Industri alas kaki Indonesia adalah pemain global yang tangguh. Dengan kapasitas produksi mencapai 1 miliar pasang per tahun dan menjadi basis manufaktur untuk 32% produk Adidas serta 27% produk Nike secara global, potensinya tak diragukan lagi [5]. Namun, di balik angka-angka yang mengesankan itu, tantangan mengintai: biaya produksi yang terus meningkat, permintaan global yang fluktuatif, dan persaingan ketat yang menuntut kualitas sempurna. Dalam lanskap yang menantang ini, ada satu faktor kritis yang sering diabaikan namun berdampak luas: kontrol kadar air.
Kadar air yang tidak terkontrol dalam bahan baku dan proses produksi adalah “silent killer” yang diam-diam merusak kualitas, menyebabkan penolakan ekspor, dan membebani biaya. Baik itu kulit yang retak, tekstil yang berjamur, atau lem yang tidak merekat sempurna, akar masalahnya sering kali sama: kelembaban yang tidak terkelola. Artikel ini hadir sebagai panduan teknis praktis bagi pemilik, manajer produksi, dan tim QC/QA di industri alas kaki Indonesia. Kami akan mengintegrasikan standar global seperti SNI, ZDHC, dan Nike Code dengan solusi operasional yang langsung dapat diterapkan—baik untuk skala UMKM maupun pabrik ekspor—untuk menguasai kontrol kadar air demi kualitas yang konsisten, efisiensi biaya, dan daya saing yang berkelanjutan.
- Mengapa Kadar Air Menjadi Kunci Mutu & Daya Saing Alas Kaki?
- Cara Mengukur Kadar Air: Metode & Pemilihan Alat yang Tepat
- Memahami & Memenuhi Standar: SNI, ZDHC, dan Kode Global
- Strategi Kontrol & Efisiensi Air untuk Produsen Indonesia
- Kesimpulan
- Referensi
Mengapa Kadar Air Menjadi Kunci Mutu & Daya Saing Alas Kaki?
Pengukuran dan kontrol kadar air jauh lebih dari sekadar pemeriksaan rutin; ini adalah fondasi strategis untuk menjaga integritas produk dan profitabilitas bisnis. Dalam konteks industri alas kaki, kadar air memengaruhi segala hal mulai dari sifat fisik bahan, kelancaran proses produksi, hingga daya tahan dan kenyamanan produk akhir bagi konsumen. Ketidakterkontrolan parameter ini secara langsung berkontribusi pada pain point utama produsen: penurunan kualitas, pemborosan bahan, dan ketidakmampuan memenuhi standar ketat buyer global.
Dampak pada Material: Dari Kulit Retak Hingga Jamur di Textile
Setiap bahan baku memiliki “zona nyaman” untuk kadar air. Menyimpang dari zona ini memicu rangkaian masalah kualitas. Kulit, sebagai bahan premium, sangat sensitif. Menurut analisis teknis dari publikasi industri, ketika kadar air kulit turun di bawah 8%, material menjadi rapuh dan sangat rentan retak selama proses jahit atau pemakaian [1]. Sebaliknya, kadar air di atas 20% menciptakan lingkungan ideal untuk pertumbuhan mikroba, yang melunakkan serat kulit, menyebabkan peregangan, warping, dan bau tidak sedap [1]. Rentang optimal untuk kulit biasanya berada di kisaran 12-18% [1].
Bahan tekstil untuk lining dan upper juga tak kalah rentan. Kelembaban berlebih (biasanya di atas 10%) memicu pertumbuhan jamur dan bakteri, yang tidak hanya merusak kain tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan dan bau yang dapat menyebabkan penolakan produk. Bahan sol dari karet atau poliuretan juga memerlukan kontrol kelembaban yang tepat selama proses curing untuk mencapai kekerasan dan elastisitas yang diinginkan. Standar Nasional Indonesia SNI 0644 hadir sebagai acuan metodologis untuk pengujian kadar air ini, menegaskan pentingnya pengukuran yang terstandarisasi [2].
Biaya Tersembunyi: Pemborosan Bahan, Produk Ditolak, dan Reputasi
Dampak finansial dari kontrol kadar air yang buruk bersifat multifaset dan signifikan. Pertama, terjadi pemborosan bahan baku. Kulit atau tekstil yang sudah terkontaminasi jamur atau menjadi rapuh harus dibuang, yang merupakan kerugian material langsung. Kedua, produk jadi yang gagal dalam quality control (QC) internal atau—lebih buruk lagi—ditolak oleh buyer karena cacat seperti retak, jamur, atau bau, menambah biaya berupa hilangnya revenue, biaya produksi ulang, dan potensi penalti.
Yang paling mahal adalah dampak jangka panjang terhadap reputasi. Buyer global, terutama yang menerapkan program ketat seperti Nike Code atau ZDHC, mengandalkan konsistensi dan keandalan. Satu kasus penolakan karena masalah kualitas yang sebenarnya dapat dicegah (seperti jamur akibat kelembaban) dapat merusak hubungan bisnis bertahun-tahun dan menutup pintu peluang ekspor di masa depan. Oleh karena itu, investasi dalam kontrol kadar air pada dasarnya adalah investasi dalam perlindungan aset, reputasi, dan akses pasar. Untuk pemahaman mendalam tentang bagaimana kelembaban mempengaruhi material seperti kulit, artikel dari TheFootwearEdge menyajikan analisis teknis yang komprehensif.
Cara Mengukur Kadar Air: Metode & Pemilihan Alat yang Tepat
Setelah memahami “mengapa”, langkah selanjutnya adalah menguasai “bagaimana”. Pemilihan metode dan alat ukur yang tepat sangat bergantung pada jenis bahan, tahap produksi, tingkat akurasi yang dibutuhkan, dan pertimbangan anggaran. Secara umum, ada dua pendekatan utama: metode gravimetri (standar laboratorium) dan penggunaan moisture meter (solusi cepat di lini produksi).
Metode Gravimetri (Oven): Standar Akurat untuk Laboratorium QC
Metode gravimetri adalah cara paling mendasar dan akurat untuk menentukan kadar air, dan sering menjadi acuan dalam standar pengujian seperti SNI 0644 [2]. Prosedurnya melibatkan penimbangan sampel bahan (W1), mengeringkannya dalam oven pada suhu tertentu hingga berat konstan, lalu menimbangnya kembali (W2). Kadar air dihitung dengan rumus: ((W1 – W2) / W2) x 100%.
Kelebihan utama metode ini adalah akurasinya yang tinggi dan biaya peralatan yang relatif rendah (hanya membutuhkan timbangan presisi dan oven). Namun, kekurangannya signifikan untuk operasional sehari-hari: prosesnya destruktif (merusak sampel), memakan waktu (beberapa jam hingga sehari), dan tidak praktis untuk pengujian cepat di gudang atau lini produksi. Metode ini ideal untuk kalibrasi, validasi metode lain, atau pengujian sampel acak di laboratorium QC.
Moisture Meter: Solusi Cepat untuk Kontrol di Lini Produksi
Di sinilah moisture meter berperan sebagai alat andalan untuk kontrol rutin. Alat digital ini memberikan hasil pengukuran dalam hitungan detik (<1 detik untuk model modern) dengan akurasi yang cukup untuk kebutuhan industri, umumnya sekitar ±2%, dan rentang pengukuran yang luas (2-70% untuk berbagai bahan). Terdapat dua tipe utama:
Untuk kebutuhan moisture meter, berikut produk yang direkomendasikan:
-

Absolute Moisture Meter PCE-MA 100
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kelembaban Tanah AMTAST PMS710
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Biji-bijian AMTAST TK25G
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Bijian AMTAST JV001S
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Halogen Amtast MB82
Lihat produk★★★★★ -

Building Moisture Meter PCE-WP24
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air AMTAST MS350
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Kayu AMTAST MD816
Lihat produk★★★★★
- Pin-Type (Destruktif): Menggunakan dua atau lebih jarum logam yang ditusukkan ke dalam material untuk mengukur konduktivitas/resistansi listrik yang berkorelasi dengan kadar air. Akurat untuk titik pengukuran tertentu, tetapi dapat meninggalkan bekas lubang kecil pada permukaan bahan, sehingga kurang cocok untuk bahan finishing atau produk jadi.
- Pinless/Non-Destructive (NDT): Menggunakan teknologi induksi elektromagnetik atau kapasitansi untuk memindai area di bawah permukaan tanpa merusak. Alat jenis ini sangat cepat, dapat memindai area yang lebih luas, dan ideal untuk bahan sensitif seperti kulit finish, tekstil, atau produk jadi. Beberapa model memiliki kedalaman penetrasi hingga 50 mm.
Rekomendasi pemilihan:
- Untuk bahan baku kulit & tekstil di gudang: Moisture meter pinless cocok untuk inspeksi cepat tanpa merusak.
- Untuk QC in-process (misal, sebelum perekatan): Pin-type dapat memberikan pembacaan yang sangat akurat pada lapisan tertentu.
- Untuk skala UMKM: Moisture meter digital serbaguna (pin-type atau pinless) dengan kalibrasi untuk material umum sudah memadai.
- Untuk pabrik besar/Eksportir: Kombinasi antara moisture meter NDT untuk pemeriksaan cepat dan metode gravimetri laboratorium untuk validasi periodik.
Panduan lebih rinci tentang pemilihan dan penggunaan moisture meter dalam konteks industri alas kaki dapat ditemukan dalam artikel teknis dari TheFootwearEdge.
Memahami & Memenuhi Standar: SNI, ZDHC, dan Kode Global
Bagi produsen yang ingin naik kelas, terutama menuju pasar ekspor, pemahaman terhadap standar dan regulasi adalah keharusan. Kontrol kadar air bukan hanya tentang kualitas produk, tetapi juga tentang keberlanjutan lingkungan dan kepatuhan terhadap kode etik brand global.
SNI 0644: Standar Pengujian Kadar Air Lokal
Standar Nasional Indonesia (SNI) 0644, yang dikembangkan oleh Badan Standardisasi Nasional (BSN), menetapkan metode uji kadar air untuk alas kaki [2]. Standar ini berfungsi sebagai fondasi minimum untuk memastikan konsistensi dan kualitas produk di pasar domestik. Penerapannya menunjukkan komitmen produsen terhadap prinsip pengujian yang terstandarisasi dan dapat menjadi batu loncatan awal sebelum mengadopsi standar internasional yang lebih kompleks. Memiliki prosedur QC yang mengacu pada SNI 0644 merupakan langkah awal membangun sistem manajemen kualitas yang kredibel.
ZDHC & Nike Code: Pintu Gerbang Ekspor ke Pasar Global
Untuk menjadi supplier brand global seperti Nike, Adidas, atau lainnya, produsen harus memenuhi kerangka standar yang lebih ketat. Dua yang paling kritis adalah:
- Zero Discharge of Hazardous Chemicals (ZDHC): Ini adalah program global yang diikuti oleh lebih dari 320 kontributor dari industri tekstil, apparel, dan alas kaki [4]. ZDHC tidak hanya fokus pada bahan kimia berbahaya tetapi juga pada pengelolaan air limbah. Program ini mendorong praktik manufaktur yang meminimalkan dampak lingkungan, di mana kontrol terhadap kualitas air proses dan limbah—yang sangat dipengaruhi oleh kandungan kimia dan padatan terlarut—menjadi bagian penting. Kepatuhan terhadap ZDHC Manufacturing Restricted Substances List (MRSL) sering menjadi prasyarat untuk menjalin kemitraan.
- Nike Code Leadership Standards: Sebagai brand yang sebagian besar produknya diproduksi di Indonesia, standar Nike sangat relevan. Dokumen resmi Nike Code Leadership Standards 2025 dengan jelas menyatakan bahwa fasilitas manufaktur harus “meminimalkan penarikan air bersih dan mengelola air limbah secara bertanggung jawab untuk melindungi ekosistem, mematuhi hukum dan peraturan setempat, serta mendukung fokus Nike pada konservasi alam” [3]. Standar ini juga mengacu pada efisiensi air, dengan patokan kebutuhan sekitar 5 liter air per pasang sepatu. Kontrol kadar air dalam bahan dan proses secara langsung berkontribusi pada pencapaian tujuan efisiensi dan pengelolaan limbah ini. Informasi lebih luas tentang komitmen berkelanjutan Nike tersedia di halaman Sustainability Policies mereka.
Memahami dan mengintegrasikan persyaratan dari standar-stanrdar ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga akses ke pasar ekspor bernilai tinggi dan meningkatkan daya saing Indonesia sebagai basis manufaktur alas kaki berkualitas global. Penjelasan mendalam tentang program ZDHC dapat dibaca dalam artikel dari Enviropass, konsultan spesialis kepatuhan lingkungan.
Strategi Kontrol & Efisiensi Air untuk Produsen Indonesia
Pengetahuan tentang standar dan alat ukur harus diterjemahkan ke dalam sistem operasional yang berjalan efektif. Berikut adalah strategi praktis untuk membangun kontrol kadar air dan efisiensi penggunaan air di fasilitas produksi.
Membangun Sistem Kontrol: Dari Gudang Baku Hingga Packaging
Langkah paling efektif adalah menerapkan titik pemeriksaan (checkpoint) di seluruh rantai nilai:
- Penerimaan Bahan Baku: Lakukan pengukuran kadar air sampel dari setiap kiriman kulit, tekstil, atau bahan lain sebelum diterima. Tolak kiriman yang berada di luar rentang spesifikasi yang disepakati.
- Penyimpanan: Kelola kondisi gudang penyimpanan bahan baku. Gunakan hygrometer untuk memantau kelembaban relatif (RH) dan suhu ruangan. Idealnya, RH dijaga antara 45-55% untuk mencegah penyerapan atau pelepasan kelembaban berlebih oleh bahan. Bahan harus disimpan di rak, tidak langsung menyentuh lantai.
- Proses Produksi: Pantau bahan setelah proses yang melibatkan air, seperti pencucian atau pewarnaan. Pastikan bahan telah mencapai kadar air yang aman sebelum masuk ke tahap perekatan atau penjahitan, karena kelembaban berlebih dapat merusak daya rekat lem.
- Penyimpanan Produk Jadi: Area penyimpanan sepatu jadi juga harus terkontrol kelembaban dan suhunya untuk mencegah pertumbuhan jamur selama menunggu pengiriman, terutama di iklim tropis Indonesia.
Berinovasi dengan Teknologi: Efisiensi Air & Bahan Ramah Lingkungan
Di luar kontrol, strategi proaktif dengan mengadopsi teknologi dapat menghasilkan efisiensi jangka panjang:
- Teknologi Poliuretan Berbasis Air (Water-based PU): Beralih dari pelarut berbasis organik (solvent-based) ke poliuretan berbasis air untuk bahan perekat atau coating secara signifikan mengurangi emisi Volatile Organic Compounds (VOC) dan mempermudah kontrol terhadap penguapan pelarut. Teknologi ini juga selaras dengan tuntutan program ZDHC. Contoh penerapannya dalam industri olahraga diulas oleh Henkel dalam artikel tentang teknologi poliuretan berbasis air untuk keberlanjutan industri alas kaki.
- Sistem Daur Ulang Air Proses: Investasi dalam sistem treatmen dan daur ulang air untuk proses pencucian atau cooling dapat secara drastis mengurangi konsumsi air bersih dan biaya utilitas, sekaligus membantu memenuhi standar efisiensi air dari Nike Code.
- Otomasi Pengukuran: Untuk pabrik berskala besar, integrasi sensor kelembaban inline dalam proses tertentu dapat memberikan data real-time dan konsistensi yang lebih baik dibandingkan pengukuran manual.
Dengan membangun sistem dan berinovasi, kontrol kadar air berubah dari beban biaya menjadi sumber penghematan dan diferensiasi kompetitif.
Kesimpulan
Pengukuran dan kontrol kadar air dalam produksi alas kaki terbukti bukan sekadar item dalam checklist quality control, melainkan strategi bisnis yang mendasar. Ini adalah investasi yang langsung melindungi kualitas bahan baku, mencegah cacat produk yang mahal, memastikan kepatuhan terhadap standar ekspor yang ketat seperti SNI, ZDHC, dan Nike Code, dan pada akhirnya, menjaga profitabilitas serta reputasi produsen Indonesia di kancah global. Dengan menguasai metode pengukuran yang tepat, memahami lanskap regulasi, dan menerapkan sistem kontrol yang robust, industri alas kaki nasional dapat mengubah tantangan kelembaban menjadi pilar kekuatan untuk daya saing yang berkelanjutan.
Call to Action: Lakukan audit sederhana terhadap proses kontrol kelembaban di fasilitas Anda hari ini. Identifikasi satu titik kritis dalam rantai pasok—misalnya, area penerimaan kulit atau ruang penyimpanan produk jadi—di mana pengukuran kadar air dapat segera diimplementasikan atau ditingkatkan akurasinya. Mulailah dengan satu langkah kecil untuk membangun fondasi kualitas yang lebih tangguh.
Sebagai mitra bagi industri dan bisnis di Indonesia, CV. Java Multi Mandiri berkomitmen untuk mendukung operasional perusahaan yang efisien dan berkualitas. Kami menyediakan berbagai peralatan ukur dan uji yang dapat menjadi bagian dari solusi kontrol kualitas di fasilitas produksi Anda. Untuk mendiskusikan kebutuhan spesifik perusahaan Anda terkait alat ukur kadar air atau peralatan pendukung lainnya, silakan hubungi tim kami melalui halaman konsultasi solusi bisnis.
Disclaimer: Artikel ini dimaksudkan untuk tujuan informasi dan tidak menggantikan saran profesional untuk operasi spesifik pabrik. Produsen harus berkonsultasi dengan ahli kualitas atau lembaga sertifikasi untuk penerapan standar.
Rekomendasi Moisture Meter
-

Absolute Moisture Meter PCE-MA 100
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kelembaban Tanah AMTAST PMS710
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Biji-bijian AMTAST TK25G
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Bijian AMTAST JV001S
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Halogen Amtast MB82
Lihat produk★★★★★ -

Building Moisture Meter PCE-WP24
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air AMTAST MS350
Lihat produk★★★★★ -

Alat Ukur Kadar Air Kayu AMTAST MD816
Lihat produk★★★★★
Referensi
- TheFootwearEdge. (2025). Moisture Meters in the Footwear Industry: Essential Guardians Against Mold, Cracking, and Quality Loss. TheFootwearEdge. Retrieved from https://thefootwearedge.com/moisture-meters-in-the-footwear-industry/
- Badan Standardisasi Nasional (BSN). (N.D.). SNI 0644: Standar Pengujian Kadar Air untuk Alas Kaki.
- Nike, Inc. (2025). Nike Code Leadership Standards 2025. Retrieved from https://media.about.nike.com/files/c0ab46f7-fafb-4fd3-b755-486349c3051d/Nike-Inc.-Code-Leadership-Standards-2025—English.pdf
- Enviropass. (2025). Unveiling ZDHC: Why It Matters for a Sustainable Future. Retrieved from https://getenviropass.com/zdhc/
- Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) & Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. (2025). Data Statistik dan Outlook Industri Alas Kaki Indonesia.
- World Footwear Business Condition Survey. (2025). Analysis of Global Footwear Production Trends.





