa jeda berarti.

Rekomendasi pH Meter

References

  1. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. (2016). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik. Jakarta: KLHK.
  2. Metcalf & Eddy. (2014). Wastewater Engineering: Treatment and Resource Recovery. 5th Edition. New York: McGraw-Hill Education.
  3. White, G. C. (2010). White’s Handbook of Chlorination and Alternative Disinfectants. 5th Edition. New Jersey: John Wiley & Sons.
  4. Hanna Instruments. (2023). HI99171 Leather and Paper pH Portable Meter Product Manual. Woonsocket: Hanna Instruments Inc.
  5. US Environmental Protection Agency. (1999). Wastewater Technology Fact Sheet: Chlorine Disinfection. EPA 832-F-99-062. Washington, DC: US EPA Office of Water.
Konsultasi Gratis

Dapatkan harga penawaran khusus dan info lengkap produk alat ukur dan alat uji yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Bergaransi dan Berkualitas. Segera hubungi kami.